Bakrie Sumatera Bubarkan Usahanya di Singapura

Jumat, 12/10/2012

NERACA

Jakarta - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membubarkan International Rubber Investment Pte. Ltd (IRI), anak usahanya yang berdomisili di Singapura. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, kemarin.

Sekretaris Perusahaan UNSP, Fitri Barnas mengatakan, dikarenakan satu dan lain hal rencana transaksi dimaksud tidak dilanjutkan dan oleh karenanya perlu dilakukan pembubaran. Dia juga menambahkan, pembubaran tersebut dilakukan sejak 27 September 2012. Hal ini diberitahukan setelah mendapatkan konfirmasi dari agent Corporate Secretary yang menangani IRI di Singapura.

IRI sendiri didirikan sebagai suatu special purpose vehicle untuk suatu rencana transaksi tertentu yang pendiriannya telah disampaikan melalui surat keterbukaan perseroan pada 15 September 2008 No 070/CS-BSP/Bapepam/2008.

Sebagai informasi, sepanjang semester I-2012 PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk mencatatkan penurunan penjualan lebih dari 10%. Direktur Utama UNSP, Bambang Arya Wisena mengatakan, terjadinya penurunan harga yang signifikan secara otomatis menurunkan penjualan dan tentunya akan mengurangi laba perseroan. “Karena itu di tahun ini akan dijadikan perseroan sebagai tahun konsolidasi atau penambahan lahan baru sampai dengan akhir tahun ini,”ujarnya.

Penambahan lahan baru, lanjut dia, rencananya baru akan dilakukan tahun depan. Menurut Bambang, saat ini perseroan baru melakukan replanting. Selain itu perseroan juga berencana untuk membangun pabrik karet di tempat tersebut. “Penambahan lahan baru untuk tahun depan sekitar 500 hektar di Sumatera Selatan,” ujarnya.

Meskipun demikian, pihaknya saat ini menjadi lebih berhati-hati karena adanya rencana beberapa negara asia untuk mengurangi volume ekspor, di mana hal itu merupakan salah satu hasil dari pertemuan 3 negara penghasil karet alam terbesar di dunia, yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Ketiga negara sepakat akan mengurangi ekspor karet sebanyak 300 ribu ton dan melakukan peremajaan tanaman karet di masing-masing negara. Hal tersebut diklaim untuk mengatasi harga karet alam yang terus mengalami penurunan belakangan ini. (bani)