Kinerja Bank DKI Syariah Tumbuh Positif - Gencar Pasarkan Produk Haji

NERACA

Jakarta - Kinerja Bank DKI Syariah terus menunjukkan peningkatan. Hal ini ditandai dengan melonjaknya total aset sebesar 76,19% dari Rp630 miliar pada 2010 menjadi Rp1,11 triliun di 2011. Direktur Pemasaran Bank DKI, Mulyatno Wibowo menjelaskan, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 81,02% dari Rp361,454 miliar di 2010 menjadi Rp654,315 miliar pada 2011.

Sementara jumlah pembiayaan yang disalurkan meningkat 69,98 % dari posisi akhir Desember 2010 sebesar Rp602,58 miliar menjadi Rp1,03 triliun. Perolehan laba UUS Bank DKI sendiri terdongkrak 488,57% dari Rp 7,35 miliar di 2010 menjadi Rp35,91 miliar pada 2011.

“Per September 2012, aset Bank DKI Syariah sudah mencapai Rp1,39 triliun dengan perolehan dana pihak ketiga Rp 570 miliar dan pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp1,33 triliun,” ujar Mulyatno, kemarin.

Perolehan laba UUS Bank DKI sudah mencapai Rp 45,19 miliar. Sementara jaringan kantor UUS Bank DKI sebanyak 15 kantor yang terdiri dari 2 kantor cabang Syariah, 5 kantor cabang Pembantu Syariah, dan 7 kantor Kas Syariah serta 40 kantor penghubung di kantor konvensional Bank DKI.

“Kami juga akan membuka beberapa kantor lagi di luar Jabodetabek,” tambahnya. Dia juga menjelaskan, Bank DKI Syariah juga kian gencar memasarkan produk pembiayaan Pengurusan Ibadah Haji atau yang biasa disebut dengan Talangan haji, di mana Bank DKI Syariah memberikan pembiayaan sebesar 100% dari kebutuhan dana untuk mendapatkan porsi kursi haji, tanpa jaminan dan cara pelunasan yang fleksibel.

“Produk ini dibuat untuk membantu masyarakat yang ingin pergi haji tapi belum memiliki cukup dana, biaya jasa yang ringan serta jangka waktu pembiayaan yang panjang menjadi daya tarik dari produk ini,” ungkapnya.

Dalam menjalankan strategi pemasarannya, UUS Bank DKI akan lebih mendekati segmen usaha ritail dan mikro serta berbasis pada komunitas (segmented community based marketing) dengan aktif mendatangi komunitas-komunitas yang menjadi target, seperti sekolah, yayasan, organisasi masyarakat (ormas), apoteker dan sejumlah komunitas informal untuk menawarkan kerja sama untuk seluruh anggota.

Related posts