Kekuatan dan Kelemahan BPR

Sabtu, 13/10/2012

NERACA

Jika melihat angka pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan Kredit BPR, sebenarnya BPR sedikit lebih unggul dibandingkan dengan perbankan secara umum. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pangsa pasar DPK maupun Kredit BPR di tengah industri perbankan.

Praktisi Perbankan Irianto menilai, walaupun pertumbuhan DPK BPR lebih tinggi dari pertumbuhan DPK perbankan secara umum, namun pertumbuhan DPK BPR ternyata jauh tertinggal jika dibandingkan dengan pertumbuhan kreditnya. Akibatnya, angka LDR BPR terus berada di atas 100%.

Namun sayang di tengah kehebatan BPR dalam melakukan ekspansi kredit yang begitu besar, ternyata belum diimbangi dengan kualitas kredit yang baik. Angka NPL (Non Performing Loan) BPR sejak tahun 2002 hingga September 2007 selalu berada di atas angka NPL perbankan secara umum.

Per September 2007 NPL BPR sebesar 8,49% sedangkan NPL Bank Umum hanya sebesar 5,17%. Akibat NPL yang terus meningkat tersebut akhirnya memperburuk angka ROA (Return On Asset) BPR di mana per September 2007 hanya sebesar 2,62%, jauh di bawah ROA perbankan umum sebesar 2,84%.

Selain persoalan NPL yang tinggi, rendahnya angka ROA BPR juga disinyalir akibat dari sumber dana BPR yang lebih banyak bertumpu pada Deposito yang berbiaya mahal dengan porsi sekitar 70%, dan sisanya sebesar 30% berupa Tabungan.

Solusi ke Depan

Eksistensi BPR jelas sangat dibutuhkan, khususnya oleh UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah Tanah Air. Namun demikian, dengan kemampuan BPR yang relatif masih sangat kecil di tengah industri perbankan nasional, maka perlu diupayakan berbagai langkah untuk meningkatkan kemampuan BPR dalam megembangkan bisnisnya melalui perluasan jangkauan dan peningkatan permodalan.

Sampai saat ini, distribusi jaringan kantor BPR masih terkonsentrasi di enam Provinsi yaitu Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Bali. Sementara jumlah kantor BPR di propinsi DKI Jakarta masih sangat kurang, padahal di provinsi inilah lebih dari 50% perputaran uang di Indonesia terjadi. Oleh karena itu, agar BPR tidak semakin tertinggal dibandingkan dengan industri perbankan secara umum, maka perluasan jaringan BPR di Propinsi DKI perlu menjadi pertimbangan.

Selanjutnya, untuk meningkatkan profitabilitas BPR, maka sumber dana BPR seyogianya mulai digeser ke Tabungan yang berbiaya lebih murah. Memang tidak mudah untuk meningkatkan daya saing Tabungan BPR di tengah maraknya penawaran produk tabungan dengan beragam fitur oleh Bank Umum.

Namun demikian, ada usulan menarik dari Pengurus Perbarindo, bahwa untuk meningkatkan daya saing BPR ke depan agar segera dibentuk APEX Bank (Bank Induk) bagi BPR, sehingga APEX Bank ini dapat menjadi pusat inovasi bagi BPR, termasuk menciptakan produk tabungan standar bagi BPR agar dapat bersaing dengan produk Tabungan Bank Umum.

Akhirnya, untuk dapat segera mengimbangi kecepatan ekspansi kredit BPR, untuk jangka menengah seyogianya BPR segera meningkatkan kinerjanya agar dapat menarik Bank Umum guna melakukan program kemitraan (linkage program) untuk memperkuat sumber pendanaan yang saat ini menjadi kendala utama BPR.