Tidak Hanya Bicara Untung, Indeks Sri Kehati Komitmen Emiten Peduli Lingkungan - Industri Pasar Modal Berbicara CSR

Ahmad Nabhani

Jakarta – Perkembangan dunia bisnis saat ini tidak bisa berdiri sendiri, tetapi perlu memperhatikan dunia sekitar dan termasuk tanggung jawab sosial perusahaan untuk keberlangsungan dunia usaha lebih lanjut. Tanggung jawab sosial kini bukan lagi cuma urusan pemerintah, tapi semua pihak termasuk dunia bisnis. Oleh karena itu, tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CRS) tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh para pelaku bisnis dan termasuk perusahaan publik yang sahamnya tercatat di bursa efek Indonesia (BEI).

Penerapan dan praktek CSR dalam industri pasar modal sudah diterapkan di negara maju, sebagai contoh New York Stock Exchange memiliki Dow Jones Sustainability Index (DJSI) bagi saham-saham perusahaan (emiten) yang dikategorikan memiliki nilai corporate sustainability. Salah satu kriteria yang penting dinilai adalah praktik CSR emiten bersangkutan. Begitu pula dengan London Stock Exchange yang meluncurkan Social Responsible Investment (SRI) Index dan Finacial Times Stock Exchange (FTSE) yang punya FTSE Good sejak 2001.

Inisiatif ini kemudian diikuti oleh otoritas bursa saham di Asia, seperti Hangseng Stock Exchange, Singapore Stock Exchange dan termasuk di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan meluncurkan Indeks Sri Kehati pada tahun 2009. Bahkan Indeks Sri Kehati ini diklaim indeks kedua yang muncul di Asia dengan berdasarkan aspek-aspek corporate social responsibility (CSR) dan sebelumnya, indeks serupa telah di luncurkan di Jepang.

Indeks SRI-Kehati dibuat atas kerja sama BEI dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), yayasan pengelola endowment fund dibidang pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. Nama SRI-Kehati mengacu pada tata cara pengelolaan perusahaan yang bersifat Sustainable and Responsible Investment (SRI).

Menurut Direktur Eksekutif Kehati M.S Sembiring, sebenarnya Kehati sudah merancang instrumen investasi saham dari emiten yang peduli lingkungan ini pada 2008. Tujuannya adalah mendukung usaha yang menjaga kesinambungan kekayaan alam lewat jalur pasar modal. Indeks ini, dikatakan Sembiring, merupakan panduan masyarakat yang ingin membeli saham emiten yang pro lingkungan.

Pasalnya, pelaku bisnis yang tidak peduli pada tanggung jawab sosial bakal sulit bersaing di pasar global, oleh karena itu, kini banyak pula perusahaan yang berlomba-lomba masuk dalam indeks Sri Kehati. Hal ini juga bagian dari konsekuensi dari adanya indeks tersebut memicu investor global, seperti perusahaan dana pensiun dan asuransi dengan modal besar yang hanya akan menanamkan dananya di perusahaan yang sudah masuk dalam indeks Sri Kehati.

Pertumbuhan Indeks Sri Kehati

Hadirnya Indeks Sri Kehati ini mulai menyadarkan publik dan termasuk investor untuk jeli memilih saham yang pro lingkungan dan tidak sekedar kinerja keuangan diatas kertas serta likuiditas saham. Terlebih saat ini aturan baru Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) bakal mewajibkan praktek CSR untuk dilaporkan dalam laporan keuangan tahunan dan menjadi indikator penilaian kinerja perusahaan.

Karena bagaimanapun juga strategi bisnis perusahaan, kini tidak bisa lagi mengabaikan dampak sosial lingkungan. Perusahaan tidak mungkin lagi menghindar dari tanggung jawab sosial karena kegiatan mereka tidak hanya dilihat dari dimensi ekonomi, tetapi juga sisi sosial dan lingkungan. Dengan kata lain, CSR harus dipertimbangkan untuk memaksimalkan manfaat bagi setiap pemangku kepentingan (stakeholder).

Kini seiring meningkatkanya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi disaham-saham yang pro lingkungan memicu pertumbuhan Indeks Sri Kehati meningkat sekitar 25% pertahun sejak pertama kali diluncurkan. Berdasarkan data BEI, nilai capital market saham Sri Kehati telah mencapai Rp2.000 triliun atau sekitar 55% dari capital market BEI sekitar Rp3.800 triliun.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pada periode mendatang akan banyak investor yang berinvestasi di saham yang masuk dalam indeks Sri Kehati, “Kondisi ini didukung kesadaran masyarakat untuk berinvestasi tanpa banyak merusak lingkungan terus meningkat,”katanya.

Kesadaran tersebut kemudian diimplementasikan pada saat memilih instrumen investasi. Indeks Sri Kehati, lanjutnya, berpotensi sebagai benchmark bagi produk-produk derivatif. Beberapa manager investasi juga telah mengeluarkan reksadana berbasis indeks Sri Kehati.

