Musisi Jalan Dari Kota Wurttemburg

Musisi : Sandhy Sandoro

Sabtu, 13/10/2012

NERACA

Hidup menawarkan banyak pilihan, bahkan diam pun sebuah pilihan. Namun bagi pria yang merentas karir musiknya di negeri Jerman, bernyanyi menjadi sebuah pilihan, dan dia berhasil membuktikanya dengan menggemparkan publik Jerman dalam, German Idol 2007 dan membawanya memasuki industri musik rekaman Jerman.

Dialah Sandhy Sondoro, sosok kelahiran Jakarta, 12 Desember 1973, yang baru menikahi Ade Fitria, 31 Agustus 2012 lalu. Sandhy akrab ia disapa memang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga pemusik. Pop Amerika, folk, Jazz dan blues kerap disenandungkan kedua orang tuanya dengan bermain gitar. Sebuah kesenangan yang akhirnya membentuk minat Sandhy pada musik.

Bakat musik sudah ia tunjukkan saat bermain band di Sekolah Menengah Atas. Mereka memainkan lagu dari Van Halen dan Mr Big atau The Black Crows. Di umur 18 tahun, Sandhy melancong mengunjungi pamannya di California dan menetap disana. Setahun kemudian dia pun ke Jerman untuk kuliah arsitektur.

Awalnya Sandhy datang ke Jerman hanya untuk belajar di jurusan arsitektur di FH Biberach an der Rib. Namun karena kiriman biaya dari orangtua terhenti, ia pun memutuskan untuk bekerja paruh waktu hingga ia lulus.

Bermacam-macam pekerjaan pernah ia jalani, mulai pencuci piring, tukang parkir, tukang koran, atau bekerja di restoran cepat saji. “Apa boleh buat, saya harus melakukan itu semua untuk bertahan hidup. Membiayai hidupnya sendiri, karena memang tak ada yang menopang,” jelas Sandhy.

Tak ada rasa malu bahkan gengsi. Ia menilai apa yang dilakukannya sangat logis, untuk survive ia harus bekerja keras. “Jika mau sukses dalam aspek apapun, tak ada cara lain selain kerja keras,” tegasnya memandang.

Seiring kuliah dan pekerjaan yang ia lakukan dalam membiayai hidup, minat pada musik sulit ia pendam. Menyadari bakat yang dimiliki, Sandhy pun memanfaatkannya sebagai sumber mata pencaharian pula. Ia mulai mengisi jalan-jalan kota Baden Wurttemburg, dengan suara khasnya tahun 1996.

Beberapa orang mulai tertarik dengan bakatnya, ia pun mendapat kesempatan untuk mengisi hiburan disebuah kafe, dari sanalah Sandhy mulai membentuk band dan mendapat sambutan luar biasa dari para pengunjung.

Untuk melancarkan karir musiknya, pertama ia mulai mengasah lebih baik kecakapan dalam berbahasa Jerman. Meski gelar sarjana arsitektur sudah disandang, Sandhy enggan bekerja dengan tempo rutinitas. Ia lebih memilih menggali peruntungan dengan menjadi seorang musisi yang profesional. Sandhy pun tak sungkan mengikuti pelbagai kontes menyanyi yang digelar seantero Eropa.

Pelantun lagu favorit, Down on the Streets, merupakan satu dari puluhan lagu yang dia ciptakan. Dan Down on the Streets hadir dari pengalaman dirinya yang tumbuh di metropolitan Berlin.

Karir musik Sandhy mulai merebak disejumlah kota Jerman. Ia tampil di teater favorit seperti House of World Cultures in Berlin, atau bermain di festival-festival music seperti Museum Bode Festival Isle. Sejumlah penggemar tersebar dari Kota Hamburg, Cologne, Stuttgart dan kota lainnya di Jerman.

Ia berkisah saat kali pertama tampil dihadapan publik Jerman disebuah kafe. Menurutnya tak mudah bagi publik Jerman mengakui kemampuan orang Asia, termasuk Indonesia. Saat usai saya manggung, kata Sandhy, “Mereka paling cuma bilang, not bad,” ujar pria yang juga gemar menggambar dan memasak ini.

Tahun 2009 dia mengikuti International Young Singers-New Wave, dengan peserta dari Latvia, Kazahstan, China, Italy, Indonesia, Poland, Finland, France, Ukraine dan Russia. Festival yang digelar di pantai Yurmala, Latvia merupakan ajang yang sangat populer di Eropa Timur. Sandhy bukan hanya menghipnotis para penonton, gelar juara pertama dan hadiah 50,000 Euro, berhasil ia kantongi.

Pengagum Iwan Fals, (alm) Chrisye, dan (alm) Benyamin S ini menilai bahwa industri musik Indonesia sudah semakin berkembang. Musik di Indonesia juga semakin variatif. Namun ia menyayangkan banyaknya penyanyi yang muncul hanya sebagai boneka industri, dilengkapi dengan gaya berlebihan dan modal tampang rupawan saja, tanpa disertai bakat dan musikalitas yang baik.

“Seharusnya kualitas baik sebagai penyanyi, musisi, dan pencipta lagu, lebih utama diperhatikan, tanpa harus bergaya berlebihan,” ujar sosok yang juga menggemari musisi seperti Marvin Gaye, Barry White, dan The Beatles ini.