Indo Premier Tingkatkan Nasabah Dengan Produk ETF

BEI Rilis IDX30

Kamis, 11/10/2012

NERACA

Jakarta – Banyaknya indeks saham yang menjadi acuan para investor, makin membuat memberikan alternatif para pelaku pasar untuk menempatkan dananya di pasar modal. Terlebih, ditengah kondisi pasar yang sangat fluktuatif, sebagian investor memilih untuk wait and see untuk berinvestasi.

Maka untuk itu mensiasatinya, banyak manajer investasi meluncurkan suatu produk maupun sistem baru yang diharapkan bisa menarik para pelaku pasar. Diantaranya, PT Indo Premier Investment Management (IPIM), perusahaan manajer investasi memilih untuk menggunakan indeks IDX30 sebagai basis acuan produk ETF (Exchange Traded Fund) IPIM yang baru. “Kami akan menggunakan kumpulan saham yang masuk di dalam daftar indeks IDEX 30 sebagai basis dari ETF kami”kata Presiden Direktur IPIM, John D. Item, di Jakarta, Rabu (10/10).

Dengan diterbitkannya reksa dana ETF IDX30, pihaknya menargetkan dana kelolaan hingga Rp150 miliar dalam kurun waktu 1 tahun setelah diluncurkan. Reksa dana ETF menurut dia merupakan produk ETF kedua setelah perseroan meluncurkan lagi ETF LQ-45 pada pada 2011.

John mengatakan tujuan perusahaan mengeluarkan reksa dana ETF dikarenakan peluang instrumen investasi pada produk tersebut masih terbuka lebar dan IDX 30, lanjut dia dinilai lebih kualitatif. Karena pemilihan saham dilakukan dengan kriteria yang relatif lebih likuid. “Melalui produk premier ETF IDX30, investor akan mendapatkan saham unggulan hanya dengan satu klik. Dengan demikian, investor dapat merealisasikan secara cepat keuntungan atau menghindari kerugian saat pasar saham mengalami kenaikan atau penurunan secara signifikan.” jelasnya.

Sementara, untuk imbal hasil dari reksa dana ETF, lanjut John terbilang cukup baik bahkan lebih tinggi dibandingkan indeks LQ-45 yang sempat memiliki return 26,9%. “Produk ETF ini bagus dan lebih efisien daripada reksa dana biasa, resiko lebih rendah dan lebih transparan karena dapat diperdagangkan di bursa setiap saat pada jam bursa seperti saham.” ujarnya.

Belum Populer

Direktur Pengembangan BEI Friderica Widyasari Dewi menjelaskan, dari 45 saham yang termasuk dalam kategori indeks LQ-45 tersebut akan dicari 30 saham yang paling likuid. Adapun ketika 30 saham ini diambil maka daftarnya relatif stabil. Hal itu dilihat dari market capital, fundamental dan likuiditas dari saham tersebut.

Untuk ETF sendiri, lanjut Friderica, telah diluncurkan pada tahun 2007, meskipun demikian nilai aktiva bersih (NAB) dari seluruh produk tersebut masih jauh di bawah NAB reksa dana. Dari data BEI per awal Maret 2012, Nilai Aktiva Bersih (NAB) seluruh produk ETF sekitar Rp500 miliar. Jumlah tersebut masih jauh di bawah NAB reksa dana terproteksi sebesar Rp41 triliun, namun masih berpotensi terus meningkat seiring perkembangan ETF di pasar modal.

Menurut Friderica, produk baru membutuhkan waktu lama untuk bisa dikenal dan agar para investor juga mengenalnya. Pasalnya, bagi investor ritel, pergerakan ETF itu kurang populer dibandingkan dengan saham. Sementara apabila dilihat dari faktor resiko, aman, investor cenderung memilih investasi diobligasi atau deposito.

Hal ini tentu tidak jauh berbeda saat perseroan mengeluarkan produk Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) pada 2009 lalu, di mana produk tersebut masih belum terlalu populer bagi pelaku pasar. Meskipun pada saat peluncuran produk KIK-EBA tersebut sudah dibantu oleh Bapepam-LK baik dari segi teknis maupun sosialisasi. Untuk itu, peran fund manager penerbit ETF melakukan sosialisasi kepada investor menjadi mutlak. Selain sosialisasi, hal lain yang bisa dilakukan adalah menawarkan ETF ke dana pensiun dan asuransi. (lia)