Borneo Masih Kaji Divestasi 20% Anak Usaha Ke Posco

Jumat, 05/10/2012

NERACA

Jakarta - PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) mengungkapkan, perseroan belum melakukan komitmen yang mengikat kepada POSCO, terkait divestasi 20% saham PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT).

Informasi tersebut disampaikannya dalam siaran pers kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/10). Dijelaskannya, perseroan secara selektif akan berdiskusi dengan para investor strategis untuk divestasi sebagian saham AKT, termasuk menandatangani confidentiality agreement atau MoU sebelum masuk ke dalam proses uji tuntas lebih lanjut oleh investor-investor strategis terkait.

Kendatipun demikian, direksi BORN menyatakan tetap terbuka dan selektif untuk mempertimbangkan tawaran akuisisi sebagian saham AKT oleh investor strategis. Pertimbangan BORN adalah adanya sinergi positif langsung terhadap operasional AKT maupun BORN.

Pernyataan ini dirilis, terkait kabar bahwa manajemen BORN mengadakan pembahasan dengan POSCO dan sejumlah pihak untuk menjual 20% kepemilikan di AKT dengan nilai transaksi sekitar US$500 juta. Transaksi tersebut merupakan bagian dari strategi BORN untuk mengurangi utang yang dicairkan pada 2011 dari Standard Chartered Bank untuk membeli saham Bumi Plc.

Borneo dikendalikan oleh Samin Tan yang tahun lalu membeli 23,8% saham Bumi Plc dari Bakrie Group. Perseroan juga berniat menyelesaikan transaksi pada akhir 2012. Sementara POSCO, perusahaan baja asal Korea Selatan, membenarkan telah melakukan perbincangan awal dengan Borneo.

Sebelumnya, Direktur BORN Kenneth Allan mengkonfirmasi pihaknya tengah membuka kemungkinan menjual 20% saham di PT Asmin Koalindo Tuhup yang memproduksi batu bara kokas.,”ini proses yang masih berjalan. Kami telah berbicara dengan sejumlah pihak potensial, yang tengah melakukan due dilligence. Namun belum ada komitmen mengikat,” ujar Allan.

Allan juga mengatakan pihaknya berencana mencari mitra strategis yang dapat memberi bantuan teknis dan pengetahuan pasar batu bara untuk ekspansi Borneo. Disamping itu, PT Berau Coal Energy Tbk mengurangi belanja modal atau capital expenditure (capex) 2012 sebesar USD165 juta-USD190 juta. Sebelumnya, anggaran capex perseroan mencapai US$ 300 juta.

Direktur Keuangan BRAU John Joseph Ramos pernah bilang, pihaknya akan merevisi anggaran capex sekira US$ 165 juta-US$190 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur, “Saat ini kondisi industri batu bara sedang tidak bagus, atau bisa dikatakan melambat, jadi kita tunda dulu beberapa proyek infrastruktur baru tahun mendatang kita proses kembali," ungkapnya.

Adapun anggaran capex untuk periode 2012-2015 senilai US$ 600 juta. Rencananya anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun conveyor belt sepanjang 43 kilometer (km) senilai Rp280 miliar dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap berkapasitas 2x20 megawatt (bani)