Tekanan Berlanjut, Produsen Sawit Makin Terpukul - Harga CPO Masih Terkoreksi

NERACA

Jakarta –Belum adanya kepastian perbaikan ekonomi global terus memberikan sentimen negatif terhadap harga komoditas dan termasuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Pasalnya, investor masih memilih sikap wait and see.

Menurut analis Samuel Sekuritas Indonesia Sally Agustina, saham komoditas, khususnya minyak sawit mentah diprediksi kembali akan mengalami tekanan seiring dengan koreksi signifikan pada harga CPO dunia, “Harga CPO kembali terkoreksi signifikan sekitar 8,5% ke level 2.255 ringgit Malaysia per ton," katanya di Jakarta, Rabu (3/10).

Sebelumnya, analis Danareksa Sekuritas, Gabriella Maureen Natasha mengatakan, hantaman yang dirasakan emiten sawit sesuai dengan perkiraan. Sejak awal tahun, permintaan CPO global tidak bergairah akibat krisis Eropa. Padahal, Eropa salah satu kawasan dengan permintaan CPO tertinggi.

Hal itu diperparah penurunan permintaan dari negara lain terutama China dan India. Dua negara yang juga tercatat sebagai penyerap utama CPO global membatasi permintaannya karena ekonomi melambat. Kondisi tersebut tentu menekan kinerja saham emiten CPO. Harga saham emiten CPO memang sudah fluktuatif sejak awal tahun.

Alhasil, makin terkoreksinya harga CPO dunia rupanya juga memangkas kinerja emiten CPO. Tercatat sepanjang semester I-2012 banyak perusahaan CPO mencatatkan kinerja keuangan melorot. Sebut saja, PT London Sumatra Indonesia (LSIP) mencatatkan laba periode berjalan semester I 2012 turun 27,9% menjadi Rp 639 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 886,4 miliar.

Departemen Komunikasi LSIP, Anggoro Santoso mengatakan, penurunan laba perseroan salah satunya disebabkan penjualan perseroan yang turun 6,4% menjadi Rp 2 ,23 triliun pada semester pertama 2012 dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,38 triliun.

Hal yang sama juga dialami PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Pasalnya, perseroan mencatatkan penurunan penjualan lebih dari 10% pada semester pertama tahun ini. Direktur Utama UNSP, Bambang Arya Wisena pernah bilang, terjadinya penurunan harga yang signifikan secara otomatis menurunkan penjualan dan tentunya akan mengurangi laba perseroan. “Karena itu di tahun ini akan dijadikan perseroan sebagai tahun konsolidasi atau penambahan lahan baru sampai dengan akhir tahun ini,”ujarnya.

Meskipun demikian, pihaknya saat ini menjadi lebih berhati-hati karena adanya rencana beberapa negara asia untuk mengurangi volume ekspor, di mana hal itu merupakan salah satu hasil dari pertemuan 3 negara penghasil karet alam terbesar di dunia, yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Kondisi yang sama juga dirasakan PT Sampoerna Agro Tbk. Dimana perseroan hanya mencetak penjualan bersih Rp 1,39 triliun, menyusut 18,76% dibandingkan semester I-2011 senilai Rp 1,71 triliun. Penurunan penjualan berefek negatif ke laba bersih perusahaan. Di akhir Juni 2012, laba bersih Sampoerna Agro menurun 57,92% year-on-year (yoy) menjadi Rp 149,88 miliar.

Kepala Hubungan Investor Sampoerna Agro Michael Kusuma menjelaskan, penurunan kinerja keuangan tak terlepas dari mandeknya volume dan harga rata-rata penjualan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Di paruh pertama 2012, Sampoerna hanya memproduksi 134.999 ton CPO, turun 24,3% dari periode sama tahun lalu.

Tekanan hebat juga dirasakan PT Astra Agro Lestari Tbk. Di semester I-2012, laba bersih Astra Agro turun 24,51% menjadi Rp 958,61 miliar. Penurunan laba bersih cukup disayangkan mengingat pendapatan Astra Agro masih tumbuh 6,61% yoy menjadi Rp 5,65 triliun. (bani)

Related posts