Rasionalitas Perhitungan Tarif KRL

PT KAI Commuter Jakarta (KCJ), anak usaha PT KAI, akhirnya tetap memberlakukan kenaikan tarif semua rute perjalanan Rp 2.000 terhitung mulai 1 Oktober 2012, walau banyak pihak merasa keberatan dengan kenaikan tarif tersebut. Jadi harga karcis KRL Commuter Line (CL) Bekasi-Jakarta semula Rp 6.500 menjadi Rp 8.500, dan Bogor-Jakarta dari Rp 7.000 menjadi Rp 9.000 untuk sekali perjalanan.

Jelas, kenaikan tarif ini tidak memperhitungkan jauh dekat perjalanannya, sehingga wajar jika banyak anak sekolah, mahasiswa, buruh, pegawai rendah merasa keberatan dengan kenaikan rata-rata Rp 2.000 itu. Mereka tentu sekarang beralih lagi ke moda transportasi lain yang lebih murah atau memakai motor sehingga menambah kemacetan di ruas jalan Jakarta dan sekitarnya.

Pihak operator (PT KCJ) tampaknya tidak mempertimbangkan sama sekali kemampuan ekonomi pengguna jasa transportasi ini, terutama bagi pekerja yang setiap hari menggunakan KRL dari tempat tinggalnya di daerah penyangga Jakarta, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Bayangkan saja, berapa biaya transportasi pulang pergi yang harus ditambah oleh seorang pekerja marjinal setiap bulannya dengan kenaikan sebesar itu. Bagi seorang pekerja pria, misalnya, tambahan dana sebesar itu (Rp 2.000) bisa sangat berguna untuk menambah gizi keluarga. Sehingga rasanya tidak adil jika operator menaikkan harga tiket KRL hingga lebih dari 25%. Sementara gaji pegawai sekarang rata-rata belum mengalami kenaikan.

Selain itu, khusus warga Jakarta yang akan menggunakan KRL harus berpikir dua kali. Harga tiket KRL saat ini tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan. Coba kalau naik dari Cikini dan turun di Juanda dikenakan ongkos antara Rp 8.000 – Rp 9.000, padahal jaraknya tidak lebih dari 3 km. Jauh sekali perbedaannya dengan Metromini atau angkot yang cuma Rp 2.000 untuk jauh dekat.

PT KCJ dan PT KAI seharusnya merumuskan perhitungan tarif yang lebih rasional khusus bagi warga Jakarta yang akan bepergian di dalam kota Jakarta sendiri. Artinya perlu ada tarif yang besaran sama di seputar kota Jakarta. Begitu juga bagi penumpang yang akan bepergian jarak panjang dalam paket tertentu, misalnya dari Bekasi ke Bogor, atau dari Bekasi ke Tangerang, seharusnya harga tiket dihitung per paket perjalanan tersebut. Begitu pula idealnya ada harga tiket khusus pelajar/mahasiswa.

Bandingkan ketika harga tiket Rp 11.000 yang dulu dikenakan pada KRL Pakuan Ekspress. Saat itu, meski kondisi KRL amburadul karena AC sering mati dan kereta sering terlambat dari jadwalnya, namun laju perjalanan terbilang lebih cepat karena KRL Ekspres tidak berhenti di setiap stasiun.

Berbeda dengan saat ini, dimana KRL CL berhenti di setiap stasiun, dengan tujuan mengangkut penumpang lebih banyak tanpa memperhatikan layanan yang lebih baik. Akibatnya, kapasitas penumpang menjadi lebih padat. Apalagi di stasiun transit, para penumpang dapat bebas naik di kereta lanjutannya. Misalnya penumpang berasal dari KRL Ekonomi, sekarang bisa naik KRL CL saat akan melanjutkan perjalanannya dari stasiun transit. Akibatnya, penumpang KRL CL dirugikan karena gerbong semakin padat oleh tambahan dari penumpang KRL Ekonomi.

Dari gambaran tersebut, pimpinan PT KAI sebaiknya meninjau kembali struktur harga tiket KRL CL yang memadai, sehingga dapat membantu warga Jakarta yang akan bepergian menggunakan kereta api dengan harga terjangkau. Dengan adanya struktur tarif yang memperhatikan kebutuhan pasar, maka perlu ada besaran tarif KRL CL misalnya Rp 4.000 untuk jauh dekat di dalam kota Jakarta.

Related posts