Edutainment

Bermain Sambil Belajar

Sabtu, 13/10/2012

NERACA

Pembelajaran menyenangkan, diyakini dapat merangsang minat siswa untuk belajar, merangsang rasa penasaran intelektual, serta memudahkan siswa untuk menerima dan merekam informasi yang diterimanya.

Salah satu kendala dalam pembelajaran adalah rasa bosan. Metode pembelajaran konvensional yang menekankan logika yang ketat, sikap mental serius, pendidikan berlangsung di ruang kelas dengan menggunakan komunikasi bersifat verbal, tertulis dan tatap muka (face to face), kesemuanya itu menciptakan atmosfir atau suasana kelas yang kaku dan membosankan.

Dapat dibayangkan, tidak tepatnya metode pembelajaran yang diterapkan membuat suasana belajar yang tercipta tidak kondusif. Siswa akan merasakan keadaan yang monoton, tidak memiliki suatu visi, dan proses pembelajaran hanya diam pada kondisi statis.

Suasana yang tidak mendukung tersebut cenderung membuat siswa menjadi bosan. Malas untuk memperhatikan pelajaran ketika guru menerangkan. Hasil belajar siswa menjadi tidak memuaskan, dan bahkan memungkinkan siswa tidak mendapatkan apa-apa dari ilmu yang disampaikan oleh guru.

Perlu dicermati, dalam proses pembelajaran suasana yang menyenangkan mempengaruhi kualitas belajar siswa, karena suasana senang akan mempengaruhi cara otak dalam memproses, menyimpan dan mengambil informasi dengan lebih maksimal.

Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori didalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana menyenangkan. Siswa yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang. Prestasi yang diperoleh dengan belajar dalam keadaan terpaksa tidak akan bertahan lama.

Untuk mencapai keberhasilan dalam menyampaikan pelajaran, suasana yang menyenangkan adalah harga mati. Selain siswa dapat belajar tanpa harus merasa bosan, suasana yang menyenangkan bisa merangsang kepenasaran intelektual mereka.

Mengusung konsep edutainment, dimana siswa diajak bermain sambil belajar, menawarkan suatu pendekatan unik yang merubah paradigma negatif anak terhadap belajar. Efek sampingnya, siswa akan merasa bersemangat untuk belajar dan lebih menerima tantangan. Karena itu, membuat siswa senang dengan memadukan dua aktifitas yaitu pendidikan dan hiburan (Edutainment) dalam belajar mutlak penting.

Seto Mulyadi, seorang psikolog sekaligus pemerhati anak menyebutkan bahwa belajar dan bermain adalah hak anak. Anak-anak yang dituntut untuk belajar terus dan waktu bermainnya hilang, selain haknya dilanggar, sikap pemaksaan yang tidak seimbang ini justru akan membuat anak menjadi stres.

Padahal, lanjut pria yang juga menjabat sebagai ketua Komisi Nasional Perlindungan Anakini, bermain tidak bertentangan dengan kegiatan belajar. Justru dengan bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak, sangat membantu proses belajar mengajar. Dengan pemenuhan hak bermain pada anak, anak-anak akan lebih bahagia, kreatif, dan cerdas.

Berkonsepkan “learning is fun” (belajar itu asyik), Edutainmentsebenarnya bukan konsep yang baru muncul belakangan. Ia berkembang seiring wacana masa anak-anak (childhood), pembelajaran (learning) dan bermain (play). Edutainment diciptakan untuk menarik minat belajar terhadap suatu pokok materi pelajaran.

Sesuai cirinya yang bersifat mendidik sekaligus menghibur, Edutainment dalam ruang kelas mencoba menawarkan pengalaman dan pengembangan logika, emosi dan imajinasi yang seimbang walau sering kali porsi fun and playlebih besar ketimbang proses-proses logika dan mental serius untuk memperbesar daya tarik. Media narasi, gambar bergerak, warna, lagu, animasi, diracik untuk mendapatkan efek menghibur yang sebesar-besarnya.

Sejauh ini, Pembelajaran yang mengusung konsep edutainment dapat memacu perasaan positif (senang/gembira) dan mempercepat anak menangkap materi yang disampaikan. Jika seorang siswa mampu menggunakan potensi nalar dan emosinya secara jitu, maka ia akan dapat membuat loncatan prestasi belajar yang tidak terduga sebelumnya.

Pada akhirnya, dari pembelajaran yang menyenangkan akan terjalin komunikasi yang saling mendukung dan kohesi yang kuat antara guru dan murid dalam suasana yang sama sekali tidak ada penekanan, baik tekanan fisik maupun psikologis.

Sebab, apapun alasannya, yang namanya tekanan hanya akan mengerdilkan pikiran siswa, sedangkan kebebasan apapun wujudnya akan dapat mendorong terciptanya iklim pembelajaran (learning climate) yang kondusif.