Operasi Pangea V Berantas Pemasaran Obat Ilegal via Online

Selasa, 09/10/2012

NERACA

Jakarta - Masih maraknya peredaran obat ilegal dan atau palsu di seluruh dunia, menjadi titik tolak penekanan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap perlunya kerjasama semua negara dalam melakukan penertiban peredaran obat ilegal dan atau palsu tersebut. Terutama mengingat dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan perekonomian suatu negara. Terlebih dewasa ini, dimana kemajuan teknologi informatika memungkinkan obat ilegal dan atau palsu dipasarkan lintas negara secara online.

Penertiban obat ilegal termasuk palsu yang dipromosikan melalui internet telah dikoordinasikan oleh International Criminal Police Organization (ICPO)-Interpol yang diberi sandi Operasi Pangea yaitu suatu aksi internasional yang dilakukan dalam satu minggu dengan sasaran penjualan produk obat ilegal termasuk palsu secara online. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Lucky S. Slamet mengatakan, tahun ini merupakan tahun kedua Indonesia berperan aktif dalam Operasi Pangea.

“Operasi ini difasilitasi oleh National Central Bureau (NCB)-Interpol dengan tujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap risiko kesehatan terkait obat, suplemen makanan ilegal serta produk palsu dan mengungkap semua pelaku sindikat jaringan yang terlibat termasuk melakukan penyitaan, penangkapan dan penahanan termasuk menutup situs yang mempromosikan produk ilegal termasuk produk palsu,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang di terima Neraca, Senin (8/10).

Pada tahun 2008 Operasi Pangea I diikuti oleh 8 negara, Operasi Pangea II 2009 diikuti oleh 25 negara, Operasi Pangea III 2010 diikuti oleh 44 negara, Operasi Pangea IV 2011 diikuti oleh 81 negara dan Operasi Pangea V 2012 diikuti oleh 100 negara termasuk Indonesia. Pelaksanaan Operasi Pangea V di Indonesia dilakukan secara terpadu oleh BPOM, Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Direktorat Jenderal Bea Cukai dalam kerangka Satuan Tugas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal pada 25 September – 2 Oktober 2012.

83 website

Sebelum Operasi Pangea V dilaksanakan, BPOM telah melakukan identifikasi dan menemukan 83 situs website yang memasarkan obat ilegal dan atau palsu. Pada saat pelaksanaan operasi, dilakukan pemeriksaan atas 4 sarana distribusi yaitu 3 sarana di wilayah provinsi DKI Jakarta dan 1 sarana di wilayah provinsi DI Yogyakarta. Pada pemeriksaan tersebut ditemukan dan disita 66 item obat ilegal yang terdiri dari 40 item produk kategori disfungsi ereksi, 3 item perangsang wanita (female libido drugs), 4 item anestesi lokal, 8 item obat tradisional penurun berat badan dan 2 item suplemen makanan ilegal, serta 9 item produk kategori lainnya dengan nilai keekonomian ditaksir sekitar Rp150 juta.

Tren temuan Operasi Pangea V di Indonesia ini hampir sama dengan tren temuan Operasi Pangea IV tahun 2011 yaitu obat disfungsi ereksi, diikuti jenis obat penurun berat badan dan female libido drugs. Sebagai tindaklanjut dari hasil operasi tersebut, 2 (dua) orang pelaku yang memasarkan produk obat ilegal secara online telah ditahan di Bareskrim Polri dan telah dilakukan penyitaan terhadap seluruh barang bukti untuk selanjutnya akan diproses pro-justitia. Untuk situs website yang telah teridentifikasi menawarkan dan memasarkan produk obat ilegal termasuk palsu tersebut, BPOM selaku ketua Satuan Tugas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal mengajukan usulan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk pemblokiran website.