Investasi Sektor Manufaktur Diarahkan ke Indonesia Timur

Pemerintah Siapkan 6 Kawasan Industri

Selasa, 09/10/2012

NERACA

Jakarta – Sejumlah investor dari luar negeri mengaku akan berinvestasi di sektor manufaktur. Namun Kementerian Perindustrian akan mengarahkan investasi tersebut ke arah Indonesia bagian timur. Saat ini, Kemenperin menyiapkan 6 kawasan industri di Jawa dan Indonesia bagian timur serta Sumatera untuk mengantisipasi meningkatnya investasi di sektor manufaktur.

Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin, Dedi Mulyadi, mengungkapkan, beberapa investor telah menyatakan minatnya untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Evaluasi kesiapan kawasan industri, menurut Dedi, sudah dimulai pada awal bulan ini. “6 kawasan industri baru yang disiapkan berada di wilayah Bintuni (Papua), Pomalaa (Sulawesi Selatan), Batu Licin (Kalimantan Selatan), Kuala Tanjung (Sumatera Utara), Bojonegara (Banten), dan Purwakarta (Jawa Barat). Selain itu, PT Pupuk Indonesia akan mendirikan pabrik di Bintuni dan di wilayah Pomalaa PT Aneka Tambang Tbk akan berekspansi,” paparnya di Jakarta, Senin (8/10).

Sampai dengan 2014, lanjut Dedi, pemerintah menargetkan bisa membuat 18 kawasan industri baru. “Setiap tahunnya kami proyeksikan 6 kawasan industri baru siap dioperasikan. Namun, pengembangan kawasan industri baru terkendala harga tanah yang semakin mahal,” ujarnya.

Dedi menambahkan, Harga tanah di Indonesia rata-rata US$200 per meter persegi lebih mahal dibandingkan Malaysia maupun China. “Kawasan di Purwakarta akan dikembangkan untuk menampung kelebihan permintaan investor yang menginginkan lahan di Karawang atau Bekasi. Mahalnya harga tanah membuat daya saing industri semakin menurun,” tandasnya.

Sementara itu,Kepala Pusat Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kemenperin Harris Munandar mengungkapkan,realisasi investasi pada 12 sektor industri manufaktur di Indonesia selama semester I-2012 melonjak 56,94% menjadi Rp 72,57 triliun dibandingkan periode sama tahun 2011 sebesar Rp 46,24 triliun.

"Rangkuman data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi sama bagusnya baik pada penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN),” ujar Harris.

Pada semester I-2012, nilai PMA tercatat sebesar US$ 5,45 miliar, atau setara Rp 51,77 triliun dengan asumsi kurs Rp 9.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Sedangkan nilai PMDN mencapai Rp 20,80 triliun. Sebagai perbandingan, pada periode sama 2011, realisasi investasi PMA US$ 3,25 miliar, atau setara Rp 27,62 triliun dengan asumsi kurs Rp 8.500 per dolar AS. Sedangkan PMDN-nya sebesar Rp 18,62 triliun.

Minat Investor

Sementara itu, dilihat dari nilainya, investor asing lebih banyak investasi pada industri logam, mesin, dan elektronik, kimia dan farmasi, serta makanan dan minuman pada semester pertama tahun ini. Selain pada subsektor tersebut, investor nasional juga meminati investasi pada industri kertas dan percetakan, mineral nonlogam, serta karet dan plastik.

Menurut Harris, pertumbuhan investasi manufaktur pada semester I-2012 dipacu oleh berbagai faktor pendukung. Beberapa di antaranya keunggulan Indonesia yang memiliki potensi pasar yang besar. Selain itu, iklim investasi di dalam negeri juga semakin membaik.

Tren peningkatan investasi itu diproyeksikan terus berlangsung hingga tahun depan. Perseteruan politik antara Jepang dan Tiongkok yang saat ini masih terjadi telah mengakibatkan banyaknya penutupan pabrik milik pengusaha Jepang di Tiongkok dan berpotensi menguntungkan Indonesia.

"Kalau kondisi penutupan berlangsung terus tanpa waktu yang jelas kapan ada penyelesaian, tentu mereka harus memutuskan hengkang. Selain Thailand, alternatif relokasi adalah Indonesia," kata dia. Harris menjelaskan, pasar Indonesia cukup menarik karena berpenduduk sekitar 240 juta jiwa dan daya beli masyarakatnya sedang bertumbuh, terutama didukung oleh jumlah kelas menengah yang terus meningkat. Hal itu telah menambah keunggulan Indonesia sebagai tujuan investasi.

PMA pun terus masuk ke Tanah Air dan jumlah investasinya terus naik. Pemerintah melalui Kemenperin pun terus mendorong arus masuk investasi ke sektor manufaktur, baik untuk PMA maupun PMDN. Secara khusus, Kemenperin mendukung investasi baru yang bernilai tambah, seperti perusahaan asal Taiwan, Foxconn, yang akan membangun pabrik komponen elektronik dan handphone (HP), serta fasilitas perakitannya. "Guna menopangnya, berbagai insentif, seperti tax holiday pun ditawarkan, khususnya untuk PMA. Dan, kami juga terus memacu investasi di sektor industri berteknologi tinggi," ucap dia.

Secara terpisah, Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Harry Warganegara menuturkan, kebijakan pemerintah untuk memacu hilirisasi industri berbasis sumber daya alam (SDA) mulai berdampak positif. Hal itu dapat dilihat dari maraknya pengajuan izin investasi di sektor hilir dan telah mendorong pertumbuhan investasi di dalam negeri.

"Pertumbuhan investasi memang terus terjadi karena kebijakan hilirisasi nonmigas yang sudah mulai berjalan dan di per tambangan sudah mulai efektif. Hipmi berharap di sektor lain juga dilakukan supaya Indonesia bisa lebih mandiri. Masak HP dan TV saja harus kita impor terus," katanya. Dia optimistis, pertumbuhan investasi di Indonesia akan terus berlangsung, termasuk pada sektor manufaktur, selama pemerintah konsisten dengan kebijakannya. "Jangan mundur lagi," harap Harry.