BRI Batal Akuisisi Dua Perusahaan Sekuritas

Performance Keuangan Buruk

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta – Rencana PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengakuisisi dua perusahaan sekuritas batal dilakukan. Alasannya, buruknya kondisi keuangan dua perusahaan sekuritas tersebut menjadi pemicunya. Padahal BRI berencana menguasai di atas 50%.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BRI, Sofyan Basir di Jakarta, Rabu (3/10). Dia mengatakan, pembatalan akuisisi ini karena pertimbangan buruknya keuangan kedua perusahaan sekuritas yang menjadi target akuisisi. "Masih ada masalah di internal mereka secara finansial, sehingga perusahaan-perusahaan itu belum bisa diakuisisi," ujarnya.

Sebelumnya, Sofyan sempat mengumbar janji bila rencana akuisisi dua perusahaan sekuritas terseut akan dilakukan pada kuartal IV 2012. Dia juga belum mau menyebutkan dua perusahaan yang menjadi target akuisisi. Berdasarkan rumor di pasar, dua sekuritas yang akan diincar BRI adalah PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities.

Setor Dividen Rp 4,3 Triliun

Sementara Direktur Keuangan BRI, Achmad Baiquni mengungkapkan, sepanjang semester I-2012 pihaknya telah menyetorkan pajak dan dividen sebesar Rp 4,3 triliun kepada negara ."Pajak yang dibayarkan ke negara ini terdiri dari PPh Badan, PPh Output, dan PPN,"katanya.

Baiquni juga menjelaskan, pajak PPh Badan yang diserahkan BRI ke negara sebesar Rp1,7 triliun, PPh Output Rp 923,5 miliar, serta PPN sebesar Rp 28,7 miliar. Sementara dividen yang diberikan BRI ke negara sebagai laba 2011 sebesar Rp 1,7 triliun. "Jadinya total pajak dan dividen BRI yang disetor ke negara selama semester I 2012 mencapai Rp 4,3 triliun,"ungkapnya.

Dia juga menuturkan Per Juni 2012 BRI mencatatkan total aset sebesar Rp 461,1 triliun atau naik 24,5% dibanding periode yang sama 2011 sebesar Rp 370 triliun. Total pinjaman mencapai Rp 304,8 triliun atau naik 14,7% dari Rp 265,8 triliun. “Total simpanan tumbuh 26% menjadi Rp 371,1 triliun menjadi Rp 294,6 triliun,” jelasnya.

Baiquni juga mengatakan bahwa BRI menguasai 67,67% kredit KUR secara nasional. Sedangkan dari sisi debitur, BRI menguasai 93,36% dari total debitur KUR nasional. Per Juni 2012 kredit KUR BRI tercatat mencapai Rp 17,7 triliun yang terdiri dari KUR mikro sebesar Rp 12,7 triliun, dan KUR ritel sebesar Rp 5 triliun.

Sementara debitur KUR mikro BRI tercatat sebanyak 2 juta, dan KUR ritel 35.200. Untuk kredit mikro per Juni 2012, BRI membukukan outstanding sebesar Rp 96,6 triliun atau naik 15% dibanding periode yang sama 2011 sebesar Rp 84 triliun. “Sedangkan penghimpunan dana mikro naik 22,8% dari Rp 90,8 triliun menjadi Rp 111,5 triliun,” tambahnya. (mohar)