Dukung Pelestarian Alam, Produsen Semen Kembangkan Energi Terbarukan - Pertahankan Indeks Sri Kehati

NERACA

Jakarta – Tanggung jawab sosial kini bukan lagi cuma urusan pemerintah, tapi semua pihak termasuk dunia bisnis. Oleh karena itu, tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CRS) tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh para pelaku bisnis. Pasalnya, tanggung jawab sosial perusahaan akan menentukan keberlangsungan dunia usaha lebih lanjut dan sebaliknya, pelaku bisnis yang tidak peduli pada tanggung jawab sosial bakal sulit bersaing di pasar global.

Industri pasar modal dalam negeri sangat memperhatikan pentingnya peranan emiten atau perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam praktek CSR. Karena dalam bisnis tidak hanya bicara untung semata, tetapi perlunya bersahabat dengan dunia sekitar baik alam ataupun para pemangku kepentingan (stakeholder). Terlebih, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) bakal mewajibkan praktek CSR untuk dilaporkan dalam laporan keuangan tahunan dan menjadi indikator penilaian kinerja perusahaan.

Maka untuk mengakomodir, perusahaan yang pro lingkungan dibuatlah indeks Sri Kehati atas kerja sama BEI dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), yayasan pengelola endowment fund dibidang pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. Nama SRI-Kehati mengacu pada tata cara pengelolaan perusahaan yang bersifat Sustainable and Responsible Investment (SRI).

Saat ini, dar 440 jumlah emiten yang tercatat di pasar modal hanya 25 yang masuk sebagai indeks Sri Kehati atau sebagai saham hijau yang ramah dan peduli lingkungan, salah satunya PT Semen Gresik Tbk (SMGR). Komitmen perusahaan pada lingkungan tidak hanya ditunjukkan dalam cara-cara filantropi, tetapi sebaliknya edukasi kepada masyarakat menggunakan limbah sampah sebagai bahan bakar atau energi alternatif.

Kelola Limbah Sampah

Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto mengatakan, perseroan sangat serius mendorong keberlanjutan lingkungan dengan penerapan berbagai macam program. Selain demi tujuan utama penyelamatan lingkungan di masa depan, pengelolaan lingkungan yang baik telah terbukti mengefisienkan bisnis perusahaan, “Kepedulian terhadap lingkungan secara nyata in-line dengan tujuan perseroan untuk melakukan efisiensi demi peningkatan kinerja. Perseroan yakin, semakin perusahaan punya perhatian khusus terhadap lingkungan, kinerja perusahaan justru akan semakin membaik,"katanya.

Perusahaan plat merah ini terus mendorong masyarakat sekitarnya untuk mengelola lingkungan lebih baik lagi. Gebrakan ini dilakukan sebab selama ini industri semen sering dinilai berakibat buruk terhadap lingkungan, “Setiap investasi yang dilakukan Semen Gresik adalah responsible investment yang memperhatikan prinsip environment, social, dan governance (ESG) sesuai standard internasional. Kami menjadikan semangat pengelolaan lingkungan bukan sekadar lips service, tapi secara serius kami lakukan,"tuturnya.

Dwi mengatakan, perseroan juga melakukan pengelolaan sampah kota secara modern untuk diolah menjadi energi alternatif guna menopang aktivitas produksi perseroan. Konsep yang diusung adalah 'waste to zero'. Dalam hal ini, perusahaan akan memanfaatkan sampah kota, terutama dari dua kota di mana perseroan banyak beraktivitas, yaitu Gresik dan Tuban, Jawa Timur.

Volume sampah di Gresik tercatat sebanyak 650 meter kubik atau sekitar 217 ton per hari. Adapun volume sampah di Tuban sebesar 250 meter kubik atau 83 ton per hari. "Sampah kota tersebut bisa dimanfaatkan menjadi energi alternatif, pupuk kompos, dan recycle material. Perusahaan akan mengambil energi alternatifnya. Kami sudah membuat mesinnya dan kami harapkan 2013 sudah berjalan. Tapi kami dorong secepatnya. Kalau bisa, akhir tahun ini harus sudah jalan," ujar Dwi .

Sampah kota tersebut, lanjutnya akan diolah menjadi refuse derived fuel (RFD) untuk menggantikan bahan bakar batubara yang selama ini dipakai perusahaan. Selama ini, perseroan juga sudah menggunakan bahan bakar alternatif, seperti dari sekam padi, kulit mete, limbah tembakau, dan oil sludge.

Dia menuturkan, porsi penggunaan energi alternatif tersebut sudah mencapai 5 – 8% dari total kebutuhan energi perseroan yang menyedot dua juta ton batubara per tahun. "Ke depan kami berharap bisa mencapai minimal 10%, sehingga perusahaan bisa berhemat bahan bakar,”tandasnya.

Kembangkan Buah Jarak

Hal yang sama juga dilakukan PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk dalam memberdayakan masyarakat untuk mengelola energi alternatif. Bila Semen Gresik mengelola limbah sampah sebagai energi alternatif, sementara Indocement mengembangkan tanaman jarak yang mengandung minyak biofuel.

Direktur Eksekutif Indocement Tunggal Prakasa, Kuky Permana mengatakan, minyak jarak sangat bermanfaat untuk digunakan di bagian produksi, “Kita berkepentingan mendapatkan minyak itu, sehingga yang dipilih adalah tanaman jarak,”katanya.

Dia menjelaskan,perusahaan memperoleh manfaat dari hasil minyak jarak. Setiap delapan bulan, tanaman jarak dipanen dan diproses untuk menghasilkan minyak dan ini merupakan bahan energi yang renewable. Berbeda dengan minyak bumi atau batu bara yang non renewable. Pengembangan buah jarak ini, kata Kuky adalah kerjasama perseroan dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), “Kita menjalin kerja sama dengan IPB untuk membuka 30 hektar lahan,”tuturnya.

Selain itu, buah jarak perseroan juga mengembangkan cangkang sawit dari Jambi menjadi sumber energi, “Tujuan akhirnya, kita bisa mengurangi secara perlahan konsumsi energi yang tidak terbarukan dan perlahan bisa digantikan dengan energi terbarukan,”tegasnya.

Kata Kuky, langkah ini mengandung tiga aspek dalam triple bottom line. Dimana tujuannya bukan hanya mencari uang semata, tetapi bagaimana menghijaukan lahan tandus menjadi hijau dan produktif. Kemudian yang tidak penting, bagaimana memberdayakan masyarakat sekitar supaya bisa menikmati dengan adanya employment baru dan perusahaan juga dapat minya.

Related posts