Kemenkeu Diminta Secepatnya Merespon - Terkait Revisi UU Asuransi

Terkait Revisi UU Asuransi

Kemenkeu Diminta Secepatnya Merespon

Jakarta—Kementrian Keuangan didorong untuk segera melakukan revisi Undang-Undang Asuransi guna membenahi berbagai perjanjian asuransi yang selama ini dianggaop sebagai “kelemahan”. Setidaknya diharapkan revisi itu selesai dalam 3 tahun mendatang. “Tiga tahun ini bisa direvisi. Sekarang tinggal menunggu tanda tangan dari menteri keuangan," kata Ketua Perumusan Program Kerja Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Yasril Y Rasyid kepada wartawan di Jakarta, Jakarta, Selasa (26/4)

Yasril berharap dari revisi UU Asuransi tersebut nantinya bisa mengatur regulasi secara komprehensif terkait berbagai aturan transaksi asuransi. Masalahnya regulasi yang sekarang tidak mengatur soal perjanjian asuransi. "Yang kita pakai sekarang kitab UU hukum dagang," tambahnya.

Lebih jauh Yasril menambahkan, untuk ke depan AAUI juga menyiapkan atau membenahi kompetensi industri dari dua sisi. "Persiapan dengan membenahi kompetensi industri dari dua sisi, permodalan diperkuat, dan SDM," imbuhnya.

Dijelaskannya, perhatian AAUI ke depannya yakni permodalan yang tidak bisa lepas sebagai industri padat modal dan jangan sampai kekuatan modal tersisih. Sementara untuk SDM, dia menjelaskan harus menyiapkan SDM dalam menghadapi perdagangan bebas nantinya. "Perdagangan bebas jangan sampai tersisih. Persoalan regulasi pemerintah berkaitan dengan perlindungan industri. Sekarang ini belum memadai," jelasnya.

Sementara itu, Ketua AAUI Cornelius Simanjuntak memperkirakan pertumbuhan industri asuransi umum sekitar 20% pada tahun 2011 ini .Oleh karenanya pemerintah harus secepatnya merespon revisi UU Asuransi. "Tumbuhnya itu, lebih dari 15%, malah bisa sampai 20%. Dan pemerintah harus lebih cepat mengambil keputusan pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Cornelius menambahkan untuk masalah permodalan, untuk tahun 2012 sebesar Rp70 miliar, dan 2014 Rp100 miliar "Modal diartikan equitas," imbuhnya.

Ditanya soal program AAUI ke depan, Cornelius menegaskan dalam kepengurusan barunya periode 2011-2014 akan meningkatkan daya saing asuransi umum menghadapi ASEAN terbuka 2015 mendatang. "Program kerja memang amanat dari anggota, dari kongres. Cukup banyak, di antaranya meningkatkan daya saing asuransi umum menghadapi ASEAN terbuka 2015 dan sebagainya," ungkapnya.

Kemudian, secara rinci program ke depannya salah satunya adalah melakukan edukasi asuransi kepada masyarakat. "Masyarakat program edukasi asuransi, tujuannya untuk memperkenalkan asuransi kepada masyarakat, kita mengharapkan Indonesia dapat mengejar ketertinggalan. Di negara maju, asuransi menjadi bagian kehidupannya," jelasnya.

Bukan hanya itu, edukasi ini juga akan dilakukan kepada anak-anak sekolah menengah dan mahasiswa. "Intinya pergi ke kampus-kampus, sosialisasi asuransi," katanya.

Sementara untuk program lainnya adalah mengadakan program asuransi bencana alam karena Indonesia rawan dengan bencana alam. "Program lainnya kita mengharapkan asuransi bencana alam di Indonesia, karena kita rawan terhadap bencana," tambahnya.

Selain itu, meningkatkan program sertifikasi keahlian pemasar asuransi dan agen-agen, di mana profesi sebagai penjual asuransi adalah pekerjaan yang mulia, baik, dan menjanjikan. "Misi yang sangat mulia, orang nantinya akan mempunyai proteksi dihari depannya," imbuhnya.

Selanjutnya, meningkatkan kerja sama dengan berbagai instansi dan lembaga-lembaga internasional, serta adanya asuransi mikro untuk para petani. "Kerja sama berbagai instansi, lembaga-lembaga internasional, world bank, serta membangun sistem asuransi untuk masyarakat banyak, asuransi mikro. Petani juga mempunyai asuransi kalau kegagalan panen," pungkasnya. **cahyo

Related posts