Hutama Karya Realty Targetkan IPO Lima Tahun Mendatang

Rabu, 10/10/2012

NERACA

Jakarta – Meskipun belum mencatatkan sahamnya di pasar modal, PT Hutama Karya tetap mempunyai agenda untuk mendorong anak usahanya PT Hutama Karya Realty melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Sektretaris perusahaan Hutama Karya, Ary Widiantoro mengatakan, rencana Hutama Karya Realty IPO akan dilakukan lima tahun mendatang, “Hutama Karya Realty layak untuk IPO karena performance kinerja cukup baikn dan tahun ini perseroan menargetkan penjualan sebesar Rp 300 miliar, “katanya di Jakarta kemarin.

Dia juga mengungkapkan, HK Realty dalam lima tahun ke depan akan memiliki omset bisa mencapai Rp500 miliar hingga Rp1 triliun. Menurutnya, HK Realty baru beroperasi dua tahun ini dan bisnis bisnis 'realty' padat modal sehingga dibutuhkan proyek-proyek untuk meningkatkan performa perseroan

Sementara Hutama Karya menargetkan kontrak baru sepanjang tahun ini berkisar Rp8,1-9 triliun. Hingga September, kontrak baru yang telah diperoleh sebesar Rp5,6 triliun. Kontrak baru ini berasal dari proyek pembangunan atau duplikasi jembatan Air Musi II Palembang, jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai Benoa Bali, Alila Villas Bintan serta jalan Tol Mojokerto-Kertosono Tahap I dan II, "Sampai saat ini, kami sudah mengantongi proyek senilai Rp10,4 triliun dari target setahun Rp13 triliun," ujar Ary.

Kontrak senilai Rp10,4 triliun tersebut terdiri atas kontrak baru sebesar Rp5,6 triliun dan kontrak tahun lalu yang dialihkan pada tahun ini (carry over) sebesar Rp4,8 triliun. Mayoritas kontrak yang diperoleh perseroan berasal dari BUMN dan pemerintah, sedangkan sisanya proyek swasta.

Sebelumnya, perseroan juga meraih fasilitas kredit dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk senilai Rp3,95 triliun. Pinjaman tersebut nantinya akan digunakan, untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, mendapatkan garansi bank, hingga penerbitan letter of credit (LC) untuk mendukung pendanaan proyek 2012.

Sepanjang 2012, Hutama Karya mencatat nilai proyek yang perlu didanai mencapai Rp13,02 triliiun, yang sebagian diperoleh dari perbankan. BNI sendiri mengucurkan satu paket skema kredit, di mana tahap pertama adalah Fasilitas Cash Loan (modal kerja) sebesar Rp500 miliar, dan yang kedua adalah Non Cash Loan sebesar Rp3,45 triliun. (bani)