Serbia Jadi Hub Ekspor Kawasan Eropa Tengah

Diversifikasi Pasar Ekspor

Jumat, 05/10/2012

NERACA

Jakarta - Setelah menjajaki pasar Afrika Selatan, kini Serbia menjadi tujuan negara ekspor strategis karena dapat menjadikan negara ini sebagai hub bagi komoditas Indonesia. posisi Serbia di kawasan Eropa Tengah dan Timur (ETT) sangatlah penting, mengingat Serbia telah memiliki perjanjian Free Trade Agreement (FTA) dengan beberapa negara dan kawasan seperti dengan CEFTA, EFTA, Uni Eropa, Rusia, Turki, Kazakhstan, Belarus dan Amerika Serikat.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh menyampaikan, bahwa dengan posisi tersebut tentunya dapat dimanfaatkan bagi perluasan berbagai komoditas ekspor Indonesia melalui jaringan FTA sehingga melalui pertemuan penting ini perlu segera dilakukan tindak lanjut bagi upaya-upaya konkrit yang dapat dilakukan oleh kedua negara.

“Impor dari Indonesia ke Serbia capai US$45 juta, dan kami bawa pengusaha ke sana untuk pertemuan business to business. Terindikasi minat pihak Serbia, terhadap crude palm oil (CPO), serta produk turunannya untuk biofuel, tekstil, produk alas kaki, kopi dan kakao,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Kamis (4/10).

Kementerian Perdagangan berupaya setiap misi dagang yang diterapkan sekarang ini akan jauh lebih mudah dalam melakukan ekspor kalau diawali dengan investasi. Sehingga tidak hanya menjual produk, tetapi juga mulai dengan melakukan investasi meskipun investasi itu kecil.

Tak jauh dari pendapat Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, bahwa prospek Serbia memberikan sinyal yang cukup baik dan terbuka sebagai hub perdagangan minyak sawit untuk kawasan Eropa Tengah. “Jadi nanti masuk ke Serbia lalu didistribusikan ke negara-negara sekitarnya. Sehingga sudah ada langkah-langkah yang kita lakukan untuk itu,” ujarnya.

Bea Masuk

Dia mencontohkan, kasus yang dilakukan India dan China yang menerapkan bea masuk terhadap produk CPO, sehingga untuk menghindarinya maka harus dilakukan investasi di negara-negara tujuan tersebut dengan membuat pabrik refinery menjadi minyak goreng. “Karena China itu dingin, sehingga diperlukan minyak gorengnya, sehingga di sana di refinery kemudian di blend tentunya dijual di pasar China. Jadi langkah-langkah seperti itu sudah kita laksanakan terutama untuk produk andalan kita seperti Kopi, CPO, dan yang lain,” terang Bayu.

Sementara, Ketua Kamar Dagang dan Industri Serbia Milos Bugarin menekankan pentingnya dunia usaha Serbia untuk memperluas kontak bisnis dan mencari model kerja sama yang paling sesuai dalam upaya menghadapi krisis ekonomi. Diharapkan, hubungan bisnis yang dirintis melalui forum bisnis dapat berkembang ke arah kerja sama investasi, kesepakatan konsesi, dan bentuk-bentuk bisnis lainnya.

Total perdagangan Indonesia dan Serbia tahun 2007 sebesar US$34,3 juta, meningkat 63,8% menjadi US$56,2 juta di tahun 2011. Untuk periode Januari-Juni 2012 total perdagangan telah mencapai US$22,7 juta dengan nilai ekspor Indonesia sebesar US$18,8 juta dan nilai impor dari Serbia sebesar US$3,8 juta. Indonesia mengalami surplus perdagangan dengan Serbia sebesar US$15 juta.