RS untuk Pasien Gangguan Jiwa Perlu Ditingkatkan

NERACA

Sinergi pemberdayaan berbasis Rumah Sakit dan pemberdayaan komunitas untuk rehabilitasi pasien Gangguan Bipolar (GB) sangat diperlukan terutama agar pasien dapat kembali pada fungsi psikosososial mereka secara optimal.

Perawatan RS diharapkan lebih diarahkan untuk perawatan fase akut yang seharusnya bisa dilayani dengan fasilitas layanan berbasis komunitas agar pasien dapat kembali memiliki kemampuan berintegrasi dengan masyarakat. Namun, sayangnya di Indonesia sampai saat ini belum terdapat layanan berbasis komunitas untuk pasien GB.

Dalam data Daily Adjusted Life Year (DALY), disebutkan bahwa GB termasuk dalam penyakit yang menyebabkan beban yang tinggi, bahkan dalam proyeksi beban akibat penyakit tahun 2020, GB menempati urutan ke 2 setelah penyakit kardiovaskular.

Menurut perhitungan, beban yang diakibatkan oleh GB adalah sebesar US$2.165-US$6.475 atau sekitar Rp.20.000.000 s/d Rp.61.000.000 per tahunnya. Beban terbesar adalah untuk biaya pengobatan dan perawatan.

Prof. Dr. dr. Aris Sudiyanto, SpKJ (K) dari Universitas Sebelas Maret Solo mengatakan, ”Pelayanan Rumah Sakit diharapkan mampu memberikan pelayanan dasar pada pasien GB yang meliputi deteksi dini, konseling dan psikoedukasi, serta melakukan rujukan kasus spesialistik apabila diperlukan. Rumah Sakit sekaligus dapat menjadi pusat edukasi sekaligus pusat terapi yang berkelanjutan bagi pasien dengan GB,” tuturnya.

Rehabilitasi pasien GB hampir sama dengan gangguan jiwa yang lain, hanya saja terapinya yang berbeda. Begitu terapi psikotik selesai, maka pasien bisa hidup normal kembali. Harapan akan kembalinya pasien GB pada fungsi psikosial bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan gangguan jiwa lainnya.

Dalam paparannya, Prof. Aris menjabarkan bahwa setiap RSJ memiliki standardisasi penanganan pasien GB mulai dari pemeriksaan dan penegakan diagnosis sampai kepada pemilihan obat, pemondokan hingga rehabilitasi.

Namun demikian, secara umum pemberdayaan RSJ untuk pasien GB di Indonesia perlu ditingkatkan. Pemberdayaan secara komprehensif sangat diperlukan agar prevalensi GB bisa berkurang.

“Oleh karena itu, apabila ada anggota keluarga yang mengalami GB, sebaiknya langsung dibawa ke RSJ agar lebih mudah ditangani, karena sebenarnya gangguan jiwa bisa disembuhkan. Di lain pihak, RSJ harusnya lebih proaktif dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat,” tuturnya.

Pada dasarnya, pelayanan kesehatan jiwa komunitas merupakan jejaring pelayanan kesehatan jiwa yang menyediakan pengobatan berkelanjutan, akomodasi, okupasi, dan dukungan sosial bagi mereka yang mengalami problem kesehatan jiwa. Upaya pelayanan kesehatan ini bersifat inklusif, mengintegrasikan pelayanannya dalam kegiatan yang sudah ada di masyarakat.

BERITA TERKAIT

BTN Kucurkan Kredit KPR Untuk PNS Lebak - Dukung Pengembangan Maja

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan properti di kawasan Maja yang terus tumbuh pesat, hal tersebut tentunya menjadi potensi dan peluang…

Wakil Presiden RI - KPK Banyak "Pasien", BPKP Tidak Efektif

Jusuf Kalla Wakil Presiden RI KPK Banyak "Pasien", BPKP Tidak Efektif  Jakarta - Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Jusuf Kalla…

Pemerintah Perlu Lobi Amerika Terkait Ancaman Pencabutan GSP - Strategi Niaga

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, pemerintah perlu melobi pemerintah Amerika Serikat terkait potensi pencabutan fasilitas…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Kekurangan Vitamin D Bisa Bikin Tubuh Jadi Obesitas

Kekurangan vitamin D ternyata tak hanya berdampak bagi tulang atau gigi. Penelitian terbaru juga menemukan hubungan kekurangan vitamin D dengan…

Ini Alasan Kenapa Makan Cokelat Bikin Orang Bahagia

Di sore hari yang memusingkan, segelas cokelat panas bisa membantu melepaskan segala kepenatan yang mengganggu pikiran. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa…

Menguak Mitos Seks Populer

Tiap orang tumbuh dalam budaya yang mengajarkan hal-hal berbeda mengenai seksualitas. Selain belajar tentang seks dari lingkungan dan keluarga, banyak…