Borneo Masih Kaji Divestasi 20% Anak Usaha Ke Posco

NERACA

Jakarta - PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) mengungkapkan, perseroan belum melakukan komitmen yang mengikat kepada POSCO, terkait divestasi 20% saham PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT).

Informasi tersebut disampaikannya dalam siaran pers kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/10). Dijelaskannya, perseroan secara selektif akan berdiskusi dengan para investor strategis untuk divestasi sebagian saham AKT, termasuk menandatangani confidentiality agreement atau MoU sebelum masuk ke dalam proses uji tuntas lebih lanjut oleh investor-investor strategis terkait.

Kendatipun demikian, direksi BORN menyatakan tetap terbuka dan selektif untuk mempertimbangkan tawaran akuisisi sebagian saham AKT oleh investor strategis. Pertimbangan BORN adalah adanya sinergi positif langsung terhadap operasional AKT maupun BORN.

Pernyataan ini dirilis, terkait kabar bahwa manajemen BORN mengadakan pembahasan dengan POSCO dan sejumlah pihak untuk menjual 20% kepemilikan di AKT dengan nilai transaksi sekitar US$500 juta. Transaksi tersebut merupakan bagian dari strategi BORN untuk mengurangi utang yang dicairkan pada 2011 dari Standard Chartered Bank untuk membeli saham Bumi Plc.

Borneo dikendalikan oleh Samin Tan yang tahun lalu membeli 23,8% saham Bumi Plc dari Bakrie Group. Perseroan juga berniat menyelesaikan transaksi pada akhir 2012. Sementara POSCO, perusahaan baja asal Korea Selatan, membenarkan telah melakukan perbincangan awal dengan Borneo.

Sebelumnya, Direktur BORN Kenneth Allan mengkonfirmasi pihaknya tengah membuka kemungkinan menjual 20% saham di PT Asmin Koalindo Tuhup yang memproduksi batu bara kokas.,”ini proses yang masih berjalan. Kami telah berbicara dengan sejumlah pihak potensial, yang tengah melakukan due dilligence. Namun belum ada komitmen mengikat,” ujar Allan.

Allan juga mengatakan pihaknya berencana mencari mitra strategis yang dapat memberi bantuan teknis dan pengetahuan pasar batu bara untuk ekspansi Borneo. Disamping itu, PT Berau Coal Energy Tbk mengurangi belanja modal atau capital expenditure (capex) 2012 sebesar USD165 juta-USD190 juta. Sebelumnya, anggaran capex perseroan mencapai US$ 300 juta.

Direktur Keuangan BRAU John Joseph Ramos pernah bilang, pihaknya akan merevisi anggaran capex sekira US$ 165 juta-US$190 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur, “Saat ini kondisi industri batu bara sedang tidak bagus, atau bisa dikatakan melambat, jadi kita tunda dulu beberapa proyek infrastruktur baru tahun mendatang kita proses kembali," ungkapnya.

Adapun anggaran capex untuk periode 2012-2015 senilai US$ 600 juta. Rencananya anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun conveyor belt sepanjang 43 kilometer (km) senilai Rp280 miliar dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap berkapasitas 2x20 megawatt (bani)

BERITA TERKAIT

Masih Ada Perusahaan Yang Belum Bayar THR

      NERACA   Jakarta – Meski hari raya lebaran idul fitri telah usai, namun masih ada perusahaan yang…

Proyek Tol Bandung-Tasikmalaya Masih Tunggu Pemerintah Pusat

      NERACA   Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunggu aksi pemerintah pusat serta mendorong Kementerian Pekerjaan Umum…

Desainer Muda Dipacu Jadi Pelaku Usaha Rintisan Sektor Fesyen - Dunia Usaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi dan dukungan kepada Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam melaksanakan Modest Fashion…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sunandar Resmi Jadi Dirut Baru KPEI

Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) merombak jajaran direksi. Dimana para pemegang…

Indo Straits Raih Kontrak Baru Rp 121 Miliar

Belum lama ini, PT Indo Straits Tbk (PTIS) medapat kontrak baru senilai Rp 121 miliar berupa penyediaan crane barge untuk…

PNRI Terbitkan MTN Rp 145 Miliar

Guna menunjang pengembangan bisnisnya, Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) menerbitkan surat utang jangka menengah alias medium term notes (MTN)…