Industri Kemasan Diminta Antisipasi Aturan Daur Ulang Plastik

Buat Produk Ramah Lingkungan

Jumat, 12/10/2012

NERACA

Jakarta – Pelaku usaha industri kemasan diminta membuat produk ramah lingkungan untuk mengantisipasi keluarnya peraturan pemerintah mengenai plastik daur ulang. “Saat ini, rancangan peraturan pemerintah (RPP) mengenai sampah masih dalam pembahasan ulang dan menjadi masalah bagi pelaku usaha. Pasalnya, RPP tersebut nantinya akan mengatur produsen kemasan yang tidak bisa memenuhi ketentuan memproduksi plastik daur ulang harus menarik sendiri sampah-sampah plastik yang beredar atau menggunakan jasa pihak ketiga,” kata Direktur Pengembangan Bisnis Federasi Pengemasan Indonesia, Ariana Susanti, pada acara konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/10).

Pelaku usaha kemasan, menurut Ariana, sangat peduli terhadap produk-produk kantong plastik yang dihasilkan. “Saat ini, produsen kemasan plastik telah menggunakan teknologi green packaging. Produk tersebut bisa didaur ulang dan sesuai dengan aturan yang akan ditetapkan pemerintah,” paparnya.

Beberapa perusahaan air minum, lanjut Ariana, telah menghasilkan produk daur ulang. “Aqua Danone sudah menerapkan green packaging dengan meluncurkan Aqua bio plastic dan PT Tirta Mas yang memproduksi evoplasma telah memakai teknologi tersebut,” ujarnya.

Ariana menyebutkan bahwa selama RPP sampah masih dalam tahap pembahasan, pelaku usaha kemasan akan beralih ke produk ramah lingkungan dan mudah didaur ulang. “Selama RPP sampah masih diperdebatkan, green packaging merupakan solusi yang tepat bagi industri kemasan. Pelaku industri akan menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan mudah didaur ulang,” tandasnya.

Omzet Tumbuh

Omzet industri kemasan di dalam negeri diprediksi terus tumbuh positif tahun ini. Dasar keyakinan pada pelaku industri adalah masih tumbuhnya industri consumer goods di dalam negeri. Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IDF) Henky Wibawa mengatakan pada tahun ini, omzet indsutri pengemasan di dalam negeri berpotensi tumbuh 8% hingga 9% dari omzet pada tahun lalu. Pada tahun lalu, omzet indsutri pengemasan di dalam negeri mencapai Rp 41,7 triliun. Maka pada tahun ini omzet industri pengemasan diprediksi akan mencapai Rp 45 triliun hingga Rp 46 triliun.

Hingga kuartal ketiga sendiri, Henky memprediksi omzet industri pengemasan sudah tumbuh sesuai target yaitu sebesar 8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari Januari hingga September tahun ini, omzet industri pengemasan dinilai sudah mencapai Rp 33 triliun. "Saya lihat secara year on year masih berjalan sesuai target di kisaran 8%," kata dia.

Meski pada kuartal ketiga ini ada sedikit penurunan omzet ketimbang kuartal kedua, hal ini dinilai wajar olehnya. Pasalnya pada kuartal kedua permintaan kemasan meningkat didorong oleh permintaan produk consumer goods pada saat bulan Ramadhan dan lebaran.

Omzet industri kemasan di Indonesia saat ini masih ditopang penjualan produk plastik dan kertas. Bila dilihat dari industri pengguna kemasan, industri makanan minuman masih jadi pengguna yang paling dominan. Kemasan plastik, baik feksibel maupun rigid memberi kontribusi sekitar 50% bagi total omzet industri kemasan di dalam negeri. Sementara kemasan dari kertas berada di posisi kedua dengan konribusi di kisaran 40%. "Kemasan dari kaleng masih terbilang kecil dengan kontribusi baru 10%," ujar dia.

Makin berkembangya indsutri consumer goods juga membuka peluang bagi PT Alkindo Naratama tbk. untuk memperbesar segmen penjualannya. Saat ini, mayoritas klien perusahaan masih didominasi oleh pelaku indsutri tekstil.

Direktur Alkindo, Erik Sutanto mengatakan dari produksi perusahaan saat ini sekitar 36.000 ton per tahun sekitar 70% masih disupply untuk indsutri tekstil. Namun untuk mengembangkan pasar juga bukan perkara mudah di indsutri pengemasan. Pasalnya bentuk kemasan sangat menentukan pilihan konsumen untuk memilih produk sehingga dibutuhkan biaya riset and development (RnD) yang tidak kecil.

Bagi Alkindo sendiri, biaya yang disiapkan untuk RnD mencapai sekitar 35% dari total biaya opeasional. "Riset harus dilakukan berkesinambungan karena tren kemasan juga sering berubah," kata Erik.

Dari total produksi perusahaan, sekitar 90% di antaranya dipasarkan dari dalam negeri. Perusahaaan yang fokus pada kemasan kertas ini memproduksi papertube dengan kontribusi 80% pada pendapatan. Lalu papercore 8%, serta honeycomb sebesar 12%. "Kami yang pertama memproduksi honeycomb di Indonesia," katanya.

Henky menambahkan industri pengemasan, terutama yang berbahan plastik masih mengalami kekurangan bahan baku yang cukup besar di dalam negeri. Untuk nafta misalnya indsutri plastik hulu harus mengimpor sekitar 1,6 juta ton per tahun. Lalu sebesar 33 juta barel kondensat juga harus didatangkan dari luar negeri tiap tahunnya.

Menurt Henky untuk mendorong industri plastik hulu dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Sayangnya fasilitas yang ditawarkan pemerintah seperti tax holiday belum menunjukkan hasil yang cukup baik. "Di hulu itu investasi harus besar sementara tak bisa bergantung dari pemerintah. Sementara tax holiday memang menarik namun proses dan syaratnya juga kan tidak mudah," kata Henky.

Namun ia berpendapat pemerintah tetap harus mendukung perkembangan indsutri hulu petrokimia agar importasi bahan baku plastik tidak terus bertambah besar. Menarik investasi untuk pembangunan kilang refenery dan menahan ekspor bahan baku dalam bentuk mentah jadi salah satu cara yang dinilai akan mendorong struktur industri petrokimia nasional.