"Agar Pakai Transportasi Umum"

Sabtu, 13/10/2012

NERACA

Dengan tarif parkir yang mahal, diharapkan masyarakat mau beralih ke transportasi umum. Namun apakah sarana-prasarana transportasi umum sudah cukup aman dan nyaman, agar publik mau menggunakannya?

Pengamat perkotaan Yayat Supriatna mengatakan dengan disahkannya Pergub No.120 Tahun 2012 mengenai kenaikan tarif parkir di DKI Jakarta, dia melihat dari dua sisi, baik kelebihan maupun kekurangannya.

Menurut dia, peraturan ini memiliki segi positif karena diharapkan bisa mengendalikan kemacetan di Ibu Kota. Namun, masih ada pertanyaan yang kemudian muncul di belakangnya.

"Apakah peraturan ini bisa membuat publik jadi beralih menggunakan moda transportasi umum?" kata Yayat, di Jakarta, Senin (8/10).

"Peraturan itu memiliki nilai positif karena dibagi berdasarkan beberapa zona, mulai dari komersial, perkantoran, apartemen dan area publik lainnya," ungkapnya.

Menurut dia, di masa depan pembangunan apartemen atau superblok harus menerapkan konsep transportation oriented development (TOD) atau pengembangan yang terintegrasi dengan sarana transportasi publik.

"Peraturan ini belum mampu mengendalikan kemacetan itu sendiri, jika tidak ada kebijakan alternatif, misalnya untuk menambah moda transportasi atau angkutan umum yang lebih layak dan memadai bagi masyarakat, sehingga mengurangi pemakaian kendaraan pribadi," ujarnya.

Dengan adanya peraturan ini Pemda DKI Jakarta mengharapkan bisa mendorong masyarakat untuk lebih banyak memanfaatkan transportasi publik ketimbang kendaraan pribadi.

"Jika sarana tranportasi massalnya sudah bisa membuat publik merasa lebih nyaman, maka mereka akan beralih. Namun jika belum, maka orang akan tetap menggunakan mobil pribadinya," tutur Yayat.

(agus/dbs)