Jamsostek Bertransformasi Menuju BPJS Kelas Dunia

Demi Beyond Financial Benefit

Senin, 08/10/2012

NERACA

Yogyakarta - PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) didesain menjadi Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) kelas dunia. Tujuannya, selain mampu melayani peserta dengan lebih baik, juga agar mampu membantu perekonomian nasional.

Menurut Direktur Utama PT Jamsostek, Elvyn G Masassya, Jamsostek sedang membangun budaya melayani. “Bukan hanya karyawan yang berada di front liner saja yang melayani, tapi dari atas sampai paling bawah,” kata Elvyn, usai pembukaan Rapat Kerja Nasional PT Jamsostek di Yogyakarta, Kamis (4/10), pekan lalu.

Menurut Elvyn, Jamsostek tengah memulai perubahan secara signifikan menuju lembaga baru. Perubahan tersebut harus disikapi secara sungguh-sungguh dan profesional. “Sebuah lembaga seperti Jamsostek harus berubah mulai dari diri sendiri,” tuturnya.

Dia juga memaparkan, ada empat hal yang diinginkan dalam perubahan, antara lain adalah peserta Jamsostek harus mencakup pekerja formal dan informal, Jamsostek harus bisa diakses dimana saja, dan investasi Jamsostek bisa memberi multiflier efek bagi perekonomian nasional.

“Sekarang kan mayoritas peserta masih pekerja formal, sementara yang informal masih bersifat voluntary,” tambah dia. Nantinya, lanjut Elvyn, BPJS ketenagakerjaan harus bisa meng-cover sekitar 90% dari total jumlah pekerja yang ada.

Dia menyebut, investasi Jamsostek harus bisa memberi manfaat langsung dan tidak langsung bagi peserta. Misalnya, imbuh Elvyn, melalui program food benefit dan housing benefit. “Jamsostek memberi kemudahan akses bagi pekerja untuk memiliki rumah dan pangan. Salah satunya dengan penyaluran melalui KPR perbankan yang berafiliasi dengan Jamsostek,” urai Elvyn.

Sementara untuk pangan, sambung Elvyn, Jamsostek menyiapkan formulasi pemberian diskon harga makanan bagi peserta. “Ini yang kita sebut Beyond Financial Benefit,” tegas dia. Elvyn juga menambahkan, investasi Jamsostek juga harus bisa meng-encourage ekonomi nasional. “Investasi Jamsostek harus bisa membuka peluang terciptanya penyerapan tenaga kerja,” lanjutnya.

Dana kelola lewati target

Dalam kesempatan itu, Elvyn juga menuturkan, sampai saat ini, dana investasi Jamsostek sebesar Rp127 triliun dari target sebesar Rp125,7 triliun. Sementara laba sampai bulan September 2012, sudah sebanyak Rp9 triliun. Jamsostek sendiri menargetkan keuntungan sebesar Rp12,2 triliun.

Dia menyebut, peserta Jamsostek yang aktif sudah mencapai 11 juta pekerja. Sementara perusahaan yang aktif menjadi mitra Jamsostek sebanyak 166.252 perusahaan. Sementara itu, Deputy Menteri BUMN Parikesit Suprapto menambahkan, Jamsostek bertransformasi menuju BPJS agar menjadi lebih besar dan kuat demi kebaikan masyarakat. “Di luar negeri, lembaga seperti BPJS bisa menjadi back up pembangunan ekonomi nasional,” jelasnya, kemarin.