Aksi Mogok Buruh Butuh Perhatian Serius

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta- Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan menyatakan, aksi mogok buruh di berbagai daerah pada Rabu (3/10) perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pengusaha.

"Ini harus dipandang sebagai manivestasi perjuangan buruh untuk menggapai kesejahteraan hidup secara layak dan bermartabat. Tuntutan penghapusan sistem kerja kontrak dan alih daya atau 'outsourcing', pemberlakuan jaminan sosial, maupun penolakan upah murah memerlukan perhatian serius pengusaha dan pemerintah," katanya seperti dikutip Antara.

Menurut Syahganda, pengusaha, khususnya yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), tidak boleh antipati apalagi mengabaikan gejolak aksi buruh.

Ia menyesalkan selama ini pihak Apindo cenderung bereaksi berlebihan dengan menyalahkan aksi dan pemogokan buruh, selain menggunakan alasan bahwa akibat aksi itu dapat merugikan iklim investasi dunia usaha di Indonesia, bahkan diindikasikan ke arah hancurnya peluang investasi tersebut.

"Alasan itu kerap digembar-gemborkan Apindo untuk memengaruhi pemerintah sehingga keberadaan nasib buruh tidak mendapatkan pemihakan secara jelas apakah dari pengusaha atau pemerintah," ujar Syahganda.

Dia menegaskan, arus perkembangan investasi ekonomi di dalam negeri tidak berhenti hanya lantaran aksi buruh apalagi fenomena aksi tuntutan yang digalang buruh terjadi pula di negara-negara maju.

"Iklim investasi usaha hanya bisa hancur dengan ketidakpastian hukum dan budaya suap di lingkungan pemerintah,” tegas Syahganda.

Oleh karena itu, katanya, upaya menyejahterakan buruh mutlak dilakukan demi terbangunnya dunia usaha yang bisa mengalami kemajuan seiring meningkatnya martabat sosial pekerjanya serta untuk menjamin perkembangan investasi yang tidak mengeksploitasi nasib para buruh.

Syahganda menambahkan dalam 10 tahun terakhir ini rata-rata pendapatan riil buruh tidak mengalami kenaikan berarti sehingga membuat kehidupan buruh semakin gelisah. Di sisi lain, akumulasi keuntungan dan kepemilikan modal para pengusaha semakin tinggi sehingga semakin timpang dengan kenyataan para buruh yang tidak sejahtera.