Bank Mandiri Targetkan AUM Rp110 Triliun

Pasar Wealth Management

Senin, 08/10/2012

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk menargetkan dana kelolaan (asset under management/AUM) layanan wealth management mencapai Rp110 triliun pada akhir tahun ini. Sementara posisi akhir tahun kemarin sebesar Rp92 triliun. “Awal tahun 2012 saja sudah mencapai Rp100 triliun,” kata Inkawan D Jusi, Senior Vice President Wealth Management Bank Mandiri, di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, nasabah wealth management Bank Mandiri, per September 2012, sudah mencapai 50 ribu nasabah yang terbagi atas tiga segmen. Pertama, segmen setoran antara Rp500 juta hingga Rp3 miliar. Kedua, setoran Rp3 miliar hingga Rp20 miliar. Ketiga, setoran di atas Rp20 miliar.

Meski begitu, lanjut Inkawan, pada tahun depan perseroan akan menaikkan minimum simpanan bagi nasabah wealth management. Sebagai langkah awal, bagi nasabah yang ingin bergabung dalam layanan eksklusif ini, cukup menyediakan uang Rp500 juta dan langsung mendapatkan layanan priority banking.

Mengenai pendapatan Bank Mandiri dari bisnis wealth management, Inkawan menyebut 75% dari pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM) yang berasal dari deposito dan tabungan, serta 25% dari fee seperti reksa dana dan bancassurance.

“Tahun 2013, minimum setoran naik menjadi Rp1 miliar dan komposisinya 50:50. Batas minimum tersebut perlu ditingkatkan karena nasabah wealth management yang ada sudah tidak sebanding dengan relations manager (RM) yang dimiliki,” imbuh Inkawan. Dengan demikian, RM akan lebih punya banyak waktu mengurusi nasabah, apabila jumlah nasabahnya lebih sedikit.

Sebagai informasi, satu RM masih memegang lebih dari 200 nasabah. Inkawan menjelaskan, normalnya satu RM menangani maksimal 200 nasabah. Sedangkan total jumlah RM Bank Mandiri hanya 170 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Itu karena kita tidak bisa samaratakan layanan antara nasabah yang punya uang Rp500 juta dengan Rp20 miliar. Bisnis ini merupakan bisnis kepercayaan yang berdasarkan pada hubungan (relationship) yang erat dengan nasabah,” tegas dia.

Inkawan juga menyebutkan, tahun depan banyak faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bisnis priority banking, salah satunya sisi regulasi. “Bisa saja nantinya Bank Indonesia (BI) sebagai regulator memberikan kesempatan bagi perbankan untuk membuat produk-produk yang lebih canggih (sophisticated),” jelasnya.