Fluktuasi Pasar Global Tidak Surutkan Dana Asing Masuk

Kuartal III Capai Rp 14,35 Triliun

Rabu, 10/10/2012

NERACA

Jakarta – Industri pasar modal masih menyakini potensi masuknya dana asing hingga akhir 2012 masih tinggi meski kondisi bursa eksternal berfluktuasi seiring melambatnya ekonomi global, “Dana asing masuk ke bursa domestik masih cukup tinggi, sepanjang tahun ini sudah mencapai Rp17 triliun," kata Direktur Utama BEI Ito Warsito di Jakarta, Selasa (9/10).

Menurutnya, dana asing yang masih masuk ke pasar saham domestik sepanjang tahun ini merupakan bukti bahwa pelaku pasar saham asing tidak kehilangan kepercayaan terhadap potensi industri pasar modal nasional. Pasalnya, investor asing selalu memilah dananya menjadi dua, untuk 'long term' (jangka panjang) dan 'short term' (jangka pendek).

Kata Ito, masih derasnya dana asing masuk ke industri pasar modal tidak bisa lepas dipengaruhi

fundamental ekonomi Indonesia yang positif dan ini merupakan salah satu alasan bagi investor asing masih menempatkan dananya di pasar modal dalam negeri.

Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), akumulasi "net buy" asing pada kuartal III senilai Rp14,35 triliun rupiah. Pada kuartal II/2012 tercatat investor asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp8,198 Triliun. Sementara, pada kuartal I 2012 beli bersih asing sebesar Rp10,021 triliun rupiah.

Sementara Direktur Perdagangan BEI Samsul Hidayat mengatakan, nilai beli bersih asing didukung kondisi politik dan ekonomi global yang sedang membaik. Masuknya dana asing ke pasar modal Indonesia menunjukkan kepercayaan terhadap pasar modal kita masih baik. Kendati demikian, dikatakan dia, BEI memiliki agenda untuk menambah porsi kepemilikan investor lokal atas saham-saham yang diperdagangkan di bursa. "Peningkatan investor ritel lokal dan penyebarannya sudah jadi agenda BEI," ujar Samsul.

Sebelumnya, Direktur PT Evergreen Capital, Rudi Utomo memperkirakan, aliran dana asing ke pasar modal Indonesia masih terus masuk hingga akhir tahun ini seiring ekspektasi ekonomi domestik yang positif. "Melambatnya ekonomi negara maju akan mendorong investor mencari tempat yang mempunyai pertumbuhan positif, salah satunya Indonesia yang selalu mencatatkan pertumbuhan positif," ujar dia.

Selain itu, lanjut dia, emiten tercatat di BEI juga mempunyai kinerja yang positif. Kondisi itu membuat pasar modal juga dapat dorongan untuk tetap tumbuh dan memicu investor masuk ke pasar saham. "Emiten masih terus melakukan ekspansi, hal itu menjadi salah satu pendukung ekonomi domestik tumbuh. Dampak krisis global terhadap emiten juga tidak secara langsung,”katanya.

Meski demikian, dikatakan Rudi, penyelesaian krisis Eropa dan perlambatan ekonomi Erpa, AS, China, dan India dapat menjadi sentimen utama yang mempengaruhi di semester II. Belum adanya penyelesaian krisis di Eropa lambat laun juga akan terasa pada Indonesia. (bani)