Ironis, Negeri Agraris Yang "Kecanduan" Impor

Kamis, 04/10/2012

Julukan Indonesia sebagai Negeri Agraris sepertinya layak untuk ditanggalkan. Bagaimana tidak, pasar lokal kini dibanjiri komoditas bahan pangan impor. Bahkan, serbuan produk bahan pangan impor tak hanya menghiasi pasar-pasar moderen. Pasar tradisional yang notabene dulu merupakan miniatur komoditas pangan lokal, kini justru menjadi sasaran empuk produk impor. Produk pangan lokal pun “tergilas” di negeri sendiri. Ironis.

Yang lebih menyedihkan, selama ini Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang kaya akan bahan pangan. Anehnya, meski kaya berbagai sumber bahan makanan, tapi masih membutuhkan banyak bahan dari luar negeri. Alasan tersebut yang menjadikan negeri ini kecanduan mengimpor bahan pangan. Padahal, bahan-bahan pangan yang dibeli dari luar negeri itu juga bisa diproduksi di dalam negeri.

Lihat saja, tanpa disadari, bahan pangan yang digunakan sebagai pendukung industri makanan dan minuman hampir 80% masih diimpor. Negara terbanyak yang memasok bahan pangan tersebut adalah Eropa, Amerika Serikat dan China. Sangat disayangkan, sebenarnya Indonesia memiliki raw material yang sangat banyak.

Hanya saja, karena tidak adanya jiwa industriawan, maka untuk membuat industri bahan pangan senilai Rp40-50 miliar untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman jarang sekali yang mau mengembangkannya.

Wakil Ketua Umum Bidang Program dan Kerjasama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Lena Prawira mencontohkan, bahan pangan yang paling banyak diimpor adalah terigu dan gandum.

Sementara, untuk produk bahan tambahan pangan, meliputi sekuestran pewarna sintetik, pengeras, pengawet, antioksidan, pengatur keasaman, penyedap atau penguat rasa, pemutih, pemanis. Untuk produk lokal hanya pemanis saja yang cukup memiliki peran, namun itu hanya sebatas gula tebu, bukan pemanis buatan. Sementara sisanya impor lebih mendominasi.

Mayoritas pengusaha memilih impor bahan makanan karena belum ada yang dapat diproduksi dalam negeri. Sementara produk dari luar negeri menawarkan barang dengan pilihan lebih banyak. Bila pabrik lokal menyediakan, harus bersaing dengan produk impor dari segi kualitas dan harga. Padahal jika saja bahan baku pangan bisa diproduksi dan diperoleh dari dalam negeri, harga produk pangan di Indonesia bisa turun sampai kisaran 10-20%.

Pemerintah seharusnya dapat membuka keran lebih lebar bagi para investor yang ingin mengalokasikan dananya untuk membangun pabrik bahan pangan. Langkah itu akan banyak membantu para pengusaha makanan dan minuman di Tanah air. Tentu, jika ada produksi dalam negeri itu bisa lebih memberikan kepastian harga bahan pangan.

Lena juga mengakui, masih minimnya investor untuk mendirikan pabrik bahan pangan agar industri makanan dan minuman tidak bergantung dengan impor, sehingga faktor ekonomis menjadi alasan. "Ada beberapa pelaku usaha makanan dan minuman lebih memilih beli, ketimbang membuat pabriknya karena pertimbangan lebih ekonomis," terang dia kepada Neraca, kemarin (3/10).

Dia juga mengatakan, industri pangan dalam negeri membutuhkan dukungan dari pemerintah baik sisi teknologi, insentif, pengurangan pajak atau infrastruktur.

Harus diakui, sejauh ini belum ada keberpihakan dari pemerintah untuk pengembangan industri bahan pangan tersebut. Sungguh mengherankan, Indonesia yang kaya akan bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penolong untuk pangan. Akan tetapi, pemanfaatan dan pengembangan bahan-bahan tersebut masih kurang.

Sementara Direktur Southeast Asian Food & Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor Purwiyatno Hariyadi menilai, seharusnya Indonesia mampu untuk membuat pabrik yang memproduksi bahan pangan. Karena, dari semua segi Indonesia sangat siap, mulai segi bahan mentah berlimpah hingga segi tenaga ahli itu juga bukan hal yang sulit, ditambah keunikan khusus karena letak Indonesia yang merupakan daerah tropis.

Seperti halnya minyak sawit dan minyak buah merah yang ternyata bisa dikembangkan menjadi sumber karoten. Banyak negara sudah mengembangkannya. Tetapi di Indonesia, belum ada yang mau mengembangkannya.

Menurut Purwiyanto, investor masih banyak yang tidak tertarik untuk mengembangkannya, kemungkinan rendahnya investasi itu dikarenakan masih sedikit pengetahuan yang dimiliki pengusaha Indonesia terkait bidang ini. Keduanya, belum mengetahui betapa besarnya keuntungan bisnis ini. “Atau memang masih banyak yang berpikiran sebagai pedagang, tidak mau menciptakan industri," tegas dia.