Berburu Dana Kelola, Manajer Investasi Berlomba Terbitkan Reksa Dana Murah

Jumat, 05/10/2012

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan kelas menengah dan usia produktif di Indonesia mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu acuan bagi para manajer investasi untuk menggenjot dana kelolanya dengan cara menerbitkan berbagai instrumen investasi baru yang diyakini mampu menyerap banyak jumlah investor.

Commonwealth Bank misalnya, menawarkan 60 pilihan produk investasi. Salah satunya yaitu investasi reksadana yang cukup murah, yaitu sebesar Rp100.000. Senior Vice President, Head of Wealth Management Commonwealth Bank Indonesia, Dwi Kisniarti mengatakan untuk berinvestasi reksadana senilai Rp100 ribu tersebut merupakan salah satu strategi untuk menambah jumlah investor. “Idealnya, setiap orang memiliki strategi pengelolaan keuangan jangka panjang yang diterapkan sejak pertama kali dia berpenghasilan sampai dengan akhir masa produktifnya.” jelasnya.

Menurut Dwi, dengan teori compounding interest (bunga berbunga), lebih baik mulai lebih cepat dengan jumlah yang lebih sedikit, tetapi rutin, dari pada menunggu sampai terkumpul jumlah yang lebih banyak untuk mulai berinvestasi. Jadi, lanjut dia, investasi bisa dilakukan oleh semua orang karena sebenarnya untuk memulai berinvestasi seseorang tidak perlu dana yang besar.

Commonwealth Bank, lanjut Dwi memiliki sistem AutoInvest, yaitu pemotongan dana secara berkala dari rekening tabungan untuk memudahkan investor muda dalam berinvestasi berkala dengan mudah. Selain itu sistem AutoInvest juga meminimalisir risiko kerugian jika dilakukan secara jangka panjang.

Meskipun demikian, risiko dalam berinvestasi tidak bisa dihindari, tetapi ada beberapa langkah untuk mengurangi risiko, salah satunya melalui diversifikasi berinvestasi secara rutin. Dengan cara ini, lanjut Dwi dapat meminimalkan resiko dengan teori “Dollar Cost Averaging”.

Sementara Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Legowo Kusumonegoro mengatakan, penetrasi produk-produk reksa dana yang apabila dibandingkan dengan jumlah populasi seluruh masyarakat di Indonesia masih sangat kecil. Hal itu karena banyak orang Indonesia yang belum mengenal reksa dana dan tidak memanfaatkan instrumen pasar modal dalam menumbuhkan kekayaan mereka.

“Dari jumlah populasi sekitar 254 jiwa baru 161 ribu investor. Ini disebabkan masih minimnya pemahaman masyarakat Indonesia soal produk investasi pasar modal seperti reksa dana.” jelasnya.

Data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyebutkan, dana kelolaan reksa dana turun Rp3,96 triliun menjadi Rp169,99 triliun pada Agustus 2012 dari posisi Juli 2012 sebesar Rp173,95 triliun.

Meski dana kelolaan turun, jumlah unit naik menjadi 106,70 miliar unit pada Agustus 2012 dari Juli 2012 sebesar 105,81 miliar. Adapun dana kelolaan tersebut terdiri dari reksa dana terproteksi sebesar Rp41,10 triliun, reksa dana syariah terproteksi sebesar Rp134,18 miliar, reksa dana syariah saham sebesar Rp1,96 triliun, reksa dana syariah campuran sebesar Rp1,49 triliun, reksa dana syariah pendapatan tetap sebesar Rp712,81 miliar.

Sedangkan reksa dana saham mencapai Rp59,56 triliun, reksa dana pasar uang sebesar Rp12,95 triliun, reksa dana campuran sebesar Rp20,96 triliun, reksa dana indeks sebesar Rp299,48 miliar, reksa dana pendapatan tetap sebesar Rp30,48 triliun, reksa dana ETF- saham sebesar Rp68,36 miliar, dan reksa dana ETF-pendapatan tetap sebesar Rp1,09 triliun. (lia)