Industri Kaca Hanya Akan Tumbuh 5% di 2012

Jumat, 05/10/2012

NERACA

Jakarta –Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman memprediksi hingga akhir tahun industri kaca nasional hanya bisa tumbuh 5%. Proyeksi pertumbuhan 5% merupakan target konservatif baik dari sisi produksi maupun penjualan.

“Peningkatan tersebut diperkirakan bisa terealisasi sepanjang perusahaan kaca bisa berproduksi secara teknis maupun ekonomis,” ujar Kepala Unit Kaca Pengaman Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman, Yustinus Gunawan, di Jakarta, Kamis (4/10).

Yustinus menambahkan, permintaan dari sektor otomotif mengalami peningkatan seiring pertumbuhan penjualan mobil pada 2012 yang diprediksi bisa mencapai 1 juta unit. “Produksi 1 unit mobil rata-rata membutuhkan 3,5 meter persegi kaca lembaran, sedangkan rata-rata kebutuhan kaca lembaran untuk 1 unit bus mencapai 20 meter persegi,” tandasnya.

Sebelumnya Yustinus mengungkapkan kalau Industri kaca lembaran dan pengaman dalam negeri mengalami “sesak napas” akibat kekurangan pasokan energi terutama gas. Hingga saat ini, pasokan gas untuk dalam negeri hanya bisa dipenuhi sekitar 50%. “Jelas ini sangat menganggu kestabilan produksi industri kaca,” ujar Yustinus.

Dia memaparkan, kebutuhan gas untuk industri kaca nasional sebesar 33 ribu mmscfd, namun pemerintah hanya bisa memasok setengahnya. Kalau ini dibiarkan berlanjut akan menghancurkan industri kaca dalan negeri. Padahal, saat ini ekspor kaca Indonesia sedang mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Dari total produksi kaca di Indonesia, kira–kira baru mencapai 1,4 juta ton per tahun. Angka ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan negara tetangga lainnya. Dikemukakan, produksi kaca tersebut sekiar 35-40% diekspor ke Selandia Baru, Australia, Jepang, dan negara di kawasan Asean. Sementara sisanya diserap pasar lokal. “Tapi, jumlah tersebut masih bisa untuk ditingkatkan,” ujarnya.

Bahkan, Yustinus memperkirakan pada 2015 mendatang, produksi kaca Indonesia akan mencapai US$1.172,10 miliar. "Ini berarti kita telah melampaui negara-negara produsen kaca di dunia terutama kaca untuk automotif,” ujarnya.

Produk China

Sementara itu, Ketua Assosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Indonesia (AKLI), Samuel Rumbayan, mengungkapkan, industri kaca lembaran nasional terancam serbuan impor produk sejenis dari China, yang masuk ke dalam negeri, menyusul menurunnya permintaan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat akibat krisis ekonomi yang melanda kawasan itu.

"Kami khawatir kalau Eropa dan AS tidak lagi mau membeli kaca dari China maka produksi kaca dari negeri itu akan mencari pasar baruseperti Indonesia yang berpotensi menerima kaca impor," ujarnya.

Pada sisi lain, industri kaca lembaran di dalam negeri sedang menghadapi masalah kenaikan harga gas untuk produksi sebesar 36% sejak akhir tahun lalu. Selain itu, pasokan gas dari PGN masih kurang dari kebutuhan. Komponen biaya gas, kata dia, mencapai 25% dari biaya produksi.Namun, diakui Samuel, ada satu peraturan pemerintah yang membantu menghadang produk kaca lembaran dari China, yang tidak berkualitas, yaitu penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib pada produk tersebut. "Sebelum ada SNI, (kaca apa saja boleh masuk)," ucapnya.