Indonesia-Taiwan Perkuat Kerjasama dan Investasi

Hubungan Ekonomi Bilateral

Jumat, 12/10/2012

NERACA

Jakarta – One China Policy atau Kebijakan Satu China secara de jure, Indonesia hanya menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat China (RRC). Walau tidak memiliki hubungan diplomatik secara khusus dengan Indonesia, Pemerintah Taiwan tetap bergeliat dalam meningkatkan kerjasama dan investasi, karena jumlah penduduk yang besar dan tingkat pertumbuhan tetap tinggi. Selain itu, ketertarikan ini didasari pada potensi yang ada di masing-masing pihak yang ingin disinergiskan di masa depan.

Mesikpun masih banyak hambatan yang harus dihadapi investor Taiwan, yaitu menyangkut infrastruktur, pasokan listrik tidak stabil dan sektor transportasi pun sangat problematis. Masalah lain adalah aturan hukum dan korupsi. Bagi para pebisnis Taiwan, terutama dari sektor usaha kecil dan menengah, mungkin ada beberapa yang bisa bertahan. Namun, bila masalah-masalah itu bisa segera diperbaiki, maka akan banyak lagi investor yang datang ke Indonesia untuk berbisnis.

Taiwan menawarkan berbagai bentuk investasi dan kerjasama dalam beberapa sektor mulai dari pendidikan, pariwisata, industri, teknologi, pertanian, perikanan dan penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI), Sementara, Indonesia merupakan salah satu penyedia kebutuhan minyak, gas dan batubara untuk Taiwan. Kepala Perwakilan Taiwan Economic Trade Office (TETO) di Jakarta Andrew Hsia mengatakan, dalam dua tahun terakhir hubungan Indonesia dengan Taiwan mengalami peningkatan dan kemajuan dibanding tahun-tahun sebelumnya, khususnya terkait penempatan TKI dinegaranya.

“Hingga Juli 2012 keberadaan TKI di Taiwan sebanyak kurang lebih 186.000 orang. Dari jumlah TKI tersebut diketahui remitansi TKI sebesar US$450 juta,” ujarnya pada perayaan hari ulang tahun ke-101 Republik China (Taiwan), Rabu malam (10/10). Pada 2011, perwakilan TETO di Jakarta telah menerbitkan Visa untuk TKI sebanyak 25.000. Jadi hampir setiap hari ada sekitar 320 dokumen untuk TKI yang diurus Perwakilan TETO di Jakarta.

Hubungan Timbal balik

Pemerintah Taiwan memberikan perhatian cukup terhadap TKI yang bekerja di negaranya. Berikut terus mengupayakan TKI yang bekerja di negaranya bisa nyaman dan gembira, sehingga ketika mereka pulang ke Indonesia karena sudah habis kontrak kerja nantinya bisa sukses. Andrew Hsia mengungkapkan bahwa Taiwan dan Indonesia sudah merintis hubungan yang ditunjukkan dengan banyaknya pekerja dan pelajar Indonesia yang kini berjumlah 3.000 mahasiswa di Taiwan serta penerbangan Jakarta-Taipei PP oleh maskapai Garuda Indonesia.

"Tantangan terbesar adalah kurangnya pemahaman kedua pihak mengenai kondisi masing-masing. Untuk langkah kedepannya, Taiwan ingin memperluas kerjasama hingga menjadi sebuah kemitraan yang memiliki hubungan timbal balik,” terangnya. Taiwan adalah investor terbesar ke-9 di Indonesia dengan area investasi meliputi perangkat teknologi informasi, komponen otomotif, sepatu dan tekstil, yang akan membuka jutaan lapangan kerja baru.

Perdagangan dua arah Taiwan-Indonesia mencapai US$12,2 miliar, misi perdagangan Taiwan di Indonesia bertujuan untuk membagikan keunggulan dalam bidang inovasi dan menggabungkan prospek perekonomian di Indonesia. Inovasi produk Taiwan telah meraih pengakuan dunia dan Taiwan menduduki posisi ke-9 di bidang inovasi itu.

Tak hanya itu, khusus kerjasama di bidang pertanian, Taiwan memiliki misi teknik di Bogor dan Bali. Dibantu dengan teknologi modern Taiwan, berharap dunia pertanian Indonesia pun lebih maju. Melalui misi teknik ini, Taiwan ingin mempromosikan bahwa Taiwan memiliki produk makanan berkualitas. Masyarakat Indonesia akan sangat aman membeli produk-produk asli Taiwan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Dengan kondisi seperti itu, secara prinsip kerjasama Indonesia-Taiwan di bidang ekonomi dan perdagangan serta pendidikan tidak akan terpengaruh oleh persoalan politik yang ada. Kongkritnya, One China Policy tidak menjadi kendala bagi pengembangan kerjasama perekonomian dan perdagangan Indonesia dan Taiwan.