BI : PERTUMBUHAN EKONOMI SUMUT RELATIF STABIL

NERACA

Medan - Bank Indonesia (BI) menilai meski sedikit melambat tetapi pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan II 2012 relatif stabil dan kondisi itu diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun.

"Meski sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan II 2012 yang sebesar 6,29% secara tahunan (year on year/YoY) tetap aman dan stabil,"kata Kepala Divisi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX, Mikael Budisatrio di Medan, Sumut, Jumat (5/10), pekan lalu.

Pada triwulan I, pertumbuhan ekonomi Sumut sudah 6,3% (YoY). Berdasarkan data, kata dia, melambatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II karena adanya perlambatan di industri dan perdagangan.

Selain sektor pertanian yang tumbuh relatif stabil seiring dengan masih adanya musim panen tanaman pertanian pada awal triwulan II 2012. Sektor-sektor tertier seperti komunikasi, keuangan, dan jasa, masih tumbuh relatif tinggi dan mengkompensasi perlambatan pada sektor-sektor ekonomi utama sehingga secara menyeluruh pertumbuhan ekonomi Sumut masih cukup bagus di angka 6,29%.

Mikael juga menjelaskan, dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh kegiatan konsumsi dan investasi.

"Dengan kondisi seperti ini ditambah deflasi Sumut bulan September 2012 sebesar 0,03%, kami memprediksi pertumbuhan ekonomi Sumut tetap relatif membaik dan stabil hingga akhir tahun,"katanya. Terlebih, sambung dia, harga berbagai komoditas meski berfluktuasi dengan tren rendah tetapi dinilai masih cukup bagus.

Sementara pengamat ekonomi Sumut, Jhon Tafbu Ritonga menyebutkan, Sumut masih tertolong dengan banyaknya sumberdaya alam yang banyak dan merupakan kebutuhan konsumsi sehingga meski kriris ekonomi sedang melanda, pasokan komoditas itu tetap dibutuhkan.

Sumut, kata John Tafbu, semakin diuntungkan karena daya konsumsi daerah itu termasuk secara nasional masih cukup tinggi sehingga meski nilai jual menurun tetapi volume perdagangan masih bertumbuh sehingga pergerakan ekonomi masih tetap terjadi.

"Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi, pemerintah harus lebih menjaga kemampuan daya beli masyarakat termasuk di dalamnya para petani dan menjaga pasar dalam negeri dari serbuan barang impor," jelas dia.

BERITA TERKAIT

BI : Siklus Krisis Ekonomi 10 Tahunan Tak Relevan

      NERACA   Jakarta - Pernyataan bahwa siklus krisis ekonomi di Indonesia akan terjadi setiap 10 tahun sekali…

FSTM : Membangun Ekonomi Umat Lewat Masjid

  NERACA   Jakarta – Forum Silaturahim Takmir Masjid (FSTM) Jakarta ingin menjadikan masjid sebagai sentral dalam pembangunan ekonomi umat.…

OJK Kaji Rencana Menaikkan MKBD Tahun Ini - Dukung Pertumbuhan Pasar Modal

NERACA Jakarta – Bergerak dinamisnya pertumbuhan industri pasar modal dan termasuk meningkatnya kapitalisasi di pasar modal, mendorong Otoritas Jasa Keuangan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Suku Bunga Acuan Diprediksi Naik Kuartal IV

      NERACA   Jakarta - Chief Economist PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memprediksi suku bunga acuan atau…

AAJI Dorong Asuransi Manfaatkan Aplikasi Digital

      NERACA   Bali - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendorong anggotanya untuk mengoptimalkan pemanfaatan aplikasi teknologi digital…

Bank Mandiri Bidik Pertumbuhan KPR 15%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk membidik pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat mencapai 15…