BI Ingin Carikan Jalan Keluar - Kisruh Gadai Emas Syariah

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah memanggil tujuh nasabah PT BRI Syariah untuk dimintai klarifikasi terkait produk gadai emas syariah. Bank sentral akan menampung masukan dari ketujuh nasabah bank tersebut sehingga dapat segera di cari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak (PT Bank Syariah dan tujuh nasabah).

"Aduan mereka kita tampung dulu, dan segera disampaikan ke pimpinan. Formulasinya belum, nanti kita lihat dulu. Agenda selanjutnya akan kami tanyai ke BRI Syariah, jadi nanti akan ketemu titik tengahnya," kata Direktur Grup Perbankan Syariah BI, Nawawi, dalam pertemuan dengan para nasabah gadai emas BRI Syariah, di Jakarta, Kamis (4/10), pekan lalu.

Ketujuh nasabah tersebut memintakan empat hal kepada BI untuk segera ditindaklanjuti. Hal tersebut antara lain meminta supaya Direktur Eksekutif Perbankan Syariah BI mencabut pernyataan bahwa Butet Kartaredjasa sebagai salah satu nasabah yang spekulatif. Lalu, peninjauan kembali terkait BI Checking (sistem informasi debitor), serta penggantian kerugian senilai harga emas saat ini jika aset sudah dijual.

Menurut Tan Leo Hardianto, salah seorang nasabah BRI Syariah asal Semarang, permasalahan ini dimulai karena ada pemutusan sepihak dari kontrak yang sudah disepakati sebelumnya. Padahal, lanjut Tan Leo, dirinya dan beberapa nasabah lain sudah berembuk dan mengajukan permohonan agar batas waktu dimundurkan sampai 30 September 2012.

Dia juga menyebutkan, saat itu perwakilan BRI Syariah menyatakan permohonan sudah disetujui kantor pusat. “Permasalahan ini bermula karena pemutusan (kontrak) sepihak dari BRI Syariah. Kan, di akad kredit bisa memperpanjang sampai kapan pun asal memenuhi kewajiban. Harusnya, selama nasabah membayar kewajibannya, tidak masalah dong,” ungkap Tan Leo.

Sementara Butet Kertaredjasa yang bisa disebut whistle blower bagi terbukanya masalah ini, mengatakan bahwa dirinya pada awalnya tertarik kepada promosi mengenai gadai syariah ini dan tergiur dengan keuntungannya.

“Gadai syariah ini dikampanyekan di seluruh Indonesia. Nasabah hanya membayar 10% dari jumlah yang diinginkan, dan 90% di-cover (dibiayai) BRI Syariah. Ini yang buat saya tertarik karena yang terbayang buat investasi. Jadi harapannya saat emas naik, bakal dapat keuntungan. Terus nanti hanya bayar ijarah (biaya titip sewa) harian,” tutur Butet.

Kemudian, dia merasa dirugikan karena aset emasnya dijual secara sepihak oleh BRI Syariah pada 18 Agustus 2012, padahal Butet sudah menyediakan dana sampai Rp119 juta untuk membayar ijarah produk gadai syariah.

Oleh karena itu, Butet meminta BI mencabut pernyataan bahwa dia tidak mau membayar ijaroh (biaya sewa). “Ini pernyataan pimpinan perbankan syariah, dengan menggunakan info sepihak dari BRI Syariah,” tegasnya. Asal tahu saja, ketujuh para nasabah mengajukan somasi kepada BRI Syariah melalui kuasa hukumnya, Djoko Prabowo Saebani dan Associates, yang ditujukan ke pimpinan BRI Syariah dan Corporate Secretary Group Head BRI Syariah.

Sudah sesuai aturan

Di tempat terpisah, Direktur Utama BRI Syariah, Moch Hadi Susanto, menegaskan bahwa penjualan gadai emas perseroan saat ini sudah sesuai dengan ketentuan BI. Sehingga pihaknya tidak akan gentar menghadapi somasi dari nasabah.

"Soal gadai itu ada aturannya. Kami sudah sesuai dengan aturan BI, baik itu jangka waktu, jatuh tempo hingga risikonya. Saya tegaskan kami tidak terlibat saat jual beli emas. Begitu (harga) emas turun, yang bawa risiko, ya, yang punya emas," terang dia.

Menurut Hadi, penjualan gadai emas ini bukan risiko dari perbankan. Bank, menurut dia, hanya memiliki kewajiban saat emas sudah jatuh tempo dan harus membayar ke nasabah. "Kalau tidak dibayar, kita yang kolaps," tambahnya. Dia juga menyatakan siap untuk memenuhi bila ada panggilan dari BI, terkait laporan dari tujuh nasabah produk gadai syariahnya, yang mengklaim telah dirugikan oleh manajemen perseroan.

“Kalau dipanggil (BI) kami siap. Sebelumnya, tanpa dipanggil pun kami sudah datang sendiri (ke BI) untuk menjelaskan,” jelas Hadi. Sebagai informasi, pada periode Agustus sampai November 2011, BI mencatat peningkatan produk gadai emas yang cukup besar di industri perbankan syariah.

Dalam catatan BI, jumlah rekening gadai emas sebanyak 158.884 rekening dengan nilai sebesar Rp3,08 triliun pada Juli 2011. Kenyataannya sebulan kemudian, jumlah rekening dan nominal melonjak drastis menjadi 170.664 rekening senilai Rp5,57 triliun. Dari sisi jumlah rekening gadai emas, memuncak sebanyak 213.681 rekening pada November 2011. Sementara untuk nomimal gadai emas memuncak sebesar Rp7,17 triliun pada Oktober 2011.

Related posts