Pengawasan Produk Impor di Negara Asal Dinilai Mandul - Produk Tak Berkualitas Banjiri Pasar Domestik

NERACA

Jakarta - Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo) meminta pemerintah meningkatkan verifikasi produk impor di pelabuhan asal negara produsen. Pasalnya, sejauh ini, pengawasan verifikasi di negara asal importir mandul. Akibatnya, banyak produk tak layak edar membanjiri pasar domestik.

“Selama ini pengawasan yang dilakukan badan verifikasi yang ditugasi pemerintah di negara asal importir tidak berjalan dengan baik. Selama ini banyak produk impor yang tidak sesuai dengan kualitas merajai pasar dalam negeri,” kata Ketua Umum Aperlindo, John Manopo, di Jakarta, Kamis (4/10).

Verifikasi produk, menurut John, merupakan syarat utama masuknya barang impor ke suatu negara. “Jika produk tidak sesuai kualitas, seharusnya tidak diperbolehkan dikirim ke Indonesia. Lembaga verifikasi yang ditunjuk pemerintah selama tidak menjalankan fungsinya dengan baik,” paparnya.

Kapasitas produksi lampu nasional, lanjut John, saat ini sudah mencukupi. Namun, impor lampu yang didominasi dari China terus membanjiri pasar dalam negeri. “Permintaan kita tinggi, tapi diisi impor, sehingga kapasitas produksi lampu tidak terpakai (idle capacity),” ujarnya.

John menambahkan, saat ini produsen lampu nasional belum mampu membuat satu jenis komponen, yakni IC (integrated circuit), sehingga harus diimpor dari negara lain, seperti Taiwan. “IC itu untuk mengontrol arus listrik. Harga satu buah IC untuk satu lampu sekitar ratusan ribu rupiah, sedangkan untuk jenis lampu lain bisa mencapai Rp2 juta,” katanya.

Hentikan Impor

Sebelumnya Jhon mengungkapkan impor Produk lampu Hemat Energi (LHE) minta dihentikan terkait kemampuan produsen lokal menggunakan komponen dalam negeri mencapai 27%–60%. Lebih jauh lagi Jhon Manopo, mengatakan hasil survei PT Sucofindo menunjukan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produsen lampu mencapai 27% sampai dengan 60% yakni Chiyoda dari Elektra” katanya.

Mengacu keputusan Departemen Perindustrian perusahaan dapat mengikuti pelaksanaan pengadaan barang-jasa. Jika TKDN mencapai 40persen. Acuan yang dimaksud yakni Permen No.11/M-Ind/Per/3/2006 tentang Pedoman Teknis Penggunaan Produksi Dalam Negeri. Penggunaan TKDN mencapai 60% relatif baik, jika mengacu kehadiran industri LHE pada 2006. “Kami harap adanya kluster industri yakni mengurai satu produk dari hulu ke hilir sehingga komponennya dibuat lokal ” jelasnya.

Dia mengatakan TKDN akan lebih maksimal jika pemerintah mengurangi produk impor. Adanya industri hulu dan hilir komponen lampu akan menekan pengeluaran devisa negara. Menurut dia produsen yangmenggunakan komponen lokal sebesar 25% dapat mengikuti preferensi harga dalam proses pengadaan barang dan jasa. Emapat tahun mendatang penggunaan komponen lokal akan mampu diatas 60%. Pasal dua ayat empatPermen No.11/2006 mengisyaratkan preferensi harga diberikan kepada perusahaan yang memproduksi barang jasa dengan TKDN diatas 25%.

Manopo mengatakan harga LHE dengan menggunakan komponen lokal lebih murah dibanding LHE impor. Dia mengatakan, kalau sudah ada di dalam negeri bea transportasi dari waktu pengiriman relatif cepat harga LHE lokal dapat stabil karena tidak tergantung produk impor. “Penggunaan komponen lokal melindungi konsumen dari kerugian pemakaian” ucapnya.

Komponen lokal yang banyak digunakan produsen LHEantara lain glass tube, plastic part, lead in wire, dan filament, plastic cover atau casing, dan aluminium screw cap.Dia mengatakan hasil survei PT Sucofindo menyebutkan sebesar 14%- 66% komponen LHE berasal dari kandungan lokal. Produsen LHE lokal antara lain PT Sentra Solusi Elektrindo, PT Sinar Angkasa Rungkut, PT Gunawan Elektrindo.

Berdarkan data dari Aperlindo investasi produsen LHE mencapai US$314 juta dengan produksi tahun ini ditargetkan mencapai 148 juta – 160 juta unit. Konsumen LHE dalam negeri mencapai 100 juta unit pertahun. Menurut Manopo bea survei yang dilakukan PTSucofindo terhadap produsen lokal terkait TKDN ditanggung pemerintah. Pelaksanaan survei ucapnya mendorong produsen menggunakan produk lokal.

Diamengatakan standar ISO yang dipakai produsen produsen lampu tidak mengukur TKDN. “Banyak industri kita masih kelas warung dengan adanya survei kami dituntut kearah yang lebih baik.

Penasehat Teknik Strategic Business Unit Pemerintah dan Institusi International PT Sucofindo Yeyeh A. Dimyati mengatakan produk elektronik untuk LHE yang masih impor antara lain kapasitor, resistor, dioda, transistor dan bobbin. “Jika semua komponen ini sudah lokal maka TKDN mencapai 80% katanya.

Dia mengatakan ahli elektronika di Tanah Air akan mampu membuat produk elektronik untuk LHE. Kebutuhan LHE akan meningkat sekitar 120 juta unit tahun ini dan 160 juta pada tahun 2009. Pemerintah katanya kemungkinan akan menghentikan penggunaan lampu pijar karena dinilai boros energi.

Related posts