Sepakati Harga Kontrak Baru, Kinerja PGN Makin "Ngegas"

PT Perusahaan Gas Negara Tbk

Jumat, 12/10/2012

NERACA

Jakarta – Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) makin ngegas kencang setelah berhasil mengamankan kontrak penjualan gas ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan margin harga US$3,4 per mmbtu, di atas konsensus US$2,5 per mmbtu. Alhasil, harga saham perusahaan plat merah terus merangkak naik menjadi 4.000 lebih per lembar sahamnya.

Terkait hal ini, analis CLSA Jayden Vantarakis pun menaikkan target harga saham PGAS menjadi Rp4900 per lembar dan merekomendasikan overweight untuk PGAS. Seperti diketahui, PLN bersedia membayar LNG yang disalurkan PGAS hingga harga US$14 per mmbtu, pembelian gas oleh PLN mendistribusi hingga 40% dari total volume penjualan gas PGAS.

Meskipun kecenderungan harga gas turun dalam 10 tahun ke depan, namun dengan margin harga yang didapat dari kontrak dengan PLN, margin ASP PGAS masih bisa bertahan di atas US$4 per mmbtu. Selama 2011-2012, valuasi harga saham PGAS tertahan oleh masalah pricing kontrak dengan PLN. Kini dengan mengantongi margin harga yang relatif tinggi dalam kesepakatan pembelian gas oleh PLN, PGAS kini menjadi pilihan saham yang defensif, dengan kondisi kas sangat solid mencapai US$1,8 miliar.

Asal tahu saja, bulan September lalu dalam sepekan harga PGAS berada di level 4.000-an dan rekomendasi beli pun semakin kencang. Kala itu tarik ulur haga jual gas antara kalangan pengusaha dan pemerintah (sebagai pemilik PT Perusahaan Gas Negara), masih berlangsung ketat. Kendati pihak PGN sudah mengalah dengan memberlakukan harga baru pada awal 2013 secara bertahap. Namun hiruk-pikuk itu takmembuat sahamnya menjadi oleng.

Bahkan sebaliknya, terus menunjukkan penguatan seiring sentimen poisitif yang bertiup di dalam dan luar negeri. Jika dihitung sejak awal September, harga saham ini telah menguat Rp 450 atau sekitar 12,16%.

Semangat investor untuk mengoleksi saham ini semakin membesar tatkala manajemen mengumumkan sejumlak aksi korporasi yang akan ditempuh. Salah satunya adalah rencana mengakuisisi dua blok migas di dalam dan luar negeri senilai Rp 5 triliun. Jika jadi, pengambil-alihan dua lapangan tersebut akan dibiayai oleh dana sendiri. Asal tahu saja, kas perseroan per Juli lalu masih cukup gemuk dengan likuiditas senilai Rp 11 triliun.

Realisasi Laba Bersih

Tapi yang tak kalah menariknya adalah pernyataan manajemen tentang target laba yang diraih. Semula, untuk tahun ini, perseroan memasang target peningkatan laba sebesar 10% menjadi Rp 6,72 triliun. Namun setelah melihat kondisi perekonomian yang mendukung, angka itu dinaikan menjadi Rp 7,1 triliun.

Sepanjang semester pertama, PGAS berhasil mencatatkan laba bersih US$ 423,27 juta tau sekitar Rp 4 triliun (dengan kurs Rp 9.500.) Makanya tidak aneh jika sahamnya tetap mendapatkan rekomendasi beli. Sejumlah analis memasang target untuk PGAS di level Rp 4.650 – Rp 4.700.

Sementara untuk realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 30% pada semester pertama 2012."Realisasi capex semester Pertama 2012 ini memang masih di bawah target. Tapi nanti karena ada fase di mana percepatan itu akan dilakukan di Semester Kedua," kata Direktur Teknik dan Pengembangan PGN Djoko Saputro.

Dia pernah bilang, di awal-awal, progres memang masih lambat. Tapi, memasuki semester dua diperkirakan ada percepatan. Seperti pembangunan terminal gas ring pipe I yang menghubungkan Grissik-Muara Karang, Grissik-Muara Bekasi.

Selain proyek penampungan dan regasifikasi terapung (floating storage and regasification unit/FSRU) di Lampung yang diperkirakan akan mulai beroperasi 2014, dan juga distribusi Batam. "Ada juga beberapa lokasi yang akan kita bangun lagi," ungkapnya.

Tambah Distribusi Jaringan

Kata Djoko, perseroan sudah mempunyai program untuk pengembangan infrastruktur yang didasarkan pada master plan. Apalagi pihaknya sudah berkomitmen, mulai 2012 ini akan mengembangkan infrastruktur di Sumatera, Jawa, dan Bali. “Kita sudah mempunyai jaringan yang ekstensif di Sumatera, ada dari Grissik ke Duri dan Grissik-Batam-Singap