Realiasasi Capex ABM Investama Capai Rp 1,4 Triliun

Kinerja Semester I-2012

Jumat, 05/10/2012

NERACA

Jakarta – Perusahaan energi terintegrasi PT ABM Investama Tbk (ABMM) melaporkan telah menginvestasikan belanja modal alias capital expenditure (capex) sepanjang semester pertama 2012 senilai US$ 161,95 juta (Rp 1,457 triliun) atau 55% lebih besar dari periode yang sama tahun lalu yakni US$ 112,52 juta.

Direktur Utama PT ABM Investama Tbk Andi Djajanegara mengatakan, sebagian besar capex digunakan untuk investasi jangka panjang yang akan memperkuat bisnis ABM dalam 5 tahun ke depan. “Belanja modal terbesar digunakan untuk belanja segmen tambang yang diharapkan tumbuh seiring dengan naiknya permintaan global dalam beberapa tahun mendatang,”katanya di Jakarta, Kamis (4/10).

Untuk pengembangan bisnis batu bara, perseroan telah menginvestasikan sebesar US$ 90,81 juta atau naik 200% dari pengunaan capex tahun lalu sebesar US$ 45,23 juta. Dimana pengembanan bisnis tambang batu bara diantaranya membangun infrastruktur tambang di Aceh.

Dia menjelaskan, pembangunan infrastruktur tambang dilakukan perseroan untuk mengantisipasi peningkatkan permintaan global terhadap energi dalam beberapa tahun ke depan. “Kami juga tengah mengkonsolidasikan fase investasi saat ini untuk menyiapkan infrastruktur,”ujarnya.

Awal tahun ini, anak usaha ABM, Reswara telah menandatangani kontrak untuk pembangunan Barge Loading Conveyor System dengan nilai kontrak US$ 40,87 juta yang akan menjadi sarana transportasi batubara.

Sementara untuk segmen jasa yaitu termasuk di dalamnya jasa sewa pembangkit listrik (SS) serta jasa sewa kapal (CKB) sebesar US$ 70.51 juta. Belanja modal untuk pembangkit listrik ini lebih besar dari tahun lalu yang sebesar US$ 56,57 juta, dan digunakan untuk meningkatkan pendapatannya sebesar 17,09% menjadi US$ 63,03 juta dari US$ 53,83 juta. “Permintaan batubara di India dan kebutuhan nasional batubara masih tinggi, terutama untuk mensuplai pembangkit listrik yang mulai beroperasi di 2012 dan 2013," katanya.

Sepanjang enam bulan pertama 2012, pendapatan perseroan naik 33,93% menjadi US$ 430,40 juta dari sebelumnya US$ 321,35 juta. Kontribusi terbesar dari pertumbuhan adalah dari segmen kontraktor tambang dan tambang batubara yang naik 50,69% menjadi US$ 263,64 juta dari sebelumnya US$ 174,95 juta.

Segmen tersebut juga menjadi kontributor utama dari pendapatan ABM. Sementara itu segmen sewa mesin pembangkit listrik juga mencatatkan kenaikan 17,09% menjadi US$ 63,03 juta dari US$ 53,83 juta. Untuk laba bersih tercatat US$ 13,72 juta dari sebelumnya US$ 20,62 juta.

Penurunan laba bersih ini disebabkan oleh kenaikan beban keuangan akibat kenaikan utang jangka panjang perusahaan yang digunakan untuk investasi di bisnis penyewaan listrik serta kontraktor batubara di Aceh. “Saat ini kami tengah melakukan negosasi untuk melakukan strategi refinancing. Terutama peralihan dari pinjaman rupiah ke denominasi dolar AS baik itu melalui pinjaman bank dan lainnya untuk meningkatkan efisiensi dari pembayaran bunga pinjaman," tambahnya. (bani)