ADB Dukung Industri Asuransi Beralih ke Obligasi

Ciptakan Kompetisi

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) cabang Indonesia menilai momentum pergeseran investasi industri asuransi dan tabungan pensiun, dari saham ke obligasi (Surat Utang Negara/SUN) atau Surat Berharga Negara (SBN), merupakan langkah tepat. Pasalnya, hal tersebut membuat pasar obligasi Indonesia semakin berkembang dan menciptakan kompetisi.

Ekonom Senior ADB, Edimon Ginting mengatakan, dirinya sangat mendukung karena sektor asuransi seharusnya memegang aset berjangka panjang. “Bond (obligasi) adalah aset yang sangat tepat. Apalagi, liabilitasnya sudah match dengan aset mereka,” ujar dia kepada Neraca di Jakarta, Rabu (3/10).

Dengan demikian, lanjut Edimon, nantinya akan membuat pasar obligasi (bond market) semakin berkembang. Dia mengakui, saat ini suku bunga perbankan di Indonesia sangat tinggi karena dominasi dari sektor perbankan. Munculnya pasar obligasi ini akan tercipta kompetisi, khususnya dari segi harga.

“Size bond kita hanya 15% dari GDP. Kalah dua kali lipat dibandingkan Filipina yang 36%, apalagi Malaysia sampai 99% dari GDP. Makin besar size-nya makin bagus karena ada kompetisi dalam menyediakan financing. Yang pasti nggak ada patokannya harus berapa persen dari GDP,” terangnya.

Lalu sisi lainnya ada perbaikan dari maternitas. Artinya, selama ini loan (pinjaman) perbankan sifatnya jangka pendek. “Paling lama tenornya 5 tahun. Begitu bond berkembang, itu bisa mem-finance kebutuhan-kebutuhan sektor produktif, seperti pembiayaan infrastruktur, bertenor di atas 5 tahun. Kan, bond itu stabil,” jelasnya.

Edimon juga menambahkan, baik asuransi maupun tabungan pensiun, mesti terus didorong agar menempatkan aset-asetnya untuk investasi jangka panjang. Seperti diketahui, alasan perpindahan investasi ini juga didukung oleh faktor lain seperti bunganya yang tinggi, aman, serta dijamin pemerintah.

Prinsip hati-hati

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Djoni Rolindrawan menyatakan, penempatan investasi dana pensiun pada obligasi atau SUN, lebih kepada prinsip kehatian-hatian. Hal tersebut karena investasi yang dikelolanya merupakan investasi jangka panjang sehingga lebih aman untuk ditempatkan di sana daripada pasar saham.

“Supaya bisa lebih memenuhi janji kepada nasabah, sehingga pengelolaan dana pensiun lebih konservatif,” ungkap Djoni, kemarin. Dia mengatakan, meskipun yield saham lebih tinggi dibandingkan obligasi, namun pergerakan IHSG di pasar modal yang mempengaruhi perdagangan di bursa tidak bisa diprediksikan dan terlalu berisiko.

Maka dari itu, apabila akan ada penambahan untuk berinvestasi di saham kemungkinannya sangat sedikit atau sekitar 5%. Total dana pensiun yang dikelola sampai dengan akhir Agustus 2012 sebesar Rp125 triliun. Menurut dia, separuh dari portofolio investasi dana pensiun atau 50% itu terdapat di obligasi.

“Proporsi masing-masing sekitar 26% untuk bligasi korporasi dan 23% ditempatkan di SUN. Sementara untuk investasi berbentuk saham hanya sebesar 20%, dan reksa dana 4%, sisanya ditempatkan di deposito dan tanah bangunan,” kata dia.

Sebagai informasi, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim mengatakan, saat ini industri asuransi jiwa cenderung akan mengarahkan investasinya pada obligasi atau SUN.

“Itu karena kondisinya sangat fluktuatif, sehingga kami memilih instrumen yang lebih aman. Nah, SBN, SUN atau obligasi jauh lebih aman karena dijamin pemerintah, ketimbang saham, ” ujar dia di Jakarta, pekan lalu.

Menurut Hendrisman, saat ini risiko berinvestasi di pasar saham tergolong cukup tinggi. Akibatnya, terjadi penurunan nilai investasi industri asuransi jiwa di pasar saham. Tercatat kuartal II-2012, investasi di saham tercatat turun 32,3% menjadi Rp52,87 triliun dari periode yang sama 2011 sebesar Rp78,11 triliun.

Sementara investasi di obligasi pemerintah terjadi kenaikan sebesar 2.171,3% menjadi Rp24,13 triliun dari periode yang sama 2011 sebesar Rp1,06 triliun. Sedang investasi di obligasi swasta dan Medium Term Notes naik 293% menjadi Rp24,11 triliun dari Rp6,13 triliun, serta di surat berharga yang diterbitkan atau dijamin Bank Indonesia naik 73,42% menjadi Rp3,57 triliun dari Rp2,06 triliun pada periode yang sama 2011.