Ancaman Krisis Global, Emas Jadi Pelarian Investasi Yang Aman

NERACA

Jakarta – Ditengah ancaman krisis ekonomi global yang belum menemukan titik terang penyelesaiannya, banyak invetor mulai beralih investasi ke emas. Pasalnya, emas menjadi daya tarik bagi investor sebagai aset "safe haven" untuk menjaga nilai di tengah sentimen global yang cenderung mudah berubah (volatile).

Pengamat investasi dari Milenium Danatama Sekuritas Abidin mengatakan, investor domestik maupun global masih menjadikan emas sebagai alat penjaga nilai, “Investasi emas menjadi pelindung nilai ditengah instrumen investasi dalam pasar keuangan cenderung 'volatile',”katanya di Jakarta kemarin.

Dia mengemukakan, logam mulia itu merupakan salah satu bentuk aset alternatif instrumen investasi bagi investor domestik maupun global selain di properti dan saham. Menurutnya, fluktuasi nilai emas tidak terlalu lebar dan cenderung meningkat harganya, hal itu yang menjadikan logam mulia tetap menjadi pilihan. “Semakin panjang investor berinvestasi pada emas, akan optimal keuantungan yang didapat," ungkapnya.

Dalam sepekan, harga emas di Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk terus meningkat menjadi Rp594.200 atau telah meningkat 1,54% dibanding posisi pada awal pekan ini (1/10) kemarin sebesar Rp585.200 ribu per gram.

Terpantau, harga emas batangan ukuran lima gram dan 10 gram masing-masing senilai Rp2,821 juta dan Rp5,602 juta. Sementara harga "buyback" atau pembelian emas jika konsumen menjual kembali ke Antam senilai Rp525 ribu per gram.

Sementara, harga emas global akhir pekan kemarin berada di posisi US$ 1.780 per ons atau menurun 15,70 poin (0,87%) dibanding hari sebelumnya. Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, terkoreksinya harga emas global menyusul daya tarik emas sebagai alat lindung inflasi mulai berkurang setelah data tingkat pengangguran AS ke level rendah dan harga minyak dunia yang anjlok.

Meski demikian, dikatakan dia, bank sentral Eropa (ECB) yang berencana untuk menahan tingkat suku bunga di level rendah akan menjadikan emas sebagai alat lindung inflasi. "ECB akan memastikan pasar tidak ambruk. Untuk emas, hal itu positif karena langkah itu mengurangi resiko terjadinya sesuatu yang buruk dengan menggunakan stimulus ekonomi untuk menjaga yield obligasi tetap rendah," katanya. (bani)

BERITA TERKAIT

Ketika Mimpi Itu Terwujud Sebelum Ada Penyesalan

Hambali (58) hanya bisa meratapi masa pensiunnya dengan penuh penyesalan karena di usianya yang sudah tidak lagi muda belum memiliki…

Pelaksanaan IPO Dilanjutkan - Nara Hotel Apresiasi Hasil Keputusan OJK

NERACA Jakarta – Berdasarkan keputusan akhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap kisruh gagalnya penawaran umum saham perdana atau initial public…

Targetkan IPO Semester I 2020 - Bank DKI Menunggu Momentum Tepat

NERACA Jakarta – Wacana lama PT Bank Pembangunan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (Bank DKI) mencatatkan saham perdananya di pasar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Adhi Commuter Bidik Dana IPO Rp 2,5 Triliun

NERACA Jakarta –Kembangkan ekspansi bisnisnya di sektor properti yang terintegrasi dengan moda transportasi menjadi fokus utama PT Adhi Commuter Properti…

Dampak Suspensi Saham - Tiphone Mobile dan KSEI Saling Tuduh

NERACA Jakarta –Dinilai melakukan salah prosedur karena penundaan pembayaran bunga ke-4 dan pelunasan pokok atas obligasi berkelanjutan II Tiphone tahap I…

Genjot Pertumbuhan Bisnis Gudang - Makmur Berkah Bidik Pendapatan Rp 120 Miliar

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi di sektor kawasan industri dan penyewaan gudang, PT Makmur Berkah Amanda…