BUMN Gula Pesimis Capai Swasembada 2014

Selasa, 09/10/2012

NERACA

Jakarta - Direktur Utama beberapa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengelola dan memproduksi gula sangat pesimis terhadap target swasembada gula pada tahun 2014 yang besarannya 50 juta ton bakal bisa tercapai. Rata–rata Direktur Utama di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, VII, IX, X dan PT RNI yang kesemuanya pesimis bisa mencapai target yang sudah dicanangkan untuk swasembada gula.

Direktur Utama PTPN II, Hataram Muda Nasution mengatakan pesimistis pencapaian swasembada gula pada tahun 2014 akan terwujud, bahkan PTPN II cenderung ingin menutup usahanya pada saat ini dikarenakan hambatan dan rintangan yang dihadapi. “Lebih baik tebu digunakan untuk industri lain dan PTPN II ini kita tutup saja dengan banyaknya kesulitan dan persoalan dalam mengelola industri tebu,” katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Senin (8/10).

Hataram menjelaskan persoalan dan masalah ini muncul diakibatkan karena adanya berbagai persoalan dan ancaman. Pada saat ini, Sumatera Utara yang merupakan wilayah kelola dari PTPN II memiliki permasalahan lahan yang tidak kunjung selesai. “Dalam kasus tanah di Indonesia, Sumatera Utara mendapatkan peringkat satu dalam kasus tanah di Indonesia. Hal ini mengakibatkan hampir setiap tahunnya tebu di PTPN II mengalami gangguan atau masalah,” ungkapnya.

Hataram juga menuturkan bahwa adanya faktor cuaca yang menjadi hambatan menurunnya produktifitas gula di Sumatera Utara khususnya di dua pabrik gula milik PTPN II yaitu Sei Semayang dan Kualamadu kemudian pasokan tebunya juga menurun. Hal ini menyebabkan pabrik gula Sei Semayang hanya bergantung terhadap proses produksi raw sugar.

“Sampai hari ini rencana kita dalam pabrik gula Semayang yang sangat minim pasokan tebunya, sepanjang kita masih bisa melakukan impor gula maka pabrik gula yang ada di Semayang akan tetap berjalan. Kita mengolah raw sugar menjadi Gula Kristal Putih (GKP) dan hal ini yang menolong pabrik gula Semayang,” jelasnya.

Kemudian Direktur Utama PTPN VII, Boyke Budiono mengatakan pada saat ini produksi gula PTPN VII yang mempunyai pabrik gula Cinta Manis dan Gulamayang baru mencapai 56 ribu ton dari target sebesar 71 ribu ton. “Lahan yang digunakan oleh PTPN VII bahkan terus berkurang dimana lahan yang tadinya 14 ribu hektare menjadi 9 ribu hektare,” ujarnya.

Boyke menjelaskan PTPN VII tidak tinggal diam dengan penurunan produksi itu dimana dua pabrik gula milik PT PTPN VII yang berada di Sumatera Selatan dan Lampung ini tetap diupayakan secara optimal.”Dua pabrik ini apabila di total luas areanya bisa mencapai 19 hektare. Inilah yang kita gunakan untuk menggenjot segala kekurangannya,” katanya.

Sedangkan Direktur Utama Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Ismed Hasan Putro mengakui bahwa target untuk swasembada gula sebesar 3,1 juta ton pada tahun 2014 mendatang akan sulit tercapai apabila pemerintah belum memperluas lahan perkebunan tebu. “Sampai kiamat pun tidak akan ada swasembada gula apabila lahannya saja kurang seperti ini,” ungkapnya.

Ismed memberikan contoh dimana lahan perkebunan RNI yang berada di Madiun, lahan tersebut tidak bisa ditanam tebu karena sudah terletak di tengah kota. Lahan di Madiun itu cocoknya dijadikan lahan bisnis properti saja. ”Pemerintah tidak mempunyai regulasi tata ruang yang baik dalam penataan tata ruang kota sehingga regulasinya menjadi lemah dan tidak tepat untuk industri gula ini,” jelasnya.

Mendengar penjelasan dalam rapat dengar pendapat ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron menilai memang sulit untuk mencapai swasembada gula dikarenakan dua PTPN yaitu PTPN II dan PTPN VII sudah menyatakan ketidaksanggupan untuk program swasembada gula. “Kita harus optimis, bagaimana mungkin tercapai swasembada gula apabila stakeholder yang menangani tentang gula ini menjadi pesimis,” katanya.

Herman menyarankan untuk membuat satu BUMN yang khusus mengelola dan memproduksi gula. Hal ini dilakukan dengan bertujuan supaya target swasembada gula dapat tercapai. “Apabila melihat kinerja seperti ini maka saya kira harus ada satu BUMN khusus yang menangani gula ini,” ujarnya.