Bank BRI Kuasai KUR Nasional

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menguasai 67,67% Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan 93,36% menguasai total debitur KUR, keduanya secara nasional. Direktur Keuangan BRI, Achmad Baiquni, per Juni 2012, kredit KUR BRI tercatat mencapai Rp17,7 triliun yang terdiri dari KUR mikro sebesar Rp12,7 triliun, dan KUR ritel sebesar Rp5 triliun.

Sementara debitur KUR mikro BRI tercatat sebanyak 2 juta nasabah dan KUR ritel 35.200 nasabah. “Untuk kredit mikro per Juni 2012, kami membukukan outstanding sebesar Rp96,6 triliun atau naik 15% dibanding periode yang sama 2011 sebesar Rp84 triliun. Sedang penghimpunan dana mikro naik 22,8% dari Rp90,8 triliun menjadi Rp111,5 triliun,” ujar Baiquni di Jakarta, Rabu (3/10).

Dia menuturkan, pihaknya telah menyetorkan pajak dan dividen sebesar Rp4,3 triliun kepada negara pada semester I 2012. "Pajak yang dibayarkan ke negara ini terdiri dari PPh Badan, PPh Output, dan PPN," tambahnya.

Adapun pajak PPh Badan yang diserahkan BRI ke negara sebesar Rp1,7 triliun, PPh Output Rp923,5 miliar, serta PPN sebesar Rp28,7 miliar. Sementara dividen yang diberikan BRI ke negara sebagai laba 2011 sebesar Rp1,7 triliun. "Jadi total pajak dan dividen BRI yang disetor ke negara selama semester I 2012 mencapai Rp4,3 triliun," katanya.

Per Juni 2012 BRI mencatatkan total aset sebesar Rp461,1 triliun atau naik 24,5% dibanding periode yang sama 2011 sebesar Rp370 triliun. Total pinjaman mencapai Rp304,8 triliun atau naik 14,7% dari Rp265,8 triliun. Total simpanan tumbuh 26% menjadi Rp371,1 triliun menjadi Rp294,6 triliun.

Sebelumnya, BRI tetap menjaga posisi net interest margin (NIM) di level 8,5% hingga akhir 2012 ini. "Kami ingin bertahan di angka dua digit, tapi melihat kondisi cukup berat. Hal itu bisa mengundang pesaing baru untuk datang, sehingga kita mencoba untuk turun lebih dulu supaya pesaing untuk masuk ke bisnis kita pikir-pikir dulu," papar Baiquni, beberapa waktu lalu.

Sementara Direktur Utama BRI, Sofyan Basir, menambahkan pihaknya akan menurunkan NIM sehingga pesaing makin sulit masuk ke sektor yang selama ini ‘dikuasai’ perseroan. Sebagai penggantinya, lanjut Basir, BRI akan memperbesar volume. "Karena itu kita memperbesar jaringan yang sekarang sudah 8.500 kantor," tukas dia.

Menurut Basir, tiap tahun kantor BRI tumbuh 1.000 kantor dalam 2 tahun terakhir. Tujuannya untuk memperluas pasar sebesar-besarnya, meningkatkan omset dengan menurunkan NIM. Langkah penurunan NIM ini juga seiring dengan langkah penurunan suku bunga kredit yang akan dilakukan BRI. Saat ini suku bunga kredit untuk korporasi BUMN sudah 8,5% dan akan bervariasi tergantung risiko dan besarannya.