Jumlah Petani Indonesia Terus Turun

Senin, 08/10/2012

NERACA

Jakarta – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mencatat, jumlah petani Indonesia dari waktu ke waktu terus menurun. Pada 2011, jumlah petani turun 2,16 juta orang atau 5,2% menjadi 39,33 juta orang dibanding dengan tahun sebelumnya 41,49 juta.

“Di sisi lain, jumlah petani gurem justru meningkat. Dalam 10 tahun terakhir, misalnya, jumlah petani gurem, yang hanya mengolah tanah garapan di bawah 0,5 hektare, meningkat dari 10,8 juta menjadi 13,7 juta orang," kata pengurus DPP HKTI Pusat Fary Dj Francis di Kupang, Minggu (7/10) seperti dilansir Antara.

Sementara itu, kata Fary, berdasar hasil proyeksi Serikat Petani Indonesia (SPI) 2008, petani gurem mencapai 15,6 juta jiwa. Selain itu, menurut anggota DPR RI asal Fraksi Gerindra itu, jumlah ladang pertanian justru semakin menurun.

Salah satu sebab turunnya jumlah petani Indonesia termasuk di NTT adalah meningkatnya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan perumahan rata-rata 30-50 ribu hektare per tahun. "Padahal saat ini jumlah lahan pertanian di Indonesia hanya mencapai 7,7 juta hektar, di mana kebutuhan kemandirian pangan mencapai 15 juta hektar," katanya.

Gejala penurunan jumlah petani dari waktu ke waktu ini diduga karena rendahnya minat masyarakat untuk menjadi petani. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara agraris.

Karena komitmen sebagai negara agraris itulah, maka setiap tahun DPR bersama pemerintah selalu mengalokasikan anggaran untuk pengembangan pertanian sebagai lahan bagi petani untuk berkarya dan mengembangkan profesi tersebut.

Pada 2013 misalnya pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp19,3 triliun untuk Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian Suswono bahkan mengatakan, anggaran tersebut dialokasikan untuk menjalankan 12 program pembangunan pertanian demi mencapai target utama pada 2013.

Target utama produksi pertanian pada 2013 adalah padi sebesar 72,06 juta ton atau naik 6,25 persen, jagung 26,0 juta ton, kedelai 2,25 ton, gula 2,81 ton dan daging sapi/kerbau sebesar 0,52 juta ton. Pada 2013, Indonesia masih dihadapkan pada target strategi nasional, antara lain peningkatan produksi pangan, terutama mencapai surplus beras 10 juta ton pada 2014.

Target lainnya adalah pencapaian swasembada jagung, kedelai, gula dan daging pada 2014, percepatan diversifikasi konsumsi pangan, stabilisasi harga pangan domestik serta peningkatan kesejahteraan petani.

Fary berharap, seluruh anggota dan aktivis HKTI terus aktif dalam memperjuangkan nasib petani. Bahkan, HKTI harus menjadi tempat yang menghasilkan ide-ide dan solusi bagi petani.

"Di sinilah tempat berkumpul semua kelompok, semua aliran dan partai politik untuk menyatukan ide memajukan pertanian di negara kita," tandasnya.

Bertepatan dengan HUT ke-39 pada April lalu, HKTI mengadakan pelatihan "System of Rice Intensification" (SRI) selama satu pekan yang diikuti oleh seluruh DPD HKTI. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keahlian petani sekaligus menyosialisasikan teknologi pertanian khusus bagi daerah-daerah yang kekurangan air untuk dapat menghasilkan padi yang berkualitas.

Selain itu, dilakukan "Round Table Discussion" tentang RUU Pangan, sehingga dihasilkan RUU Pangan yang pro petani.