Kementan Tak Tambah Kuota Impor Sapi - Sambut Momen Kurban

NERACA

Jakarta - Dalam Menjelang Idul Adha, Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan tidak ada masalah dan menjamin mengenai stok dan kesehatan hewan untuk berkurban. Kementerian Pertanian juga memastikan tidak akan menambah kuota impor khususnya sapi dalam menutup kebutuhan sapi potong dalam berkurban nanti dikarenakan stok sapi lokal dianggap masih mencukupi.

“Sejauh ini laporan yang kami dapat tidak ada masalah tetapi nanti saya akan evaluasi lagi,” kata Menteri Pertanian Suswono dalam Rapat Kerja Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (09/10).

Menurut Suswono, berdasarkan hasil sensus yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011 yang lalu. Pada saat ini, dengan populasi sapi potong pada saat sebesar 14,8 juta ekor, sapi perah 600 ribu ekor, dan kerbau 1,3 juta ekor. “Dengan demikian, jumlah populasi ternak secara keseluruhan mencapai 16,7 juta ekor,” jelasnya.

Terkait dengan sapi impor, sebelumnya pada tanggal 05 September 2012 yang lalu, Komisi IV DPR melakukan penyidikan dan investigasi di instalasi karantina hewan, Desa Kandang Genteng, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Dalam penyidikannya mereka menerima laporan adanya sapi-sapi impor ilegal yang masuk ke Indonesia. "Komisi IV DPR RI dengan tegas meminta pemerintah untuk menolak atau mereekspor kembali sapi-sapi yang masuk tidak sesuai ketentuan dan perundangan yang berlaku. Juga memberlakukan sanksi kepada importir sapi bibit illegal tersebut,” kata Anggota Komisi IV DPR RI, Ibnu Multazam.

Ibnu mengatakan temuan itu berdasarkan nota dinas dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan ke Menteri Pertanian yang ditembuskan ke Kepala Badan Karantina Pertanian, perihal hasil pengawasan PT Australia Stockfeed, PT Great Giant Livestock dan PT Tanjung Unggul Mandiri (PT TUM) tanggal 13 Agustus 2012 yang menyampaikan hasil Kesimpulan Tim Wasbitnak sebagai berikut. “Semua sapi betina yang dimasukkan sebagian besar dalam status bunting dan yang tidak bunting dengan status reproduksi normal, namun tidak masuk dalam klarifikasi bibit karena tidak ada surat keterangan/sertifikat klasifikasi bibit dan pedigree secara individual sebagaimana tersebut dalam Permentan 19 tahun 2012 tentang Persyaratan Mutu Benih, Bibit Ternak dan Sumber Daya Genetik Hewan,” jelasnya.

Stok Aman

Kemudian dalam rapat kerja Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR RI ini, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro mengatakan bahwa stok sapi menjelang Idul Adha relatif aman dan cukup memasok kebutuhan. Stok sapi siap potong yang tersedia saat ini mencapai 3 juta ekor. “Ketersediaan sapi siap potong itu terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat,” ungkapnya.

Menurut Syukur, ketersediaan sapi untuk Idul Adha lebih banyak ketimbang saat Idul Fitri lalu. Sebab, pada Idul Fitri lalu peternak memilih menahan stok sapinya untuk dilepas pada Idul Adha. "Karena pada Idul Adha biasanya harga sapi lebih mahal dan masyarakat butuh," katanya.

Syukur menjelaskan bahwa pemerintah juga menjamin kesehatan sapi yang siap potong tersebut. Dirinya menegaskan Kementerian Pertanian sudah mengirimkan surat kepada gubernur dan bupati untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sapi dari potensi penyakit, khususnya virus antraks.”Secara umum, ketersediaan sapi tahun ini sekitar 15 juta ekor. Jumlah ini sudah meningkat 5,36 persen dibanding hasil survei 2011 yang tercatat 14,8 juta ekor. Penambahan ini dari hasil inseminasi buatan untuk sapi," paparnya.

Sedangkan Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Romahurmuziy, meminta Kementerian Pertanian menjamin kesehatan hewan kurban menjelang Idul Adha 26 Oktober mendatang. “Kami minta pemerintah memastikan rumah pemotongan hewan (RPH) menjalankan standar animal welfare (kesejahteraan hewan). Jangan sampai ini terhenti,” katanya.

Romahurmuziy mengatakan mengenai jaminan pasokan sapi maupun kambing untuk Idul Adha, dia yakin pemerintah mampu memenuhinya.” Saya mengimbau pemilik RPH tidak menahan stok sapinya agar pemerintah tidak memakai alasan kekurangan ketersediaan sapi untuk menambah kuota impor daging beku dan sapi,” ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Nilai Tambah dalam Ekonomi dan Industri

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Lama sudah kita menenggelamkan diri dalam persoalan ekonomi. Kegiatan dan proses…

Pimpinan KPK Tak Datang, Pansus Tetap Bekerja

Pimpinan KPK Tak Datang, Pansus Tetap Bekerja NERACA Jakarta - Ketua panitia khusus (pansus) DPR Agun Gunandjar menegaskan akan tetap…

Targetkan Satu Juta Pengunjung - Mandiri PRI 2017 Akan Jadi Ajang Pameran Unik dan Tak Terlupakan

Targetkan Satu Juta Pengunjung Mandiri PRI 2017 Akan Jadi Ajang Pameran Unik dan Tak Terlupakan NERACA Jakarta – Mandiri Pekan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Penanaman Modal di Sektor Riil - Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Mencari Alternatif Langkah Penyelamatan Perusahaan Negara

NERACA Jakarta - Rencana pemerintah membentuk induk perusahaan (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendapat kritik dari sejumlah akademisi…

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…