Kasus BUMI Harus Segera Diselesaikan

Banyak Sisi Gelap Belum Terungkap

Jumat, 05/10/2012

NERACA

JAKARTA – Penjelasan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) soal audit laporan penyimpangan laporan keuangan yang dituduhkan Bumi Plc masih menyisakan pertanyaan besar, meskipun perseroan telah menggelar public expose. Pasalnya, tidak hanya investor yang belum puas terhadap penjelasan BUMI, tetapi juga PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Direktur Penilaian BEI Hoesen mengatakan, masih ada beberapa penjelasan yang disampaikan BUMI yang belum jelas. Oleh karena itu, pihaknya masih akan terus menunggu hasilnya laporan tersebut. "Hari ini batas waktu penyerahan laporan dari paparan publik kemarin, kami akan tunggu dan kita lihat dari statement-statement verbal kemarin, namun masih ada beberapa yang belum jelas, justru yang kita tunggu," katanya di Jakarta, Kamis (4/10).

Menurutnya, perseroan sudah bersikap kooperatif, namun dari lima isu yang ditanyakan oleh BEI hanya empat yang sudah terjawab. Sementara Kepala Riset dari PT MNC Securities, Edwin Sebayang mendesak BEI bisa menuntaskan masalah BUMI secepatnya dan jangan sampai berlarut larut.

Dia menegaskan, seharusnya ada kejelasan dari BUMI untuk mengklarifikasi masalah ini agar tidak membingungkan investor, “Sebagai perusahaan publik, akan lebih bijaksana jika BUMI memberikan penjelasan secara detail apa yang sedang terjadi sebenarnya."papar Edwin.

Lanjut Edwin, langkah otoritas BEI mewajibkan BUMI dan BRAU menggelar paparan publik merupakan hal yang sangat tepat dan jangan hanya sekedar menggugurkan sebuah kewajiban, “Saya rasa apa yang dilakukan BEI pada dua emiten itu untuk melakukan paparan publik agar seluruh investor dapat mendengar dan menanyakan secara langsung," terang Edwin.

Pro Aktif Otoritas Bursa

Sebaliknya, pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila Agus Irfani menuturkan, sebelum BEI atau Bappepam memberikan sanksi kepada BUMI atau Berau atas dugaan menggelapkan dana sekitar US$ 647 juta harusnya otoritas investigasi terlebih dahulu, “Otoritas bursa harus mempunyai data sendiri, jangan dari hasil dugaan saja. Lagi pula BEI atau Bappepam mempunyai kewenangan untuk memeriksa kedua perusahaan tersebut,” tegas Agus.

Bahkan, untuk memastikan bahwa tuduhan Rostchild terhadap Bumi atau Berau juga perlu diperiksa juga. Pasalnya, hal ini bisa jadi ini permainan Rostchild untuk bisa menguasi Bumi Plc secara penuh. Menurut dia, BEI atau Bappepam harus pergi ke Inggris untuk bekerjasama dengan pihak bursa di London untuk memastikan dugaan ini. Bahkan kalau perlu, BEI atau Bappepam harus melakukan investigasi juga kepada pihak Rostchild.

Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Isaka Yoga, otoritas harusnya tahu lebih dulu daripada publik karena dia menjadi tumpuan kepercayaan dari publik. "Ini sudah jelas bahwa kedua perusahaan tersebut tidak jelas, terutama caranya menyikapi persoalan dengan induknya Bumi Plc. Jadi publik juga belum tahu mengapa Bumi Plc ingin adakan investigasi kepada mereka. Sekarang mestinya ada lembaga terpercaya yang berani menyatakan masalah tersebut begini-begitu, utamanya lembaga otoritas, supaya jangan sampai masalah ini menjadi semakin tidak jelas," tegasnya.

Sementara analis Trust Securities Reza Priyambada menegaskan, investor jangan terlalu berharap banyak apa yang disampaikan BUMI. Alasannya, semua disampaikan direksi BUMI hanya pernyataan hal-hal umum saja. "Tudingan atau klarifikasi yang dituduhkan tidak akan terjawab. Kami sudah meyakini bahwa pernyataan mereka bakalan seperti itu, seperti kami tidak bangkrut, kami akan baik-baik saja, mereka akan memberikan jawaban kalau mereka akan survive," cibirnya.

