Harga Jual Gas Naik, Medco Tetap Jual Ke Perusda NSP

NERACA

Jakarta – Penjualan gas PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) tidak hanya terbatas pada perusahan listrik negara (PLN), tetapi perseroan juga menjual gas ke Perusahaan Daerah Nusa Serambi Persada (Perusda NSP).

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (10/10). Disebutkan, penjualan dilakukan melalui anak perusahaannya PT Medco E&P Indonesia (Medco E&P) dan PT Medco E&P Simenggaris. Keduanya melakukan penandatangan perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan Joint Operating Body (JOB) Pertamina, Perusahaan Daerah Nusa Serambi Persada (Perusda NSP), dan PT Perusahaan Listrik Negara.

JOB P-MEPS sebagai operator di wilayah kerja untuk melaksanakan operasi migas di Blok PSC Simenggaris, Kalimantan Timur. Gas, yang rencananya siap dialirkan pada kuartal ketiga tahun 2013 oleh JOB P-MEPS, akan diubah ke dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) terlebih dahulu oleh Perusda NSP.

Produk ini akan digunakan untuk menunjang kebutuhan kelistrikan di Kabupaten Nunukan dan kabupaten/kotamadya lain di sekitarnya yang berada di wilayah Kalimantan Timur bagian utara. Untuk kawasan tersebut, kebutuhan pasokan harian sebesar 5 MMSCFD selama 11 tahun (2013- 2024).

Harga gas yang disetujui adalah US$5,2/MMBTU dengan eskalasi 3% per tahun. Harga tersebut diperkirakan akan memberikan total pemasukan bagi Pemerintah dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sekitar US$129 juta.

Selain itu, Medco juga menaikkan harga jual gasnya ke PT PLN (Persero). Penandatanganan amandemen ke-4 PJBG dengan PT PLN pun telah ditekan, “Seluruh gas yang disalurkan MedcoEnergi sepenuhnya akan digunakan sebagai bahan bakar bagi PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) Borang milik PLN guna memenuhi kebutuhan listrik di kota Palembang, Sumatera Selatan,"kata Presiden Direktur Medco Lukman Mahfoedz.

Lukman menambahkan, dalam amandemen PJBG ini, dilakukan juga penyesuaian harga untuk Gas Make Up, yang semula harga gas berlaku pada USD2,55 per MMBTU, diubah menjadi di kisaran USD4,7-USD6,0 per MMBTU mulai Juni 2013."Penyesuaian harga gas tersebut diperkirakan akan memberikan tambahan pendapatan kotor (gross revenues) sekira USD39 juta bagi pemerintah dan KKKS," ungkap Lukman. (bani)

BERITA TERKAIT

BEI Beri Sanksi Suspensi 19 Emiten - Melalaikan Kewajiban Biaya Pencatatan Tahunan

NERACA Jakarta – Musim laporan kinerja keuangan emiten menjadi momentum yang ditunggu para analis dan juga investor untuk memetakan investasi…

Ditopang Pondasi Bisnis Kuat - BTN Optimis Bakal Raup Laba Rp 3 Triliun

NERACA Jakarta -PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyampaikan optimistis akan meraup laba Rp3 triliun dengan berbagai bauran strategi…

Andalan Sakti Bidik Pendapatan Rp 13 Miliar

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal, PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) langsung tancap gas kembangkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Adhi Commuter Bidik Dana IPO Rp 2,5 Triliun

NERACA Jakarta –Kembangkan ekspansi bisnisnya di sektor properti yang terintegrasi dengan moda transportasi menjadi fokus utama PT Adhi Commuter Properti…

Dampak Suspensi Saham - Tiphone Mobile dan KSEI Saling Tuduh

NERACA Jakarta –Dinilai melakukan salah prosedur karena penundaan pembayaran bunga ke-4 dan pelunasan pokok atas obligasi berkelanjutan II Tiphone tahap I…

Genjot Pertumbuhan Bisnis Gudang - Makmur Berkah Bidik Pendapatan Rp 120 Miliar

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi di sektor kawasan industri dan penyewaan gudang, PT Makmur Berkah Amanda…