Komisaris PT Mandiri Managemen Investasi Hery Gunardi menambahkan, indeks Sri Kehati menjadi perhatian investor dimana aspek finansial bukan jadi yang utama. Namun secara fundamental bagi perusahaan untuk tujuan investasi jangka panjang dan menengah. Mandiri Manajemen Investasi sendiri meluncurkan Reksadana Saham Sri Kehati. Indeks diharapkan memiliki penilaian baik bagi investor jangka panjang dan menengah, dalam membentuk portfolio.

Harga Saham Lebih Baik

Banyak manfaat yang didapatkan perusahaan yang rajin melakukan praktek CSR, salah satunya banyak diminati investor, sebagai alat promosi pemasaran produk perusahaan dan meningkatkan citra dan value bagi perusahaan hingga meningkatkan harga saham perusahaan lebih baik lagi.

Pengamat CSR Ahmad Daniri mengatakan, biasanya perusahaan yang dalam laporan tahunnya menyampaikan aktifitas CSRnya mendapat perhatian lebih positif dari investor saham, “Malah harga sahamnya bisa lebih baik karena kelangsungan usahanya atau corporate sustainabilitynya lebih menyakinkan investornya,”ungkapnya.

Dia mengungkapkan, berdasarkan survey yang pernah dilakukan oleh sejumlah fund manager terhadap perusahaan yang melakukan CSR, disebutkan fund manager mau memberikan harga yang lebih baik ketimbang terhadap perusahaan yang tidak melakukan CSR. Alasannya sederhana, perusahaan menjadi listed company terpercaya, kelangsungan usahanya lebih terjamin ketimbang yang tidak melakukan GCG dan CSR.

Hal senada juga disampaikan M.S Sembering, pada saat ini CSR dianggap sebagai investasi masa depan bagi perusahaan. Pasalnya, minat investor menanamkan modal di perusahaan yang menerapkan CSR lebih besar dibandingkan yang tidak menerapkan CSR. Bahkan harga saham rata-rata emiten yang melakukan CSR bisa meningkat 10% dibandingkan jika tidak melakukan CSR.

Kata M.S Sembiring, emiten yang melakukan CSR dinilai oleh para investor sebagai perusahaan yang bertanggung jawab dan tanggung jawab ini tidak hanya kepada dirinya sendiri sebagai perusahaan, tetapi juga pada lingkungannya, “Rasa tanggung jawab ini yang membuat investor merasa yakin emiten bersangkutan mempunyai komitmen tinggi terhadap kelangsungan usahanya. Nah,komitmen inilah yang sangat dihargai investor,”jelasnya.

Investasi Jangka Panjang

Praktek CSR tidak hanya sekedar bicara soal tanggung jawab sosial perusahaan semata, namun sebagai invetasi masa depan bagi perusahaan. Karena setidaknya ada empat manfaat yang didapatkan dengan praktek CSR, diantaranya perusahaan dapat tumbuh berkelanjutan dan mendapatkan citra yang positif dari masyarakat dan investor. Selain itu, perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap modal dan termasuk memanfaatkan pasar modal dan perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas.

Terkahir, perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang kritis dan mempermudah pengelolaan manajemen. Di Indonesia dari 440 jumlah emiten yang tercatatkan di pasar modal, hanya 25 emiten yang masuk dalam Indeks Sri Kehati. Sedikitnya, emiten yang masuk dalam Indeks Sri Kehati lantaran seleksi dan penilaian yang ketat dengan tetap mempertimbangkan prinsip CSR.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) D Cyril Noerhadi pernah bilang, seleksi Indeks Sri Kehati dilakukan berdasar kepada administrasi, semisal financial, free float, serta market capital,”Setelah terpilih sekian perusahaan, baru digunakan prinsip CSR untuk menyaringnya kembali,"ungkapnya.

Hasilnya, saat ini ada 25 saham yang masuk dalam indeks ini. Daftar 25 saham yang masuk dalam Indeks SRI-Kehati telah mencerminkan 53% dari total bobot IHSG, 78% dari bobot Indeks LQ45 dan 79% dari bobot Jakarta Islamic Index. Kemudian peninjauan kembali atas saham tersebut akan dilakukan sebanyak dua kali setahun. Tentunya, perusahaan yang tidak masuk dalam Indeks Sri Kehati adalah perusahaan rokok, perusahaan nuklir power, pertanian menggunakan pestisida, perjudian dan pornografi, termasuk senjata yang disebut ethical investment.

Selanjutnya, karena indeks ini diharapkan menjadi instrumen investasi, perusahaannya tidak boleh terlalu kecil, sehingga muncullah pembatasan asetnya minimal Rp 1 triliun (berdasarkan laporan keuangan tahunan yang diaudit), dengan price to earning ratio (PER) positif, dan free float ratio (porsi kepemilikan saham publik) minimal 10%.

Sebanyak 25 saham yang masuk dalam indeks Sri Kehati

PT Adhi Karya Tbk (ADHI)

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

PT Bank Danamon Tbk (BDMN)

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB)

PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP)

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)

PT Indosat Tbk (ISAT)

PT Jasa Marga Tbk (JSMR)

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)

PT Medco Energi International Tbk (MEDC)

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)

PT Semen Gresik Tbk (SMGR)

PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)

PT Timah Tbk (TINS)

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)

PT XL Axiata Tbk (EXCL)

:

Related posts