Sambut "Window Dressing", Manajer Investasi Kejar Nasabah Ritel

Senin, 08/10/2012

NERACA

Jakarta - Industri reksa dana saat ini sangat kompetitif, di mana masing-masing manajer investasi berupaya menciptakan inovasi dan menjawab kebutuhan nasabah guna menggenjot kinerja perusahaan. PT Bahana TCW Investment Management misalnya, menargetkan mampu menjaring sekitar 500 nasabah di akhir tahun 2012 melalui layanan investasi reksa dana khusus ritel, SiNAR (BerinvestaSI beNAR).

Direktur Utama PT Bahana TCW Investment Management, Edward Lubis mengatakan, selain nasabah ritel, layanan tersebut juga ditujukan untuk menjangkau nasabah komunitas atau karyawan di perusahaan tertentu yang ingin berinvestasi secara rutin. “Kami kejar nasabah ritel atau individu, selain itu kita sasar karyawan di perusahaan tertentu yang memiliki pegawai 1.000 orang,” kata Edward di Jakarta (5/10).

Edward mengakui, untuk pencapaian target Rp24 triliun pihaknya mencatat masih ada defisit sekitar Rp2,5 triliun. Hal tersebut karena industri reksa dana saat ini dinilai sangat kompetitif. Sementara hingga akhir September 2012, menurut dia Bahana telah memiliki 11 produk dengan asset under management (AUM) mencapai Rp18,5 triliun di mana 80% dari jumlah tersebut saat ini berasal dari nasabah korporasi.

Edward mengatakan, dari layanan investasi reksa dana online tersebut perseroan menargetkan bisa mencapai dana kelolaan sekitar Rp 100 miliar sampai dengan akhir tahun 2012. Layanan ini, lanjut dia, memberi kesempatan calon investasi yang tidak memiliki atau belum punya akses terhadap bank distributor, terutama priority banking ataupun di luar kategori nasabah affluent.

Edward menambahkan, layanan investasi SiNaR ini bukan sekadar layanan reksa dana online. Nasabah bisa merancang target investasi dan mengakses secara mudah sekaligus memonitoring keuangannya. “Investor dapat memilih investasi pada reksa dana sesuai dengan profil risiko dan kebutuhan investasinya, bahkan ada layanan perencanaan investasi hingga mendapatkan imbal hasil tinggi.” jelasnya.

Perlu Edukasi

Sementara analis PT Infovesta Utama, Edbert Suryajaya mengatakan, di sisa akhir tahun ini reksa dana diperkirakan masih akan bertumbuh sekitar 3-4%. Hal tersebut terjadi seiring dengan kondisi “window dressing” yang biasanya terjadi di akhir tahun. “Manajer investasi biasanya menggenjot kinerja perusahaan di akhir tahun, dan terjadi peningkatan saham maupun reksa dana saham.” jelasnya.

Pertumbuhan reksa dana, lanjut Edbert, masih terbilang kecil. Hal tersebut dikarenakan masih awamnya masyarakat mengenai investasi dan industri reksa dana. Karena itu, menurut dia perlu adanya sosialisasi dan edukasi secara terus-menurus kepada masyarakat agar pertumbuhan reksa dana bisa lebih meningkat.

Meskipun demikian, pihaknya mencatat, kinerja reksa dana pada kuartal ketiga tahun ini lebih baik dibandingkan periode sama tahun lalu. Pada kuartal ketiga tahun lalu, return reksa dana saham -9,49%, reksa dana campuran -5,65%, dan reksa dana terproteksi mencatatkan return tertinggi, yaitu sebesar 3,4%.

Sementara, pada September 2012 reksa dana saham berhasil mencatatkan return yang tertinggi, yaitu sebesar 5,05%. Sedangkan rata-rata return reksa dana campuran dan pendapatan tetap masing-masing sebesar 3,4% dan 1,16%.

Adapun nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana per September 2012 mengalami peningkatan sebesar Rp1,63 triliun menjadi Rp171,62 triliun, dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp169,99 triliun. Jumlah tersebut tidak termasuk NAB dari reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) berupa kontrak pengelolaan dana (KPD).

Sementara itu, data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyebutkan NAB reksa dana saham merupakan yang terbesar, yaitu Rp62,29 triliun atau 36,06% dari total NAB. Sedangkan NAB reksa dana terproteksi mencapai Rp40,77 (23,6%), reksa dana pendapatan tetap sebesar Rp 30,05 triliun (17,4%), reksa dana campuran sebesar Rp21,45 triliun (12,42%), dan reksa dana pasar uang Rp11,87 triliun (6,87%). Adapun porsi NAB reksa dana syariah, ETF, dan indeks sekitar 3,65%.

Selain adanya penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang didorong kondisi perekonomian yang kondusif, pemberitaan mengenai pemberian stimulus yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, berupa Quantitative Easing tahap 3 dan rencana pembelian obligasi oleh Bank Sentral Eropa akan menopang pertumbuhan saham dan reksa dana saham. Edbert memproyeksikan di akhir tahun ini IHSG akan mampu menembus level 4.400. (lia)