Pukulan Telak Bisnis Bakrie di Balik Lilitan Utang BUMI

Negosiasai Dengan Grup Sampoerna

Kamis, 11/10/2012

Ahmad Nabhani

Jakarta – Selalu ada cerita menarik untuk di ikuti dari bisnis grup Bakrie, terlebih perseroan tengah dililit utang yang bejibun. Bukan bisnis Bakrie namanya bila tidak bisa mensiasati pembayaran utang yang jatuh tempo. Pasalnya, bisnis Bakrie selalu dilandasi gali lobang tutup lobang untuk bayar utang. Kabar teranyar, PT Bumi Resources Tbk tengah mensiasati untuk mengurangi beban utang yang dipikul perusahaan tambang ini dengan rencana menjual anak usahanya PT Fajar Bumi Sakti (FBS).

Salah satu investor yang berminat membeli anak usaha BUMI ini adalah grup Sampoerna dengan nilai transaksi sekitar US$ 200 juta atau setara Rp 1,9 triliun. Meskipun Direktur BUMI Dileep Srivastava awalnya membantah rencana penjualan anak usahanya, pada akhirnya dirinya mengakui kabar rencana menjual aset untuk mengurangi utang. Salah satunya menjual seluruh kepemilikan saham pada FBS sebesar 50%.

Namun, dia enggan berkomentar soal perkembangan penjualan saham FBS. Dia hanya mengatakan, perseroan akan membuat pengumuman ke publik sesuai regulasi pasar modal nasional jika transaksi telah rampung.

Kabar rencana BUMI bakal menjual anak usahanya kembali ditegaskan, berdasarkan berita Reutuers yang menyebutkan konsorsium investor lokal yang dipimpin Grup Sampoerna menjajaki pembelian 50% saham PT Fajar Bumi Sakti (FBS) milik PT Bumi Resources Tbk(BUMI).

Saat ini, konsorsium itu tengah berdiskusi dengan manajemen Bumi untuk membeli saham FBS.

Transaksi bisa batal jika pihak-pihak yang terlibat tidak sepakat soal valuasi saham FBS. Sumber itu menuturkan, dana hasil penjualan saham FBS akan digunakan Bumi untuk mengurangi utang yang totalnya mencapai US$4,2 miliar. Jumlah itu termasuk utang ke China Investment Corporation (CIC) senilai US$1,3 miliar.

Jual Fajar Bumi

Sementara Direktur Eksekutif Grup Sampoerna, A Putranto mengakui tengah melirik berbagai peluang bisnis di Indonesia. Namun, ekspansi tidak hanya sebatas sektor pertambangan batubara. “Terkait ekspansi ke sektor pertambangan batubara, kami belum membuat komitmen dengan pihak manapun,”katanya.

Grup Sampoerna merupakan kelompok bisnis milik keluarga Sampoerna yang antara lain membawahkan sejumlah perusahaan di sektor agribisnis, keuangan, telekomunikasi, dan produk hasil hutan. Perusahaan yang bernaung di bawah bendera Grup Sampoerna di antaranya PT Sampoerna Agro Tbk, Bank Sahabat Sampoerna, Sampoerna Strategic Square, PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, dan Samko Timber Limited.

Grup Sampoerna terkenal dengan perusahaan rokok dan kemudian menjual raksasa bisnisnya di bidang rokok kepada Philip Moorris Amerika Serikat (AS) pada 2005 senilai US$5 miliar (Rp50 triliun). Selanjutnya, Sampoerna melakukan ekspansi usaha secara global di bidang minyak sawit mentah, perbankan dan kasino.

Sebelumnya, BUMI sudah mengkonfirmasi akan menjual sekitar 50% kepemilikan sahamnya di PT Fajar Bumi Sakti (FBS). Unit usaha ini diharapkan sudah bisa memproduksi sekitar 1 juta ton pada tahun 2012. Produksi ini jauh lebih kecil dari target produksi BUMI di 2012 sebesar 75 juta ton. FBS memiliki konsesi pertambangan di Load Ulung, Tenggarong, Kalimantan Timur, seluas 988 hektare (ha). Cadangan batubara di lokasi itu sekitar 14 juta ton.

Selain itu, BUMI juga berniat mengurangi utang setara dengan EBITDA menjadi satu kali dalam dua tahun mendatang. Saat ini, total utang Bumi mencapai US$4,2 miliar. Asal tahu saja, ketidak mampuan BUMI membayar utangnya disaat perseroan mencatatkan kinerja rugi bersih US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 triliun sepanjang semester I-2012. Penyebab utamanya, karena dua hal yakni rugi kurs seiring penurunan penjualan batu bara dan transaksi derivatif.

Pangkas Kepemilikan

Pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani pernah mengatakan, dengan kerugian yang diderita BUMI US$ 334,111 juta merupakan indikasi bisnis Bakrie telah mengalami kemerosotan. Mengutip laporan keuangan BUMI 2011, perseroan mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun). Sementara di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta, 2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700 juta. Maka jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$3 miliar (Rp30 triliun).

