Gapki Ragukan Kesiapan Pemerintah Batasi Ekspor CPO - Harga di Pasar Dunia Merosot

NERACA

Jakarta – Merosotnya harga Clude Palm Oil (CPO) di pasar dunia dikhawatirkan akan mempengaruhi harga CPO dalam negeri. Pasalnya produksi Indonesia sangat besar. Untuk menghindari masalah tersebut, pemerintah mengambil keputusan untuk membatasi ekspor CPO. Namun, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meragukan kesiapan pemerintah untuk membatasi ekspor CPO.

Sekretaris Jenderal Gapki, Joko Supriyono memaparkan Pemerintah tidak bisa memutuskan membatasi ekspor begitu saja. Dia menjelaskan, ekspor CPO tidak bisa dibatasi lalu diam, begitu saja, itu namanya tidak berbuat komprehensif. Lebih jauh lagi Joko memaparkan, untuk membatasi ekspor CPO setidaknya pemerintah harus meningkatkan penggunaan CPO di dalam negeri.

Pemerintah harus mampu meningkatkan penggunaan CPO salah satunya untuk biodiesel. Tapi sayangnya, menurut Joko, selama ini pemerintah terkesan tidak siap menyerap CPO untuk biodiesel. "Dari kapasitas pabrik biodiesel tiga sampai empat juta ton per tahun, pemerintah hanya mampu memproduksi biodiesel satu juta ton," ujarnya di Jakarta, Rabu (10/10).

Persiapan selanjutnya, tambah Joko, adalah pengurangan produksi CPO. Jika pemerintah tidak mampu meningkatkan penggunaan CPO di dalam negeri, berarti harus ada pengurangan produksi untuk membatasi pasokan di pasar dunia. "Secara teknis pengurangan produksi ini tidak mungkin. Jika dikurangi maka kebun bisa rusak dan menimbulkan penyakit," katanya.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia bersama pemerintah Malaysia berencana akan membatasi volume ekspor CPO. Hal ini dilakukan untuk menyikapi terus menurunnya harga komoditas CPO di pasar dunia.

Pengusaha minyak kelapa sawit berharap pemerintah bisa memberikan solusi terbaik dalam menyikapi penurunan harga CPO di pasar dunia. Cara yang bisa dilakukan, usul Joko, adalah meningkatkan penggunaan CPO di dalam negeri untuk biodiesel. "Kalau penggunaan di dalam negeri belum siap, jangan coba-coba batasi ekspor," ujar dia.

Harga CPO diakui memang terus menurun. Bulan ini harga CPO sekitar US$ 820 per ton, turun dari harga pada September yang masih di angka US$ 896 per ton. Padahal, harga CPO pada Agustus lalu masih di kisaran US$ 920 per ton, sementara harga bulan sebelumnya adalah US$ 943 per ton.

Sementara itu Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho membuka Palmex Indonesia.Pameran terbesar untuk industri kelapa sawit di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara yang saat ini telah menjadi referensi teknlogi-teknologi terbaru bagi pelaku industri kelapa sawit. Pada penyelenggaran tahun ini, Palmex Indonesia menempati ruang pameran baru yang lebih luas guna mengakomodir peningkatan jumlah eksibitor yaitu di Medan International Convention Center di Santika Premiere Dyandra Hotel and Convention, Medan pada tanggal 10 – 12 Oktober 2012.

Prospek industri kelapa sawit di Indonesia diprediksikan semakin cerah di masa mendatang. Sektor kelapa sawit akan semakin strategis karena berpeluang besar untuk lebih berperan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional dan menyerap tenaga kerja. Dari sekitar 7.5 juta hektar lahan perkebunan kelapa sawit yang mayoritas tersebar di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan memperlihatkan pertumbuhan yang konsisten sehingga hal ini menarik minat investor. Jika tersedia 7.5 juta hektar lahan dimana setiap 7.500 hektar harus ada satu pabrik kelapa sawit, maka diperlukan minimal 1.000 pabrik kelapa sawit di Indonesia. Sementara saat ini pabrik sawit di Indonesia berjumlah sekitar 700 pabrik.

Tambah Produksi

Di tempat yang sama,Susan Tricia Direktur Utama Fireworks Indonesia selaku penyelenggara Palmex Indonesia 2012 memaparkan Palmex Indonesia hadir menawarkan berbagai pilihan teknologi, produk serta solusi terbaru yang diperlukan untuk mengolah kelapa sawit. “Berbagai teknologi yang meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja pabrik kelapa sawit dan juga untuk menambah produksi dalam waktu bersamaan serta ramah lingkungan akan dihadirkan selama pameran,” ujar Susan Tricia.

Minat yang tinggi dari perusahaan-perusahaan terlihat dari meningkatnya jumlah peserta pameran. Jumlah peserta tahun ini menigkat 25% dari tahun lalu dari 75 eksibitor menjadi 100 eksibitor tahun ini. Untuk mengakomodir peningkatan jumlah peserta dan peningkatan jumlah pengunjung, Fireworks Indonesia selaku penyelenggara pameran memindahkan lokasi pameran ke Medan International Convention Center yang memiliki area lebih luas dan lebih nyaman.

Dengan peningkatan jumlah eksibitor dan ruang pameran, Fireworks Indonesia selaku penyelenggara Palmex Indonesia juga menargetkan peningkatan pengunjung, baik dalam hal kuantitas dan kualitas. Apabila pada penyelenggaraan pameran tahun lalu tercatat lebih dari 5,580 pengunjung dengan profil pengunjung 35% dari kalangan CEO, 23% dari engineers, serta 34% merupakan purchaser, tahun ini Fireworks Menargetkan 7,000 orang mengunjungi Palmex Indonesia 2012.

Palmex Indonesia juga memperlihatkan peningkatan transaksi dari tahun ke tahun. Apabila pada Palmex Indonesia 2010 tercatat US$ 100 juta, kemudian meningkat menjadi USD 150 juta di Palmex Indonesia 2011, maka transaksi on-the-spot pada Palmex Indonesia 2012 ditargetkan mencapai USD 250 juta.

“Palmex Indonesia adalah event yang tepat bagi para purchaser dan engineer hadir guna membeli atau mengganti mesin lama mereka dengan mesin baru, meng-update wawasan mereka akan teknologi terbaru yang mampu meningkatkan kinerja serta menjalin hubungan bisnis diantara pelaku industri sawit,” ujar Susan Tricia.

Related posts