Imbas Koreksi Harga CPO, Providen Pangkas Jumlah IPO

PT Provident Agro Tbk

Selasa, 09/10/2012

NERACA

Jakarta – Meskipun harga komoditas tengah mengalami penurunan harga, rupanya tidak memberikan dampak signifikan terhadap pembukaan perdagangan perdana PT Provident Agro Tbk (PALM). Pasalnya, lima menit usai listing di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI), saham Provident Agro berada pada level Rp 465 atau naik 15 poin dari harga perdana. Saham perseroan sempat ada di posisi tertinggi Rp 540, dan posisi terendah Rp 465. Saham perseroan telah ditransaksikan sebanyak 22.176 lot dengan total volume Rp 5,3 miliar.

Kendatipun demikian, perseroan mengakui dampak dari penurunan harga komoditas berimbas pada penurunan size IPO. Direktur Keuangan PALM Devin Antonio Ridwan mengatakan, terjadinya penurunan size IPO dari target semula sebesar 25% menjadi 13,4% dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Penurunan harga lebih kepada kebutuhan perseroan, namun harga CPO, faktor regional dan internal juga menjadi indikator pengambilan keputusan,”katanya di Jakarta, Senin (8/10).

Perseroan dalam pencatatan sahamnya di BEI, melepas saham ke publik sejumlah 659.151.000 lembar atau 13,4% dari modal disetor dan ditempatkan penuh pada hari Senin kemarin (8/10). Jumlah ini terpangkas dari perkiraan awal, 1.422.945.000 lembar (25%) saham.

Langkah Tepat

Menurut analis fundamental dari E-trading Securities, Andrew Argado, di saat kondisi perekonomian global yang masih lesu dan harga CPO yang sedang mengalami penurunan, pilihan menurunkan size IPO merupakan pilihan tepat. “Lebih baik menjual dengan porsi kecil tapi dengan harga bagus daripada menjual dengan porsi besar tapi harga lebih rendah karena porsi perolehan dananya akan sama saja.” jelasnya.

Adanya kebijakan quantitative easing 3 yang dikeluarkan The Fed yang diharapkan dapat meningkatkan harga komoditas, lanjut Endrew belum akan berdampak pada kenaikan harga CPO.

Sementara itu, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan harga CPO masih belum akan pulih sampai kuartal pertama 2013 sehingga makin memperberat kondisi emiten berbasis CPO. “Kalau saya pribadi bearish ya atas saham berbasis CPO berhubung harganya jatuh tajam dibanding akhir 2011 masih diharga 3.175 ringgit Malaysia apalagi dibanding harga akhir 2010 yg masih berkisar 3.800 ringgit Malaysia,” tandasnya.

Akuisi 5 Perkebunan

Lebih lanjut Direktur Keuangan PT Provident Agro Tbk, Devin Antonio Ridwan menuturkan, pasca IPO nanti pihaknya berencana melakukan pengembangan usaha atau pabrik baru pada tahun depan. “Pengembangan pabrik start-nya baru tahun depan, saat ini fokus perusahaan lebih ke arah internal, infrastruktur, dan akuisisi perusahaan,” ujarnya.

Menurut Devin, ada lima perkebunan yang akan diakuisisi, yaitu Kalimantan Barat, Sumatera dan Lampung dengan nilai akuisisi sekitar USD90juta sampai USD100 juta. Sampai dengan Juni 2013, Provident Agro mencatat, kebutuhan belanja modal diperkirakan sebesar Rp180 miliar.

Nilai tersebut termasuk beberapa perusahaan yang diakuisisi. Menurut Devin, saat ini perusahaan sedang mencari dana pinjaman untuk kurun waktu dua tahun mendatang. Meskipun demikian, sampai dengan saat ini pihak perusahaan belum menujuk ke bank yang menawarkan bantuan pinjaman tersebut.

Sebagai informasi, perseroan merupakan perusahaan induk dari perkebunan kelapa sawit. Perseroan dimiliki secara bersama-sama oleh PT Provident Capital Indonesia dan PT Saratoga Sentra Business dengan presentase kepemilikan saham masing-masing sebesar 50%. Berperan sebagai penjamin emisi efek adalah PT Indo Premier Securities dan PT DBS Vickers Securities Indonesia. Dalam penawaran perdana saham kali ini, perseroan mendapatkan dana sekitar Rp 296,6 miliar. (lia)