Melihat begitu besarnya utang jatuh tempo BUMI, membuat bisnis grup Bakrie yang lainnya akan terimbas untuk menanggung beban utang BUMI. Analis BNI Securities Viviet S. Putri mengatakan, aksi korporasi yang dilakukan kelompok usaha grup Bakrie akan terbebani utang. Beban itu tidak hanya kepada entitas usahanya, namun juga pada entitas lain dalam kelompok perusahaan Bakrie. "Jadi pendapatan dan labanya dikonversi untuk membayar utang,”ujarnya.

Meredupnya bisnis Bakrie, sudah terlihat jelas dari kepemilikan perseroan di PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) tergerus, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai soko guru PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga merugi.

Nilai Utang

Laporan keuangan BNBR audit 2011 menyebutkan, total utang perseroan mencapai Rp5,4 triliun. Dari total utang itu, sebesar Rp295 miliar jatuh tempo tahun ini yang berasal dari transaksi repo. Selain itu, perusahaan investasi juga harus melunasi utang US$437 juta (Rp4,3 triliun) dari 20 kreditur internasional yang digalang Credit Suisse, menyusul harga saham Bumi Plc turun dari yang disepakati.

Mengacu data Horizon Research, per Desember 2011, kepemilikan BNBR di BUMI mencapai 29,8%. Berdasarkan laporan keuangan 2011, BUMI memperoleh pendapatan US$4 miliar (Rp40 triliun), laba usaha US$1,12 miliar dan laba bersih US$221 juta. Dengan porsi kepemilikan tersebut, maka sumbangan pendapatan BUMI kepada BNBR mencapai US$1,17 miliar. Sementara laba usaha dan laba bersih menyumbang masing-masing US$330 juta dan US$60 juta.

Sementara motor uang grup Bakrie yang lain seperti ELTY atau UNSP sudah tidak bisa diharapkan. Di ELTY, kepemilikan grup Bakrie sudah tidak mayoritas paska masuknya Limitless Limitless World International Services Ltd. Kini, saham Bakrie di perusahaan properti itu hanya tersisa 8%.

Melanggar HAM

Kemudian belum juga selesai tuduhan BUMI melakukan penyimpangan laporan keuangan induk usahanya Bumi Plc. Dugaan itu muncul setelah auditor Bumi Plc, Pricewaterhouse Coopers LLP, menurunkan dana pengembangan Bumi sebesar US$247 juta dan biaya eksplorasi PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) senilai US$390 juta menjadi nol dalam laporan keuangan konsolidasi Bumi Plc 2011.

Kini BUMI dihantam lagi karena melanggar hak asasi manusia (HAM). Informasi tersebut disampaikan London Mining Network (LMN) yang menyebutkan, delapan perusahaan pertambangan dunia yang terdaftar di bursa London (London Stock Exchange/LSE) memiliki catatan buruk karena telah melanggar hak asasi manusia (HAM), polusi, merusak budaya dan menghancurkan kehidupan masyarakat lokal.

Dari delapan studi kasus yang dianalisa, produsen batubara terbesar Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) anak usaha dari Bumi Plc termasuk didalamnya yang dituduh melanggar HAM. Dalam laporan LMN yang berjudul UK-Listed Mining Companies & the Case for Stricter Oversight pada Februari 2012 lalu tersebut disebutkan, pemerintah Inggris harus memperketat aturan perusahaan tambang yang akan mencatatkan sahamnya di bursa London. Laporan organisasi yang terdiri dari 27 pembela HAM dan aktifis lingkungan tersebut, meminta badan tersebut harus dilengkapi dengan otoritas, keahlian, petugas serta pendanaan yang memungkinkan melakukan pengawasan terhadap semua perusahaan yang terdaftar di Bursa London.

BUMI memiliki areal tambang batubara terbesar dunia, yaitu Kaltim Prima Coal (KPC) di Kalimantan Timur. Areal tambang ini kerap melakukan penggusuran warga, sehingga mereka kehilangan mata pencahariannya. Wilayah tambang BUMI di Kalimantan ini juga kerap mencemarkan polusi, dan melanggar kesepakatan-kesepakatan bisnis.

Daftar Utang Bakrie dan Afiliasinya dengan Masa jatuh Tempo Tahun 2012

No

Nama Perusahaan

Jumlah Utang

1

Bakrie & Brothers mencapai

Rp 54 triliun

2

Bumi Resources

Rp 638 triliun (USD 638 juta)

3

Bakrieland Development

Rp 17,707 triliun

4

Energi Mega Persada

Rp 11,215 triliun

5

Bakrie Sumatera Plantations

Rp 9,644 triliun

6

Bakrie Telecom

Rp 7,844 triliun

7

Bumi Resources Minerals

Rp 3,338 triliun

8

Berau Coal Energy

Rp 1,535 triliun

9

Visi Media Asia

Rp822,276 miliar

10

Darma Henwa

Rp406,165 miliar

Sumber: Dari berbagai sumber