Indeks Saham vs Sektor Riil

Kamis, 11/10/2012

Jika kita memperhatikan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia belakangan ini terlihat kecenderungan terus meningkat, bahkan sempat berhasil mencapai level 4.300. Namun apa artinya angka indeks tersebut dan apa manfaat positif bagi perekonomian nasional?

Salah satu faktor yang mempengaruhi kemujuran indeks saham kita adalah faktor eksternal, yaitu keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang tetap komit memborong obligasi dari sejumlah negara yang terserang krisis di kawasan Eropa.

Makna positif lainnya, adalah masuknya aliran modal asing ke Indonesia juga turut andil mengatrol kenaikan indeks tersebut. Apalagi emten yang mengalami penguatan nilai saham pasti menikmati tambahan modal yang memberi kesempatan bagi korporasi untuk memperluas pengeluaran modal untuk kepentingan ekspansi bisnisnya.

Kita perlu memberikan apresiasi kepada otoritas moneter di negeri ini yang sejauh ini mampu menjaga kondisi makro ekonomi yang memperkuat faktor fundamental ekonomi Indonesia. Lihat saja pertumbuhan tetap bertahan rata-rata di atas 6%, inflasi dijaga di bawah 5% dan rasio utang negara sekitar 25% dari produk domestik bruto (PDB).

Hanya persoalannya, masih terbukanya peluang terjadinya instabilitas ekonomi. Pasalnya, neraca pembayaran Indonesia (NPI) berpotensi mengalami pelemahan. Karena bila sampai terjadi defisit pada akhir 2012, ini akan sangat berbahaya bagi persepsi investor terhadap perekonomian Indonesia.

Dari sisi neraca perdagangan, memang sudah terjadi perbaikan, kendati belum teruji tingkat keberlangsungannya hingga kapan tentu dapat menjadi “bom waktu”. Nilai ekspor Agustus mencapai US$14,12 miliar atau mengalami penurunan sebesar 12,27% dibandingkan dengan bulan sebelumnya merupakan pertanda patut diwaspadai semua pihak.

Apabila dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year), penurunan lebih drastis lagi, yaitu mencapai 24%. Ini disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas terbesar Agustus 2012 terjadi pada lemak dan minyak nabati sebesar US$666,3 juta.

Dari sisi impor, pada Agustus memang terjadi perlambatan cukup berarti dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sekitar 15,21%. Tapi jika dibandingkan Agustus tahun lalu, tetap terjadi kenaikan 10,28%. Ini mengambarkan laju impor tetap berada dalam tren meningkat, sementara ekspor terus merosot. Artinya ke depan, risiko terjadinya defisit neraca perdagangan sangat muncul terjadi. Walau defisit neraca perdagangan masih dapat tertutup oleh neraca jasa, hal ini ini tetap membuat transaksi berjalan tetap positif. Kalaupun transaksi berjalan (current account) defisit, neraca modal yang komponennya dari asing baik lewat pasar portofolio dan investasi lansung asing (FDI) tetap tinggi.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap pasar Indonesia? Dalam kondisi di mana pasar bergerak cepat dengan tingkat volatilitas tinggi, pasar negara berkembang pun tidak banyak menikmati aliran modal asing tersebut. Justeru, akan meningkatkan risiko yang lebih besar, karena volatilitas pasar modal biasanya terkait dengan fluktuasi nilai tukar mata uang.

Alhasil, meningkatnya IHSG pada level tertinggi dalam sejarah itu menyisakan sebuah pertanyaan kunci. Mungkinkah kenaikan tersebut memberi dampak positif bagi sektor riil kita,atau justeru meningkatkan volatilitas pasar yang dapat mengganggu nilai tukar? Ini semua sangat tergantung kepiawian bagaimana kita mengelola arus modal di tengah pasar portofolio secara baik dan benar.