Dia menuding, paparan public hanya upaya manajemen BUMI untuk mengatakan kondisi perseroan baik-baik saja. Oleh karena itu, Reza menyakini bahwa tentang hubungan antar manajemen antara BUMI dengan Bumi Plc tidak akan dibeberkan kepada publik, pihak BUMI akan bilang bahwa tidak terjadi apa-apa didalam manajemen. Padahal kasus ini sangat unik, dimana Bapak perusahaanya yaitu Bumi Plc yang mengadukan anak perusahaannya yaitu BUMI. “Oleh karena itu, Bapepam sebagai otoritas penagwas pasar modal harus melakukan pemeriksaan ulang dalam isu ini atau melakukan mediator kepada kedua belah pihak yaitu BUMI dengan Bumi Plc,”tuturnya.

Menurut Reza, terkait nilai saham BUMI yang naik dalam perdagangan saham dikarenakan saham ini merupakan saham spekulasi dimana sahamnya tergantung pihak-pihak dibelakangnya yang menggerakkannya. Biasanya saham yang mempunyai sentimen negatif akan mengalami penurunan tetapi saham BUMI tidak.”Saham BUMI merupakan saham yang dibenci sekaligus saham yang dirindu keberadaan dalam pasar modal,” katanya.

Suspensi BUMI

Bagi Dewan pakar Masyarakat Investor Indonesia Johanes Soetikno, sebenarnya pihak BUMI mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mudah, tapi tampaknya sengaja dibuat dikotomi. “Apakah itu mungkin untuk mendapatkan dana murah karena belum mendapatkan “barang” yang cukup, atau maksud lainnya.” ujarnya.

Suspensi menurut Johannes merupakan pisau bermata dua, sebagai salah satu emiten yang cukup besar. Adanya suspensi lanjut Johannes di satu sisi bisa merugikan investor dan di sisi lain ada kepentingan untuk menjatuhkan harga.

Terlepas dari itu semua, menurut dia kemungkinan dalam permasalahan ini bisa muncul dua kepentingan, yaitu kepentingan menurunkan harga dan kepentingan lainnya yaitu melihat ini sebagai peluang. Itulah yang juga menyebabkan saham BUMI bisa mengalami penurunan kemudian naik cukup signifikan.

Sebelumnya pihak BEI telah meminta penjelasan akan isu-isu yang berkembang di publik, ada lima isu yang antara lain, pertama, tentang laporan keuangan. Kedua, kewajiban BUMI yang sudah jatuh tempo, ketiga penjualan mitra usaha, keempat, rating yang turun dan terakhir klarifikasi soal Bumi Plc.

Otoritas bursa merasa masih ada yang belum jelas, khususnya terkait klarifikasi soal Bumi Plc. Karena masih dipertanyakan ada investasi atau tidak. Dan karena itu, pihak BEI menilai tidak perlu waktu lama menganalisa kasus ini, “Kita jangan terlalu terburu-buru, mungkin saat paparan publik ada kata yang terlewat tentang klarifikasi tersebut,” kata Direktur Penialai BEI Hoesen.

Keraguan investor dan otoritas bursa nampak jelas, disaat Direktur BUMI Ari Saptari Hudaya dalam paparan public insidentil Selasa (2/10), tidak menjelaskan secara jelas terkait munculnya masalah tersebut.

Dirinya tidak menjawab secara lugas ketika ditanya soal langkah Bumi Plc yang akan melakukan audit investigasi terhadap BUMI. Apakah audit itu merupakan upaya pengambilalihan saham milik grup Bakrie atau ada upaya dari pemegang saham untuk menghancurkan sahamnya?

Justru dalam menghadapi permasalahan ini, Ari meminta kepada semua pihak, khususnya media untuk bersikap dewasa dan menilai sendiri terhadap apa yang terjadi. Bahkan mengenai rumor tersebut pun dirinya menganggap hanya sebatas emosional yang dibuat di ruang pemberitaan. “Kalau pemegang saham menghancurkan perusahaannya sendiri apakah itu pemegang saham? Apakah itu pembahasan yang baik? Hei, kita sudah besar, jangan emosional. Silahkan judge. Saya meminta media untuk logic, “Whatever you write will affect my stakeholders,” tandasnya.

Ari menegaskan, jika aksi audit investigasi ini menjadi strategi salah satu pihak untuk mengambil BUMI, dia memastikan dirinya siap untuk melakukan apa pun untuk melindungi BUMI. Hal itu dilakukan karena dia mengaku terlibat secara emosional dalam pembangunan dan pengembangan BUMI, meskipun dirinya bukan sebagai pemegang saham. “Kalau ada kepentingan, saya akan cari, saya uber,”jelasnya.

Dia bahkan bersuara lantang terhadap rencana audit investigasi induk usahanya, Bumi Plc, perusahaan investasi kerja sama Bakrie, Samin Tan dan Nathaniel Rothschild. “Surat (itu) dilayangkan tanpa didiskusikan dengan manajemen. Apa ini mendidik atau tidak mendidik? Nilai sendiri!” katanya keras.