Pertumbuhan 6,4% di Kuartal III 2012 Diragukan

Jumat, 05/10/2012

NERACA

Jakarta - Ketua Komite Ekonomi Nasional Chairul Tanjung pesimistis dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,4 persen pada kuartal III/2012.

"Untuk mencapai pertumbuhan 6,4 persen rasanya berat. Dalam situasi seperti sekarang , pertumbuhan bertahan pada 6,3 persen saja saya rasa sudah sangat bagus dan patut disyukuri," kata Chairul usai mengikuti Rapat Koordinasi Persiapan KTT-APEC 2013, di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Kamis (4/10), seperti dilansir Antara.

Menurut Chairul, dua faktor yang diperkirakan menjadi penyebab pertumbuhan di bawah 6,4% adalah melemahnya konsumsi masyarakat dan situasi krisis ekonomi global yang belum belum sepenuhnya pulih.

Bos kelompok usaha Trans Corporation ini mengatakan, salah satu indikasi terjadinya perlambatan konsumsi terlihat dari pemasangan iklan di media yang mengalami penurunan.

"Belanja iklan media selama periode September terjadi penciutan seperti produk konsumen. Penurunan iklan produk konsumen menggambarkan bahwa terjadi penurunan konsumsi masyarakat," katanya.

Setidaknya, kata Chairul, dunia usaha merasakan terjadinya proses perlambatan konsumsi pascaLebaran, atau sekitar Agustus akhir dan September.

Ia mengakui, biasanya pada dua kuartal terakhir setiap tahun yaitu kuartal III dan kuartal IV pertumbuhan lebih tinggi dari kuartal-kuartal sebelumnya karena kecenderungan peningkatan belanja pemerintah.

Namun krisis ekonomi di sejumlah negara Eropa dan ditambah perekonomian Amerika Serikat yang belum sepenuhnya pulih, sedikit banyak telah berdampak pada perekonomian Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi ujar Chairul, merupakan pergerakan secara agregat seluruh sektor-sektor ekonomi, sehingga jika di satu sisi terjadi penurunan maka dapat dicover oleh sektor lainnya.

"Sektor konsumsi mengalami perlambatan, namun di sisi lain sektor investasi saat ini masih tinggi dengan kenaikan yang di luar perkiraan. Ada yang turun, tetapi yang lainnya naik lebih tinggi sehingga terjadi akumulasi yang positif," ujarnya.

Lebih Bagus dari K-II

Namun Menteri Koornator Perekonomian Hatta Rajasa mengaku kurang sependapat terhadap perkiraan dari KEN tersebut.

Menurut Hatta, jika dilihat dari elemen APBN, justru pada kuartal III akan lebih tinggi dari kuartal II. "Investasi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Jadi saya masih tetapi yakin bahwa pertumbuhan kuartal III tidak jauh beda dengan kuartal sebelumnya, yaitu sebesar 6,3 pada kuartal I dan 6,4 kuartal II," tegasnya.

Sehari sebelumnya, Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan Indonesia akan mempertahankan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya sebesar 6,3% pada 2012 dan 6,6% pada 2013 dengan laju inflasi masing-masing 4,4% dan 4,5%, meski terjadi pelemahan permintaan global.

Edimon Ginting, senior country economist untuk Indonesia, Rabu (3/10), mengatakan bahwa kuatnya kontribusi investasi dan belanja pemerintah, didukung oleh naiknya konsumsi swasta memiliki pengaruh kuat dalam mengatasi dampak pelemahan ekspor.

“Kuatnya pertumbuhan ini didukung oleh optimisme konsumen dan bisnis yang tetap kuat, sementara di sisi lain, investasi swasta dan publik mampu mengompensasi pelemahan ekspor,” kata Edimon.