Sarana Karya Ingin Rencana Akuisisi Ditinjau Ulang

Jumat, 05/10/2012

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Sarana Karya (Persero), Syamsul Qamar mengungkapkan bahwa PT Sarana Karya meminta supaya Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bisa mengundurkan rencana Kementerian BUMN agar perusahaan diakuisisi oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk pada tahun ini.

"Direksi dan komisaris Sarana Karya mengharapkan agar proses akuisisi oleh Wijaya Karya dapat ditinjau ulang atau minimal diundur sampai akhir 2013," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XI DPR RI Dengan PT Sarana Karya (Persero) di Gedung DPR, Kamis (4/10).

Syamsul mengatakan bahwa permintaan pengunduran program privatisasi ini terkait erat dengan perkembangan kinerja keuangan Sarana Karya yang semakin membaik di tahun 2011. Alasan lainnya, perusahaan juga memiliki potensi cadangan aspal Buton yang besar.

"Kondisi keuangan 2011 sudah membaik dan perusahaan mampu memproduksi aspal Buton curah sebanyak 312.507 ton dan penjualan sebanyak 257.070 ton. Total pendapatan Rp 46,59 miliar dan laba Rp 10,44 miliar," jelasnya.

Menurut Syamsul, pada 2012 ini rencana kerja perusahaan adalah memproduksi dan menjual aspal curah sebanyak 670 ribu ton. "Total pendapatan Rp 123,5 miliar dengan laba Rp 27,77 miliar. Pada Semester tahun ini, laba perusahaan senilai Rp 2,54 miliar dengan pendapatan sebesar Rp13,16 miliar dan volume penjualan sebanyak 62.498 ton," paparnya.

Syamsul menambahkan bahwa keinginan perusahaan atas penundaan rencana akuisisi ini telah melewati sejumlah pertimbangan, antara lain berlakunya UU No. 4 Tahun 2009 yang melarang ekspor komoditas tambang tanpa pengolahan terlebih dahulu paling lambat 10 Januari 2014. Selain itu, tambah dia, pertimbangan lainnya juga terkait dengan belum adanya persetujuan penetapan financial adviser (Mandiri Sekuritas) dari Komisi XI DPR, padahal target akuisisi adalah akhir Juni 2012.

"Ada juga keraguan Wijaya Karya tentang pay back period Proyek Asbuton Ekstraksi, karena hasil due diligence LAPI-ITB menyebutkan, cadangan Asbuton Lawele hanya 6 juta ton dan untuk investasi pabrik aspal ekstraksi memerlukan biaya USD30 juta," katanya.

Laba Kecil

Sedangkan Anggota Komisi XI DPR, Laurens Bahang Dama meminta agar pemerintah pusat menyerahkan PT Sarana Karya (Persero) kepada perusahaan BUMD di Sulawesi Tenggara. Hal ini terkait dengan kecilnya perolehan laba Sarana Karya di Semester I-2012. "Sarana Karya ini keuntungannya kecil sekali. Berikan saja ke BUMD yang ada di Sulawesi Tenggara," katanya.

Laurens mengatakan bahwa sebelum Komisi XI DPR RI memutuskan untuk menyetujui rencana akuisisi ini, pihaknya harus melihat secara utuh mengenai persoalan yang ada di Sarana Karya. "Jangan sampai privatisasi ini membuat perusahaan menjadi tidak lebih kuat. Dan jangan sampai menggali lubang, tutup lubang lagi," ujarnya.

Pernyataan Laurens ini terkait dengan program Kementerian BUMN tentang akuisisi Sarana Karya oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Rencana ini, sudah disetujui Komisi VI DPR pada 15 Desember 2011, namun dalam pelaksanaannya masih menunggu persetujuan Komisi XI DPR.

Perlu diketahui, Direktur Utama Sarana Karya, Syamsul Qamar mengatakan pada Semester I 2012 Sarana Karya hanya mencatat laba sebesar Rp 2,54 miliar dengan pendapatan sebesar Rp13,16 miliar dan volume penjualan aspal Buton sebanyak 62.498 ton. "Kami tidak akan langsung menyetujui (akuisisi) ini. Apalagi Sarana Karya masih ada kontrak-kontrak yang sudah dilakukan dengan China," katanya.

Syamsul mengungkapkan, saat ini pihaknya sudah menandatangani kontrak jangka panjang untuk menjual aspal Buton curah ke China. "Apabila kami menjadi salah satu anak usaha Wijaya Karya, maka kami akan diminta untuk mensuplai aspal ke anak perusahaan lainnya," ujarnya.

Sejauh ini, Syamsul menjelaskan bahwa ada perusahaan swasta yang merupakan anak usaha PT Kapal Api yang menjadi kompetitor Sarana Karya. "Dahulu mereka pernah bekerjasama dangan kami. Mungkin karena mereka sudah dapat juga lahan untuk eksploitasi aspalnya, maka sekarang mereka berjalan sendiri. Tetapi sampai sekarang ini, kelihatannya mereka belum begitu survive," ungkapnya.

Topik Terkait

pt sarana karya utama