Dari Solo Melenggang ke Ibu Kota

Gubernur Terpilih DKI Jakarta : Joko Widodo

Sabtu, 13/10/2012

NERACA

Gegap gempita semarak Pilkada DKI Jakarta telah usai digelar, kini tantangan sudah di pelupuk mata. Di atas bahu pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 ini, sekitar 9.6 juta jiwa penduduk metropolitan menanti perubahan yang lebih baik. Joko Widodo namanya, sang Gubernur DKI terpilih periode 2012-1017, yang bertekad mewujudkannya.

Rekam jejak pria tiga orang putra buah pernikahannya dengan Iriana yang dinikahinya 24 Desember 1986, memang terbilang fantastis. Mantan Walikota Surakarta atau dikenal juga Solo ini, mampu mengembangkan kota Surakarta dengan sejumlah perubahan.

Dengan saku APBD DKI hingga Rp 138 triliun, mungkinkah Joko mengulang prestasi yang sama? Berikut selintas sosok orang nomer satu di Kota Metropolitan ini, yang tumbuh dari kesederhanaan.

Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, dan bukan pula orang yang kaya. Ia anak seorang tukang kayu, Ayahnya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, Jokowi akrab disapa tumbuh dan dibesarkan di sekitar bantaran sungai Bengawan Solo.

Ia berkisah, ketika ayahnya akan penjual kayu di pinggir jalan, dia kerap membantu menggotong kayu ke tempat penggergajian. “Saya sering masuk pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil,” jelas Joko mengenang.

Tak aneh suasana pasar begitu dia resapi sebagai pengalaman hidup. Bahkan pernah pula ia menyaksikan bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, hingga mereka takut untuk berdagang. “Saya prihatin, saya merasa sedih,” ucapnya, kenapa kota tak ramah pada manusia.

Kemandirian Joko sudah tampak sejak dibangku sekolah dasar. Ia berdagang apa saja untuk membiayai sekolah. Mulai mengojek payung saat hujan, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, atau jadi kuli panggul, “Sejak kecil saya coba hidup mandiri,” jelas Joko. Yup ia memang tak ingin menyusahkan sang Ayah.

Joko adalah anak laki-laki pertama di dalam keluarga, tak heran bila ia menjadi penjaga bagi tiga adik perempuannya. Karena paling besar, ia sering membantu sang Bunda, Sujiatmi mengasuh adik-adiknya.

Kadang mengantar mereka ke sekolah, atau membantu para adik membereskan pekerjaan rumah. Meski begitu, pria asli Solo ini tetap memiliki prestasi luar biasa di kelasnya. Padahal ia sendiri mengaku tak begitu rajin belajar, karena dahulu ia sering membantu orangtuanya seperti menagih pembayaran kepada pelanggan kayu atau menaikkan kayu yang sudah dibeli orang ke atas gerobak atau becak.

Diusia 12 tahun, saat ia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka tapi dia mengaku senang dan gembira menjalani kehidupan itu. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.

Saat lulus SMAN 6 Solo, ia memilih masuk Fakultas Kehutanan pada Universitas Gadjah Mada. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana memanfaatkan dengan teknologi.

Semasa perkuliahan, tekanan biaya hidup membuatnya lebih prihatin. Bahkan hingga lima kali ia harus berpindah kost lantaran tak mampu membayar. Karena itu, bekerja sambil kuliah menjadi hal yang ia lakukan.

Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, ia mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya dalam bahasa kemanusiaan, yaitu rendah hati.

Setelah selesai kuliah 1985, Joko bekerja di sebuah BUMN di Aceh. Setelah 1,5 tahun, ia memutuskan untuk kembali ke Solo dan merintis bisnis mebel dengan modal minus.

Jatuh bangun dalam mengembangkan bisnis mebelnya menjadi cerita tersendiri bagi Joko. Ia melihat industri kayu berkembang pesat. Disinilah ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya milik sang Ayah ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil.

Sukses membangun bisnis mebel dengan sejumlah produk yang dieksport ke mancanegara, ia tergugah untuk terjun ke dunia politik.

Ia berpikir, pertanggung jawaban politik adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, namun ikhlas bekerja. Inilah cara berterima kasih pada bangsa. Posisi Walikota Surakarta pun berhasil ia raih.

Kini setelah melenggang menduduki Gubernur DKI Jakarta, Joko bertekad akan tetap hidup sederhana, “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja,” jelas Jokowi, kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan banyak alasan. Selamat bekerja Pak Gubernur.